Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
-
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mah...
-
Rumah Oleh : Fanny J.Poyk Seharusnya rumah itu bisa menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa saja yang kenal dekat dengan p...
-
Top of Form Bottom of Form Luka Erika Oleh : Fanny J.Poyk Dirimu ibarat pualam, putih bersih, bersinar...
-
Dadong Kerti Oleh Fanny J.Poyk Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas ka...
-
Juminten Oleh : Fanny J. Poyk Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedi...
-
Isteri Untuk Suamiku Oleh : Fanny J. Poyk Melihat hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi yang diberikan dr, Drew, ...
-
Datanglah kesini Mae, kehadiranmu membuatku terhibur. Aku tertekan dengan situasi, sebagai ras dengan stigma teroris aku sang...
-
Mimpi Oleh : Fanny J.Poyk Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya ber...
-
Aku dan Cinta Oleh Fanny J. Poyk Kutulis kisah ini tanpa menyinggung siapa yang telah kusinggung dan siapa yang telah t...
-
Ketika Ken Marah Oleh: Fanny J.Poyk Di penghujung waktu amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama s...
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Tara
Oleh : Fanny J.Poyk
Langit Jakarta masih kelabu.
Hujan turun deras semalam. Sisa-sisa air terlihat menggelantung di ujung-ujung
daun. Jalan raya yang membentang di sepanjang Gatot Subroto menuju ke Bandara
Soekarno-Hatta, basah dan mengilat mirip kaca. Deretan gedung-gedung pencakar
langit berdiri beku dan muram, kabut tipis menutupi kaca-kacanya. Pastinya di
dalam sana, sepagi ini belum ada karyawan yang datang. Waktu baru menunjukkan
pukul enam pagi pagi. Dingin dan sunyi.
Tara
memegang ujung selendang pasmina cokelatnya, menariknya lebih erat, menutup
tengkuknya yang mulai terasa dingin. Sopir taksi yang ada di kursi kanan depan,
bagai mayat beku, memandang lurus ke arah jalan. Tadi ia menjemput Tara pukul lima
pagi. Mungkin dini hari dia sudah bangun, matanya sedikit terpejam. Tara
sejenak gelisah, berharap sopir taksi langganannya itu tidak terserang kantuk.
“Jangan
lupa terminal keberangkatan pesawat Garuda ya, Pak. Saya selalu ndak ingat terminal
berapa,” tegur Tara. Berpuluh kali ia terbang dengan berbagai pesawat ke
seluruh pulau di Indonesia dan berpuluh
kali pula ia mengelana ke luar
negeri, selalu saja ia tak ingat di terminal
mana saja pesawat-pesawat itu ngetem.
“Baik,
Bu. Kalau Ibu mengantuk, tidur saja. Nanti saya bangunkan,” sahutnya.
Tara
tersenyum tipis. Kantuk tak pernah berdusta, termasuk mata sang sopir taksi. Penglihatannya sebisa mungkin dipaksakan untuk
terus memelototi jalanan yang berwarna abu-abu tua di hadapannya. Ia kembali memeriksa
berkas-berkas instrumen yang ada di dalam tas besarnya. Kuisioner pertanyaan
sesuai dengan catatan kecil yang ada di dalamnya, semua lengkap. Kamera juga
lengkap, semalam baterainya sudah dicharge. Kemarin dia telah menelpon dua kepala sekolah
yang akan didatanginya, satu kepala sekolah bersedia menjemputnya, satu sekolah
lagi tidak menjawab dering handphonenya. Palangkaraya, kota ini tujuannya. Di
kota yang terletak di tengah provinsi Kalimantan Tengah itu baru sekali ini
akan dipijaknya. Ia hanya memonitor dua sekolah, dua-duanya menjadi barometer
proses Ujian Nasional yang akan diikuti seluruh siswa Sekolah Menengah Atas se
Palangkaraya. Tara lega, satu sekolah tampaknya welcome dengan kedatangannya. Itu berarti ia tidak seperti orang
bodoh yang tersesat di belantara masyarakat yang benar-benar asing baginya. Kisah
Sampit yang sempat menghebohkan Indonesia, sekelebat melintas di benaknya. Itu
sudah lama berlalu, setahunya keadaan sudah kembali normal, tak ada gejolak signifikan yang membuat
jantungnya dag dig dug. “Tenanglah Tara. Keadaan sudah aman.” SMS Korrie di Hp-nya sehari sebelum ia
berangkat.
Korrie? Ah, Tara
tersenyum tipis. Duda beranak dua itu gembira sekali saat tahu Tara hendak ke kampung
halamannya. “Nanti kuajak kau makan ikan Jelawat bakar di restoran terapung di atas sungai
Kahayan. Malam hari, kau akan kuantar melihat
perahu-perahu kecil yang berseliweran dengan lampu-lampunya yang lamat-lamat dari kejauhan mirip
kunang-kunang. Itu perahu ketingting, kau pasti suka bila kuajak naik perahu itu. Petualangan menuusuri sungai
sangat memompa adrenalin Tara, jeram dan
derasnya arus kadang tak bisa kita duga.
Aku yakin kau pasti suka, seperti
fotomu yang kulihat di Facebook saat berarungjeram di sungai Citarik, Bogor,
kau tampak sangat menikmatinya,” SMSnya lagi.
Korrie diam-diam
tampaknya memonitor apa yang ia lakukan. Doktor Bahasa Indonesia yang mengajar
di Universitas Palangkaraya itu, dikenalnya saat ia mengujungi Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin. Tara
yang memiliki jadwal rutin seminggu sekali ke situ, terkesiap tatkala Korrie tanpa
sungkan-sungkan menyapanya dan mengajaknya bercakap-cakap. Penilaian awal,
lelaki itu sedikit genit namun jenaka
dan pandai menghangatkan suasana. Tara suka. Selebihnya, ketika percakapan kian
melebar, mata Tara yang jeli mulai melihat, lelaki itu bukan hanya menarik,
namun pandai dan memiliki mata yang mengingatkannya pada seseorang. Mata Sammy seolah ada di situ, tajam dan
kuat! Tara sangat luluh melihata mata seperti itu. Sangat! Selanjutnya, percakapan tak berujung mulai terjalin
melalui SMS. Dan Tara secara bertahap merasa dirinya mulai berada di sebuah
‘permainan rasa’ yang ia sendiri tidak tahu akan bermuara di mana.
Di tengah lamunan yang
merambah ke berbagai arah, Tara terhenyak sesaat, sopir taksi memicingkan
matanya, tapi ah tidak, Tara yakin ia
menyetir mobil sambil sesekali memejