Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Tidak ada yang aneh
dengan dirinya. Dia perempuan matang, berusia lima puluh tahun, pekerja keras,
pengurus rumahtangga yang hebat, sangat sayang pada dua anak laki-lakinya yang
berangkat dewasa, selalu memenuhi semua kebutuhan mereka, sangat lembut, santun
dalam bertutur kata, dan…cantik. Secara keseluruhan, dia bisa disebut ibu yang
sempurna. Kejanggalan hanya akan terlihat bila mendengar dan membaca kisah
kelam masa lalunya. Kisah yang secara perlahan terkuak dari sebuah diary kusam
hitam yang tanpa sengaja terbaca oleh anak sulung perempuan itu.
Sang anak terkesiap, di ruang benaknya ia tak pernah menduga secuil pun bila kisah itu menjadi sedemikian dahsyat hingga menggetarkan jiwanya. Kisah itu sangat rinci dan lengkap, ditulis dengan rapi, kalimat rata tanpa cacat. Tiap tanggal, jam, bulan, tahun, bahkan menit, tertera dengan jelas. Ada penuturan mengharu biru, gembira, trenyuh dan…binal. Ya, kata yang terakhir itu seharusnya tidak ditulisnya dengan gamblang dan jelas. Seharusnya perempuan itu mengubur sisi ini. Seharusnya kisah itu hanya kenangan yang disimpan rapat-rapat, cuma dia sendiri yang tahu.
Tapi ini tidak. Sang putera duduk terhenyak tatkala membaca baris demi baris kalimat yang ada di situ. Tiap kalimat bagai ribuan luka yang menganga yang siap menggempur pertahanan emosi siapa saja yang membacanya. Bahkan, ada bagian-bagian tertentu yang tak kuasa untuk dibaca puteranya. Buku diary itu benar-benar menjadi bom waktu, bom yang siap meletus kapan saja dan dibaca oleh siapa saja.
Sang anak terkesiap, di ruang benaknya ia tak pernah menduga secuil pun bila kisah itu menjadi sedemikian dahsyat hingga menggetarkan jiwanya. Kisah itu sangat rinci dan lengkap, ditulis dengan rapi, kalimat rata tanpa cacat. Tiap tanggal, jam, bulan, tahun, bahkan menit, tertera dengan jelas. Ada penuturan mengharu biru, gembira, trenyuh dan…binal. Ya, kata yang terakhir itu seharusnya tidak ditulisnya dengan gamblang dan jelas. Seharusnya perempuan itu mengubur sisi ini. Seharusnya kisah itu hanya kenangan yang disimpan rapat-rapat, cuma dia sendiri yang tahu.
Tapi ini tidak. Sang putera duduk terhenyak tatkala membaca baris demi baris kalimat yang ada di situ. Tiap kalimat bagai ribuan luka yang menganga yang siap menggempur pertahanan emosi siapa saja yang membacanya. Bahkan, ada bagian-bagian tertentu yang tak kuasa untuk dibaca puteranya. Buku diary itu benar-benar menjadi bom waktu, bom yang siap meletus kapan saja dan dibaca oleh siapa saja.
***
Awal Juni di tahun saat perempuan itu remaja, di jam
yang awal, menit yang ke sepuluh, dan bulan ke tiga, perempuan itu menuliskan
kisah pilunya. Tulisan yang ditandai basahnya buku diary itu dengan air mata,
benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang ia tampilkan pada puteranya. Di
sana, di kamar yang sepi, di lorong waktu, tak ia nyana, ia diperkosa oleh sang
paman, adik ayahnya. Pemerkosaan itu terjadi berulang-ulang, sehingga
beberapakali ia menggugurkan kandungannya. Tatkala sang paman menikah, dan lelaki
itu pindah ke kota besar, kisah mereka berlalu tanpa seorang pun tahu. Perempuan
itu menyimpannya menjadi kenangan yang pekat dan teramat pahit.
Jakarta
kota yang dituju tampaknya semakin dalam menyeruak ke diri perempuan itu.
Pergaulan bebas dan narkoba mulai direguk. Merasa diri sudah tak bermakna,
perempuan cantik berkulit bersih dengan gurat wajah ayu nan exotic, menggiring
dirinya berkenalan dengan seorang pemuda Ambon peranakan China. Mereka memadu
kasih, dan sang pemuda yang ‘junkies’
memperkenalkannya pada heroin. Perkenalan ini pada akhirnya menggiring mereka
menjadi ‘junkies’ bersama-sama, sang perempuan pernah over dosis dan menjadi bandar
narkoba demi kekasihnya. Ketika si pemuda terdeteksi HIV lalu akhirnya
meninggal, perempuan itu termenung dalam luka. Ia frustasi, ia kecewa dan
hampir saja melarungkan dirinya dalam nestapa narkoba yang hampir tak
tertahankan. Untung, ya masih untung ia selamat, begitu pun virus HIV, penyakit
itu tidak bersarang di tubuhnya.
Kisah
yang kelam dan pekat entah mengapa kembali dijalaninya. Masih dalam usia
remaja, ia telah berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain, bahkan ia sempat
pula tinggal bersama seorang pria Jerman. Lelaki ini memeliharanya selama tiga
tahun, dan selama tiga tahun itu ia telah menghasilkan satu anak laki-laki yang
kemudian dibawa ‘suami’ Jermannya.
Buku
diary itu kian bergetar di tangan sang putera. Baris demi baris kalimat yang
tertera di tiap halaman, bagai mata pisau yang siap menancap ulu hatinya. Air
mata mengambang di mata pemuda itu. Lalu, antara percaya dan tidak, ia terus
membuka halaman demi halaman, di ruang sanubarinya ada selaksa rasa ingin tahu
yang bersemayam, ia semakin ingin mengikuti kisah yang ada di dalamnya.
Tahun
ke lima, menit ke tiga puluh, jam ke dua, hari ke lima, bulan ke tujuh, perempuan
itu hamil lagi. Usianya menginjak dua puluh tiga tahun. Entah berapa lelaki
yang telah menidurinya, karena ia sendiri tak bisa menjelaskan siapa lelaki
terakhir yang telah menanam benih di rahimnya. Kisah cinta singkat ini
dijalaninya tatkala ia menjadi pengamen jalanan. Di sana, di lorong gelap
stasiun kereta api, tatkala malam menjelang, ia digilir oleh para pengamen itu
tanpa waktu yang jelas. Ia menjalani hidupnya di sana karena kabur dari rumah
dan tak mau kembali lagi. Anak itu akhirnya diserahkan ke sebuah panti asuhan
dan diangkat anak oleh sebuah keluarga yang tak diketahui keberadaannya.
Kisah kelam dalam diary kemudian berlanjut, ini terjadi di tahun ke tujuh, di waktu dan menit yang berbeda, dan bulan yang ke delapan, di saat perempuan itu berusia dua puluh lima tahun. Kekelaman dalam kisah yang tertera di diary itu tak sepekat dalam kisah-kisah sebelumnya. Perempuan itu berkenalan dengan seorang laki-laki tampan, bertubuh tegap, dengan rambut ikal yang lebat. Perkenalan singkat di sebuah klab malam lalu berlanjut. Laki-laki itu mengajaknya menikah, mengajak ia untuk lepas dari pekerjaannya sebagai penari telanjang dan menggiringnya ke altar untuk dinikahi.
Kisah kelam dalam diary kemudian berlanjut, ini terjadi di tahun ke tujuh, di waktu dan menit yang berbeda, dan bulan yang ke delapan, di saat perempuan itu berusia dua puluh lima tahun. Kekelaman dalam kisah yang tertera di diary itu tak sepekat dalam kisah-kisah sebelumnya. Perempuan itu berkenalan dengan seorang laki-laki tampan, bertubuh tegap, dengan rambut ikal yang lebat. Perkenalan singkat di sebuah klab malam lalu berlanjut. Laki-laki itu mengajaknya menikah, mengajak ia untuk lepas dari pekerjaannya sebagai penari telanjang dan menggiringnya ke altar untuk dinikahi.
Lima
tahun mereguk kasih, hidup tenang dan terhindar dari hingar-bingarnya
lampu-lampu spotlight, menjadikan
perempuan ini jinak dan akhirnya ia melahirkan dua anak laki-laki yang tampan.
Tepat di bulan ke sepuluh, di tanggal sepuluh, jam sepuluh dan menit yang ke sepuluh, hampir lima tahun
lebih pernikahan mereka, sang karma datang menghampiri dan merebut semua
kebahagiaan dari tangan perempuan itu. Lelaki tampan yang menjadi suaminya
direbut perempuan kelab malam nan elok, segar dan bertubuh bak gitar Spanyol.
Perempuan
itu kembali mengisi diarynya, kali ini bekas titik-titik air mata lebih tajam
luruh ke permukaan buku diary itu, tetes air mata membuat beberapa huruf buyar.
Dan si perempuan berjanji untuk tidak kembali ke jalan kelam yang dulu pernah
ditempuhnya. Di tahun ke lima belas, di jam yang ke sepuluh, di menit yang ke sembilan,
di bulan yang ke enam, ia menulis rencana-rencananya setelah sang suami terbang
ke pelukan perempuan pesaingnya. Ia alih profesi, ia menjadi kuli cuci pakaian,
pembantu rumahtangga jam-jaman, pedagang kue keliling dan pengasuh balita yang
juga jam-jaman. Semua dilakukannya demi kedua anaknya. Perempuan ini tak
mengeluh. Wajah cantiknya tersimpan dalam tempaan waktu dan masa yang berputar.
“Buku
diary itu adalah saksi sejarah mengapa kulakukan semua ini.” Katanya pada anak lelakinya.
“Bila waktu bisa diputar, aku ingin hidupku tidak begitu skenarionya. Aku ingin melebur sisi gelap itu bersama rentang waktu yang dulu pernah kujalani.”
“Bila waktu bisa diputar, aku ingin hidupku tidak begitu skenarionya. Aku ingin melebur sisi gelap itu bersama rentang waktu yang dulu pernah kujalani.”
“Tapi
waktu tak bisa diputar, Ibu.”
“Ya,
waktu tak bisa diputar. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun Ibu
bahagia…”
“Bahagia?
“Ya,
Ibu bahagia karena memiliki kalian berdua.”
Namun anak lelaki perempuan itu masih penasaran. Ia belum terpuaskan, ia belum menemukan apa yang dicarinya. Pada bab terakhir, di tahun ke dua puluh lima, tepat di jam dua belas malam, pada bulan yang sama, di situlah jantung lelaki yang mulai tampil dewasa ini berpacu lebih cepat lagi. Di situ tertera apa yang dicarinya. Di buku diary itu tertulis kisah luar biasa yang menjadi penyebab jalan hitam seluruh kisah hidup perempuan itu, perempuan yang dipanggilnya ibu…
***
Tahun
ke sembilan, tanggal lima, bulan ke lima, jam dua pagi, menit ke sepuluh. Aku
melihat ayah memukuli Ibu habis-habisan, ibu berteriak minta tolong. Dari kamar
yang tertutup, aku tidak tahu apa yang terjadi, suara lolongan permintaan
tolong ibu terdengar hingga ke kamarku dan adik-adikku. Peristiwa ini terjadi
berulang-ulang. Ayah yang ringan tangan, pemabuk, suka main perempuan, dan
memiliki beberapa perempuan simpanan, menjadikan ibu bagai sansak tinju
pelampiasan rasa kesalnya. Kami menutup telinga, penyiksaan itu terus
berlangsung selama bertahun-tahun.
Aku kesal. Ibu yang lemah semakin tak berdaya, ia sama sekali tak memiliki kekuatan untuk melawan ayah. Ia takut bila suatu saat ayah menceraikannya. Ya, aku tahu ibu sangat mencintainya. Ayahku yang tampan, pengusaha kaya dan memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja, adalah kekuatan yang sangat dahsyat dan tak bisa dilawan ibu. Aku geram, aku meradang. Kulihat ada ketidakadilan di sini. Ibu yang lemah, memberikan seluruh tubuh dan jiwanya untuk ditindas oleh laki-laki yang kupanggil ayah. Laki-laki yang menanamkan benih di rahim ibuku adalah manusia bertopeng yang sesungguhnya di dalam topeng itu tersimpan sesosok raut yang kejam dan sangat biadab.
Jiwaku
terobek, batinku meronta. Aku berjanji untuk membalas semua derita ibuku dengan
pukulan telak yang mencoreng-moreng
harga dirinya, martabatnya dan reputasinya. Seperti tulisan dalam
diary-diary sebelumnya, di sana kulakukan semuanya, ya semuanya tanpa sisa.
Kubuat malu ayahku, kujerat pamanku sendiri dengan rayuan nakalku hingga ia
memerkosaku. Kubuat ayah tak berani menampakkan diri di muka umum, kubuat
namanya tercemar sehingga ia menarik diri dari kehidupan masyarakat. Aku,
puteri tertuanya, melakukan semua itu untuk membalaskan sakit hati ibu selama
berpuluh-puluh tahun, kulakukan semua ini untuk membalas dendam jasad ibuku
yang dibunuh ayah secara perlahan melalui psikis maupun jasmani.
“Apakah
kakek tahu semua ini?”
“Ya.
Ia terpuruk dalam derita yang diciptakan Ibumu dan dirinya sendiri.”
“Sekarang,
di mana Kakek?”
“Di
rumah sakit jiwa.”
“Ibu puas?”
“Tak
ada kata puas dalam hidup ini. Dalam usiaku yang setengah abad, hanya
penderitaan yang kurasakan. Aku mahluk yang hina, aku telah tercerabut dari
harkatku sebagai manusia. Aku tahu, ribuan bahkan jutaan dosa telah bersemayam
di tubuhku. Dosa-dosa itu kubuat dengan
dendam dan trauma yang terus membayangi tiap langkah hidupku. Ya dosa yang
sangat menjijikkan untuk kukenang.”
“Tidak
demikian Ibu. Jangan kenang dosa-dosa itu lagi. Tuhan maha pengampun. Sehitam
apapun masa lalu Ibu, kau tetap ibuku.
Ibu yang kukasihi…”
***
Malam
sunyi, dingin menggigit, gemerisik dedaunan terdengar saling bergesek, kelepak kelelawar melayang terbang di hitamnya
cakrawala. Tahun ke lima puluh lima, bulan ke dua belas, hari ke tujuh, jam ke
sepuluh dan menit ke dua puluh, di atas pembaringan perempuan itu menghapus air
matanya. Semua telah berakhir, semua yang yang hitam tak selalu hitam, diary
itu ditaruh sang putera di sebuah kotak kayu tua berwarna coklat muda. Sang
putera kemudian membakarnya hingga menjadi abu yang semuanya juga berwarna
abu-abu…
Depok, Maret 2011
Labels:
Cerpen
|
1 comments
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam
wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari
sesosok mahluk yang bisa
mencintaiku tanpa menoleh ke belakang,
tanpa meneliti dengan cermat segala hal
dalam lekuk tubuhku, dalam benak akal
sehatku, dalam hati dan perasaanku.
Aku adalah aku, mahluk Tuhan yang patut dicintai dan mencintai. Aku tetaplah aku meski semua fatamorgana telah tercipta untukku. Aku akan selalu menghapus air mata yang mengambang lemah di kedua pipiku. Aku akan selalu berkata, oh derita…pergi…pergilah kau dari sisiku.
Itulah aku. Dan aku tetap seperti aku apa adanya. Aku menerima cibiran dan pandang sinis dengan senyum getir. Karena sesungguhnya aku adalah sosok yang terus berjalan dalam kegetiran itu sendiri. Aku menerima semuanya dengan pasrah, sepasrah wujudku yang dirongrong beragam virus ganas yang perlahan-lahan melemahkan seluruh sendi dan sel-sel di tubuhku. Aku sadar sakratul maut berjalan perlahan mengikis hari-hari yang setia menemaniku. Aku sadar, aku mengutuk dan menyesali diriku, mengapa…mengapa semua ini menimpaku. Virus-virus itu kini entah telah menyebar kemana, karena sebelum aku tahu dia bersemayam di tubuhku, aku telah mengencani banyak lelaki.
Aku tahu dosaku terus menumpuk dan menumpuk. Akan tetapi…aku tak kuasa untuk merintanginya. Dan ketika lelaki bernama Pram itu datang dengan cintanya yang tulus, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuatnya menderita. Dia adalah lelaki terkasih yang membuatku berharga sebagai wanita, sebagai manusia, sebagai mahluk Tuhan yang ingin mencintai dan dicintai. Pram…mengenang nama itu, air mata membasahi pipiku. Dia datang dengan setumpuk cinta untukku.
“Aku tidak peduli siapa dirimu, cinta telah menggiringku kepadamu…” katanya jujur sekaligus naif.
Aku meradang. Ingin kutolak semua keindahan yang telah ia berikan. Namun aku tak kuasa. Tatkala ia melamar dan memintaku untuk menemui orangtuanya, batinku menangis.
“Apa yang membuatmu yakin sehingga kau begitu ingin menjadikanku isterimu, Pram?” tanyaku.
“Kamu cantik, kamu mencintaiku, dan…kamu baik,” katanya tulus.
Aku terdiam. Kucari makna di balik kalimat pujiannya. Apakah lelaki ini bodoh? Pikirku. Matanya yang polos tidak menyiratkan beragam dusta, cibiran atau jebakan. Aku mulai menyukai apa yang ada pada dirinya. Aku merasa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang benar-benar manusiawi. Dia berbeda dengan puluhan laki-laki yang pernah kukencani.
“Aku sungguh mencintaimu. Kita akan hidup bahagia,” katanya meyakinkan.
Aku tertawa getir. Pram… Aku tidak berani berjanji. Aku hanya berani menikmati saat-saat indah yang kauberikan, meski hanya untuk sesaat saja. Aku tahu kau meradang tatkala kutolak lamaranmu, kau berlalu bagai singa yang terluka. Kenyataan itu memang membuatku merintih pilu.
Di kamarku, aku merenungi takdirku. Kulihat diriku di depan kaca. Inikah aku? Dalam wajah cantikku tersembul sosok asing yang selalu kubenci. Aku selalu berusaha memusnahkan sosok tersebut dalam bentuk apapun. Namun, beratus bahkan beribu kali kulakukan, dia tetap kembali dan kembali lagi.
Aku adalah aku, wajahku cantik. Hidungku bangir. Bibirku seksi. Mataku indah, rambutku hitam, lebat dan panjang bergelombang. Lekuk tubuhku sempurna. Semuanya indah, seindah sosok wanita yang bersemayam di jiwa dan imajinasiku. Aku adalah aku, aku tak pernah minta dilahirkan seperti adanya aku saat ini. Aku tak ingin memanipulasi raga seperti yang kulakukan saat ini.
****
Malam ini, aku kembali melanglangbuana. Melenggang di antara remangnya Jakarta. Kupamerkan lekuk indah moleknya tubuhku pada mobil-mobil mewah yang lewat. Aku tertawa, aku melirik genit menunggu lelaki hidung belang turun dari mobilnya dan membawaku pergi. Kucari mangsa baru dalam hiruk-pikuk dan pekatnya udara malam Jakarta. Kubasuh dukaku untuk sejenak membaur dalam hingar bingarnya eforia sesaat yang kini kurasa.
“Selamat malam, sayang. Siapa namamu?” tanya seorang lelaki dari balik kaca mobil mewahnya.
“Namaku Mona."
“Ayo masuk!'
Kubuka pintu mobil sedan mewah itu dengan elegan. Perjalanan panjang seperti yang sudah pernah kulakukan kembali kulalui.
“Benar namamu,
Mona?” tanya lelaki itu.
“Tergantung!”
“Besok namamu apa?”
“Belum bisa kukatakan sekarang.”
Tangan lelaki itu mulai bergentayangan. Kutepis perlahan jemarinya yang kasar. Namun, semakin aku menolak, ia semakin beringas.
“Sudahlah, jangan sok suci. Kamu sama seperti yang lainnya.” Katanya sambil menarik bahuku kasar.
Aku diam, kubiarkan ia berbuat sesukanya. Malam jahanam seperti malam-malam yang telah berlalu kembali kujalani. Kini aku menjadi Mona, esok entah aku akan menjadi siapa lagi aku tak tahu, karena aku belum merancangnya. Di kamarku yang kumuh, kubuka kembali diaryku. Kutulis dengan jelas apa yang kurasakan. Aku kembali menangis. Di sana, di balik kata-kata indah aku sadar, aku bukanlah aku.
Kujalani hari-hariku dengan beragam kejadian, dengan predikat baru yang mengukuhkan diriku menjadi seperti yang kuinginkan. Remangnya malam adalah kehidupanku. Saat seorang pria kaya bersedia memeliharaku dengan imbalan gajih bulanan, aku menerimanya dengan senang hati. Saat virus penyakit mematikan itu datang menghampiriku, aku kembali berteriak dan bertanya pada siapa saja yang mendengarkan, mengapa…mengapa ini menimpaku?
Hidupku terus bergulir mengikuti berlalunya waktu. Kadang aku ingin mengubah anomali itu, menjadi manusia normal, bekerja dengan aman di sebuah perusahaan yang biasa-biasa saja, menikah dan memiliki anak, memiliki cucu yang bisa kuajak berkeliling kota, namun semuanya hanya mengendap dalam keinginan sesaat. Aku kembali berhadapan dengan jeritan jiwa yang terus meletup-letup dan terus meradang mempertanyakan, mengapa…mengapa…aku seperti ini?
Tuhan, aku berdiri menatapMu di antara linangan air mataku. Seandainya saja aku bisa meminta, aku ingin merubah waktu, aku ingin dilahirkan seperti manusia pada umumnya. Itu adalah keinginanku yang terdalam. Tapi aku tetaplah aku, aku selalu meronta dan mempertanyakan ketidakadilan ini.
Kadang aku bernyanyi dari satu bis kota ke bisa kota yang lain. Kadang, aku terjerembab dalam pelukan lelaki ke lelaki lain. Meski hampa, semua kujalani dengan ihklas. Aku tahu ini salah, tapi aku tetap manusia, manusia yang butuh cinta. Aku kerap menertawai diriku. Pada cermin aku bertanya, mengapa…mengapa pada raga ini tersimpan status yang berbeda?
“Terimalah dirimu seperti kau apa adanya,” seolah cermin itu menjawab kegundahanku.
“Harusnya bukan aku yang berada di dalam raga ini!” bentakku kesal.
“Kalau begitu, lakukanlah apa yang hendak kau lakukan!”
“Percuma. Aku telah melakukan semuanya. Tapi semua orang menganggapku aneh!”Aku yang berada di dalam cermin, menatap wajahku sendiri dengan bingung.
Kucoba untuk kembali ke wujud asal sebagaimana aku dilahirkan. Aku bertekad untuk memusnahkan semua kenangan masa kecilku. Di dalam nama itu aku telah menjalani hari-hari kelamku yang tak pernah berwarna putih cerah. Di dalam nama itu hidupku abu-abu.
Di dalam nama itu sosok wanita tersembul bagai dewi malam yang selalu menebar pesona, mencari mangsa dalam remangnya Jakarta. Di dalam nama itu aku berusaha mengejawantah menjadi wanita jelita yang berhak memperoleh cinta. Di dalam itu pula terletak alasan mengapa aku menolak pinangan beberapa lelaki yang mabuk kepayang padaku. Di dalam nama itu kini bersemayam penyakit HIV yang kuperoleh dari beragam lelaki yang mengencaniku. Di dalam nama itu aku telah berbuat banyak kesalahan. Dengan nama itu pula kelak aku dimakamkan.
Inilah aku. Di balik jeruji besi ini kuterima takdirku dengan diam. Aku tak mau membela atau dibela. Aku tetaplah aku, manusia yang terus meradang, yang penuh dosa, yang selalu menangis dan memohon perlindungan pada siapa saja yang mau sejenak diam tak mencela atau menertawakan, pada siapa saja yang mau mendengarkan kisahku. Di dalam nama asliku, di sanalah bersemayam jiwa kewanitaanku, di dalam nama itu telah kukuburkan beberapa lelaki yang pernah menjadi pacar-pacarku. Maka sebelum nyawaku melayang menuju awan gemawan, perkenalkan, namaku Ryantono!
Depok, Maret 2009
“Tergantung!”
“Besok namamu apa?”
“Belum bisa kukatakan sekarang.”
Tangan lelaki itu mulai bergentayangan. Kutepis perlahan jemarinya yang kasar. Namun, semakin aku menolak, ia semakin beringas.
“Sudahlah, jangan sok suci. Kamu sama seperti yang lainnya.” Katanya sambil menarik bahuku kasar.
Aku diam, kubiarkan ia berbuat sesukanya. Malam jahanam seperti malam-malam yang telah berlalu kembali kujalani. Kini aku menjadi Mona, esok entah aku akan menjadi siapa lagi aku tak tahu, karena aku belum merancangnya. Di kamarku yang kumuh, kubuka kembali diaryku. Kutulis dengan jelas apa yang kurasakan. Aku kembali menangis. Di sana, di balik kata-kata indah aku sadar, aku bukanlah aku.
Kujalani hari-hariku dengan beragam kejadian, dengan predikat baru yang mengukuhkan diriku menjadi seperti yang kuinginkan. Remangnya malam adalah kehidupanku. Saat seorang pria kaya bersedia memeliharaku dengan imbalan gajih bulanan, aku menerimanya dengan senang hati. Saat virus penyakit mematikan itu datang menghampiriku, aku kembali berteriak dan bertanya pada siapa saja yang mendengarkan, mengapa…mengapa ini menimpaku?
Hidupku terus bergulir mengikuti berlalunya waktu. Kadang aku ingin mengubah anomali itu, menjadi manusia normal, bekerja dengan aman di sebuah perusahaan yang biasa-biasa saja, menikah dan memiliki anak, memiliki cucu yang bisa kuajak berkeliling kota, namun semuanya hanya mengendap dalam keinginan sesaat. Aku kembali berhadapan dengan jeritan jiwa yang terus meletup-letup dan terus meradang mempertanyakan, mengapa…mengapa…aku seperti ini?
Tuhan, aku berdiri menatapMu di antara linangan air mataku. Seandainya saja aku bisa meminta, aku ingin merubah waktu, aku ingin dilahirkan seperti manusia pada umumnya. Itu adalah keinginanku yang terdalam. Tapi aku tetaplah aku, aku selalu meronta dan mempertanyakan ketidakadilan ini.
Kadang aku bernyanyi dari satu bis kota ke bisa kota yang lain. Kadang, aku terjerembab dalam pelukan lelaki ke lelaki lain. Meski hampa, semua kujalani dengan ihklas. Aku tahu ini salah, tapi aku tetap manusia, manusia yang butuh cinta. Aku kerap menertawai diriku. Pada cermin aku bertanya, mengapa…mengapa pada raga ini tersimpan status yang berbeda?
“Terimalah dirimu seperti kau apa adanya,” seolah cermin itu menjawab kegundahanku.
“Harusnya bukan aku yang berada di dalam raga ini!” bentakku kesal.
“Kalau begitu, lakukanlah apa yang hendak kau lakukan!”
“Percuma. Aku telah melakukan semuanya. Tapi semua orang menganggapku aneh!”Aku yang berada di dalam cermin, menatap wajahku sendiri dengan bingung.
Kucoba untuk kembali ke wujud asal sebagaimana aku dilahirkan. Aku bertekad untuk memusnahkan semua kenangan masa kecilku. Di dalam nama itu aku telah menjalani hari-hari kelamku yang tak pernah berwarna putih cerah. Di dalam nama itu hidupku abu-abu.
Di dalam nama itu sosok wanita tersembul bagai dewi malam yang selalu menebar pesona, mencari mangsa dalam remangnya Jakarta. Di dalam nama itu aku berusaha mengejawantah menjadi wanita jelita yang berhak memperoleh cinta. Di dalam itu pula terletak alasan mengapa aku menolak pinangan beberapa lelaki yang mabuk kepayang padaku. Di dalam nama itu kini bersemayam penyakit HIV yang kuperoleh dari beragam lelaki yang mengencaniku. Di dalam nama itu aku telah berbuat banyak kesalahan. Dengan nama itu pula kelak aku dimakamkan.
Inilah aku. Di balik jeruji besi ini kuterima takdirku dengan diam. Aku tak mau membela atau dibela. Aku tetaplah aku, manusia yang terus meradang, yang penuh dosa, yang selalu menangis dan memohon perlindungan pada siapa saja yang mau sejenak diam tak mencela atau menertawakan, pada siapa saja yang mau mendengarkan kisahku. Di dalam nama asliku, di sanalah bersemayam jiwa kewanitaanku, di dalam nama itu telah kukuburkan beberapa lelaki yang pernah menjadi pacar-pacarku. Maka sebelum nyawaku melayang menuju awan gemawan, perkenalkan, namaku Ryantono!
Depok, Maret 2009
Labels:
Cerpen
|
0
comments
Wajahnya memucat, jemari
tangannya gemetar, jantungnya berdegup cepat, matanya nanar memandang surat
yang baru saja diberikan wakil kepala sekolah kesiswaan kepadanya. Surat itu benar-benar telah menambah bergolaknya adrenalin di sekujur tubuhnya. Ia
mati kutu. Surat itu, ya surat
itu seakan sepucuk surat
yang dikirimkan malaikat pencabut nyawa, mirip paket bom berdaya ledak rendah.
Ia merasakan sekujur sendi-sendi di tubuhnya lemas. Sungguh, hari ini dunia seperti
jungkir balik, ia ingin menghilang dan menyembunyikan seluruh raganya dari muka
bumi.
Pak Guru Tarigan, demikian
murid-murid di SMA Kasih memanggilnya. Berwajah simpatik, rahang tajam dan
keras khas orang Sumatera Utara. Jika bicara lantang, logat daerah tak pernah
lepas dalam setiap alunan suaranya. Nama aslinya Johan
Tarigan, ia
menjabat Kepala Sekolah di sebuah sekolah swasta yang terletak di tegah-tengah kota Kabanjahe, Sumatera
Utara. Posisinya sebagai kepala sekolah seharusnya membuat ia ongkang-ongkang
kaki; memerintah para wakasek (wakil kepala sekolah) untuk membantunya. Namun,
ia tak dapat melakukan itu. Ke lima
wakaseknya memiliki tugas yang cukup berat. Sebab, selain wakasek, mereka juga
menjadi guru untuk 10 kelas yang dijejali 40 anak perkelasnya. Di samping
menjadi guru, mereka juga harus bertani, ya masing-masing wakasek dan guru,
sehabis mengajar, menggarap ladang yang luasnya ribuan meter hingga hektaran
pemberian orang tua mereka.
Daerah Kabanjahe yang sejuk dengan perbukitan hijau yang mengelilinginya,
membuat beberapa jenis tanaman seperti kol, sawi, wortel, ketimun, tomat,
kacang panjang, buncis, kentang dan tanaman lainnya tumbuh subur. Para petani
tinggal menunggu pembeli yang datang dari kota Medan untuk membayar hasil
panen. Guru-guru, pegawai pemerintah daerah yang tinggal di daerah itu,
menjadikan hasil panen sebagai tabungan untuk membiayai kuliah anak-anak mereka
di beberapa kota-kota besar seperti Medan dan Jakarta.
Kota yang
sejuk, tenang dan penuh dengan rutinitas yang tidak menggebu, terpancar jelas
dari wajah-wajah penduduknya. Inilah potret kota pelosok yang ramah, perpaduan dua agama
yang saling menghormati terbias melalui senyum, tatapan mata penuh persahabatan
serta ucapan santun para penduduknya. Tak ada kecemburuan di sini, tak ada
paket bom yang dikirim ke rumah-rumah ibadah, perkantoran dan sekolah-sekolah.
Semuanya berjalan selaras dengan pikiran untuk memajukan usaha pertanian,
pendidikan dan pekerjaan di berbagai bidang. Semuanya berjalan seiring harmoni
alam yang teduh dan bersahaja.
Namun, hari ini, tidak demikian dengan Pak Guru Tarigan, bersamaan
datangnya surat dari Kementerian Pendidikan Nasional pusat itu, Pak Guru yang
berusia empat puluh lima tahun ini, tak lagi bisa tenang. Beberapa hari ini ia
mengurung diri di rumah dan di ruang kerjanya. Sekolah dengan akreditasi B itu,
tak lagi menggeliat, proses belajar mengajar seolah senyap dengan sikap sang
motivator yang selalu murung.
“Bagaimana ini, Bu. Dua hari
lagi tim monitoring pusat akan datang memeriksa dana bantuan block grant yang
kuterima setahun lalu. Mereka akan membawa instrument pemeriksaan tentang dana
itu, mereka akan menanyaiku, mereka akan memeriksa kelas, memeriksa apakah aku
sudah membeli dua puluh unit komputer yang tertera di surat perjanjian itu. Aku pusing, aku cemas…”
keluhnya pada sang isteri.
“Dana itu masih ada tidak?”
tanya isterinya.
“Itu dia, beberapa bagian sudah
kupakai. Ada
hal penting yang harus kulakukan, ini menyangkut nyawa seseorang…”
“Nyawa, maksudnya apa? Atau jangan-jangan
kau telah korupsi!” tuduh sang isteri.
“Ah, kau jangan sembarangan
menuduh. Aku bukan koruptor. Percayalah!”
Pak Guru Tarigan tambah murung.
Nyanyian burung-burung malam, suara bebek dan ayam peliharaan di kandang
samping rumahnya, cericit tikus dan gemerisik angin saat meniup rimbunan
alang-alang yang tubuh subur di sisi kebunnya, tidak membuat ia terbebas dari
gulana. Kegundahan itu mengalir deras dan menyusup diam-diam ke seluruh
pori-pori kulitnya, inilah rasa cemas yang teramat parah yang ia rasakan selama
hidupnya, khususnya sebagai guru.
***
“Ini dana block grant dari
pusat, dana ini sesuai proposal seperti yang kau ajukan tahun lalu. Dana ini
untuk pembelian dua puluh unit komputer dengan klasifikasi core 2 duo. Ingat,
selain itu ada syarat khusus, kelas untuk menempatkan komputer harus ber-AC,
lantainya musti memakai karpet. Ruang kelas harus benar-benar steril, setiap tiga
bulan sekali seluruh komputer diservis agar terbebas dari virus. Dan kau musti
membuat laporan tertulis, kemudian laporan itu kau kirimkan ke kantor Dinas
Pendidikan di Ibu Kota
Kabupaten. Nanti akan ada tim monitoring pusat yang memantau perkembangan dana block grant itu
dan ingat pula, jika sekolah kau berhasil melaksanakan semuanya dengan baik,
maka tahun depan dana akan turun lagi, sekolah kau akan terangkat menjadi
akreditasi A, ” ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
Pak Guru Tarigan merenung. Ini
sudah enam bulan berlalu sejak dana itu dicairkan. Jangankan kelas ber AC dan berkarpet merah, komputernya pun belum
terbeli. Apa yang harus kulakukan? Dana sebesar 125 juta itu sudah terpakai sebesar dua puluh juta.
Sepuluh juta untuk pembinaan siswa-siswa terbaik dari delapan bidang studi yang
akan dilombakan di ajang Olimpiade Sains Nasional. Ya, pembinaan bidang
studi matematika, biologi, astronomi,
fisika, kimia, komputer, ilmu kebumian hingga ekonomi, memerlukan biaya yang
tidak sedikit. Ia harus mengeluarkan anggaran ekstra membayar tenaga-tenaga
terampil untuk memberikan trainer of trainer
kepada para guru. Nantinya guru-guru di sekolahnyalah yang akan membimbing
siswa-siswa agar mereka lolos seleksi olimpiade tingkat kabupaten. Jika tidak,
sekolahnya akan terpuruk, siswa yang masuk di tahun ajaran baru akan menurun, image sekolah di mata masyarakat akan
buruk. Lalu…sekolah itu akhirnya akan ditutup. Ah, Pak Guru Tarigan mengedikkan
bahunya. Mengingat itu ia miris, jika sampai sekolahnya ditutup, akan kemana
murid-muridnya?
“Lalu, kemana uang yang sepuluh
jutanya lagi?” kejar isterinya.
Pak Guru Tarigan menundukkan
kepala.
***
Hari itu, wakasek kesiswaan tergopoh-gopoh datang ke ruangannya.
“Tolong, Pak. Rully
Hutahaean anak kelas sebelas IPA satu
yang akan kita usulkan untuk ikut seleksi olimpiade matematika tingkat
kabupaten, tertabrak motor. Kakinya patah. Pihak rumahsakit meminta bayaran
sebesar sepuluh juta untuk uang muka operasi. Bagaimana ini, Pak? Jika tidak dioperasi, dia tidak
bisa ikut seleksi. Rully satu-satunya harapan kita untuk maju ke tingkat olimpiade
sains tingkat nasional. Jika dia lolos dan syukur-syukur bisa sampai ke
olimpiade matematika tingkat internasional, nama sekolah kita akan harum,
imagenya semakin bagus. Kita akan masuk akreditasi A dan siswa yang masuk ke
sekolah ini akan semakin banyak…”
Pak Guru Tarigan
terdiam. Hembusan angin pegunungan yang sejuk yang masuk melalui kisi-kisi
ruang kantornya yang terbuat dari papan, tidak membuat pikirannya jernih,
kepalanya tambah pusing. Dana block grant sebesar seratus dua puluh lima juta sudah terpakai.
Uang itu terkikis sepuluh juta, tinggal seratus lima belas juta, sekarang harus dipotong
sepuluh juta lagi. Ia belum bisa menjawabnya, otaknya serasa membatu,
mengkristal seperti butir-butiran intan permata yang indah untuk ditatap namun sangat
mahal buat memilikinya.
“Bagaimana, Pak?”
desak wakasek kesiswaan.
“Baiklah, kalau
begitu kita pakai dana block grant sepuluh juta lagi. Kesembuhan anak itu lebih
penting, Nanti saya yang tanggungjawab.” Jawabnya dengan nada datar namu
gamang.
***
Kini dua hari lagi tim
monitoring dari Jakarta
akan datang. Jika sampai dua hari ini dana sebesar dua puluh juta yang telah
terpakai itu tidak tergantikan, maka tamatlah riwayat sekolah ini. Lima wakasek, tiga
petugas administrasi, sepuluh guru, ratusan siswa akan putus sekolah, masa
depan mereka akan mengawang dan terhapus angin puting beliung yang datang
tiba-tiba. Tukang kebun, tukang sapu tak lagi punya penghasilan dan kantin
sekolah juga tutup. Semua mati langkah, semua akan termangu memandang hari-hari
kelam yang hitam sehitam jelaga. Lalu dirinya?
Ya, dirinya mungkin akan meringkuk di balik jeruji besi dengan tuduhan korupsi
atau penggelapan dana block grant. Oh tidak!
Pak Guru Tarigan bergidik.
Kegundahan itu belum
terjawabkan, sebab tepat dua hari kemudian, tim monitoring datang didampingi
dua pengantar dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. Komputer dengan
spesifikasi Core 2 Duo belum dibeli, kelas untuk menaruh komputer masih mirip
kandang ayam, penuh sarang laba-laba di sana-sini, karpet belum terpasang,
jangankan AC, kipas angin pun tak tampak. Pak Guru Tarigan berdiri di balik
daun pintu ruang kantornya dengan kaki gemetar. Apa yang harus kujawab jika
mereka menanyakan uang itu? Tanyanya pada bayangannya di kaca lemari kusam yang berisi buku-buku
filsafat bacaannya.
“Jangan kau cemas, uang sebesar
dua puluh juta sudah kudapatkan. Aku menggadaikan surat tanah kita di Inang Betty boru
Sidabutar, nanti kalau panen wortel dan kembang kol, kita bayar. Aku tahu kau
bukan koruptor.” Suara isterinya terdengar bagai gema malaikat yang menghapus
ribuan cemas di dalam relung sanubarinya. Pak Guru Situmorang menitikkan air
mata. Ia memeluk isterinya yang pendek dan bertubuh gempal. Perempuan dengan
wajah keras khas petani itu, menghapus keringat di keningnya. Ia tak menuturkan
bagaimana perjuangannya mencari Inang Betty boru Sidabutar di Medan; bagaimana
bis yang ditumpanginya hampir tergelincir masuk jurang tatkala melewati
perjalanan Kabanjahe, Berastagi yang meliuk-liuk dengan tikungan tajam. “Aku
akan kembali ke ladang, hari ini ada tengkulak yang mau memberi panjar untuk
tanaman kol dan wortel kita!” katanya sambil mencium punggung tangan suaminya.
***
Petugas monitoring memberi batas waktu tiga bulan bagi Pak Kepala Sekolah
SMA Kasih itu untuk menyiapkan segalanya. Setelah tiga bulan, akan diadakan
pemeriksaan kembali, jika keadaan masih tetap sama, dana akan ditarik. Dengan
suara serak, sarjana pendidikan itu menyanggupinya. Matanya berkaca-kaca.
Pak guru Tarigan benar-benar menitikkan air mata tatkala muridnya, Rully
Hutahaean lolos seleksi tingkat kabupaten dan berangkat ke Jakarta mewakili provinsi Sumatera Utara
untuk ikut di olimpiade sains tingkat nasional. Tangisnya yang lebih dahsyat
terdengar makin keras ketika sang murid memperoleh medali emas bidang studi matematika dan menjadi bagian dari
empat puluh siswa yang dibina oleh para doktor matematika dari universitas
ternama di Indonesia. Tatkala nama siswanya masuk empat besar dan diberangkatkan
ke Ontario, Kanada, mengikuti olimpiade matematika tingkat internasional, Pak
Guru Tarigan menjadi bisu beberapa saat akibat euforia yang membuncah di
dadanya.
“Aku tak minta apa-apa darimu, Nak. Hanya satu harapanku, kelak jika
pulang, buatlah sekolahmu bangga…” bisik Pak Guru Tarigan ke telinga muridnya.
Memang, tak ada yang ia minta dari
sang murid. Ia hanya bisa berharap sepulangnya nanti, sekolahnya akan
memperoleh akreditasi A dari pemerintah provinsi. Dengan uang pendaftaran yang
masuk, ia berniat untuk membangun beberapa ruang kelas lagi agar para siswanya
tidak duduk berjejal dalam satu kelas. Perihal dana pemberian block grant yang
kedua kalinya, pak guru Tarigan menepis angannya untuk memperoleh dana itu
kembali. Kemenangan Rully dalam olimpiade matematika tingkat internasional
adalah tiketnya untuk melebarkan sayap, sayap untuk merengkuh murid-murid dari
desa lain yang tidak mampu membayar uang sekolah dan tidak sempat mengenyam
pendidikan yang memadai.
Maka Ketika Pak Guru Tarigan kembali ke rumahnya, ia menukar pakaiannya
sebagai guru, ia bergegas ke ladangnya, kembali mengayunkan paculnya, ia
berpacu dengan waktu, berpacu untuk membayar hutang isterinya, berpacu untuk
menebus kembali surat tanah sekaligus bunganya yang digadaikan pada Inang Betty boru Sidabutar…
Labels:
Cerpen
|
0
comments
Subscribe to:
Posts (Atom)
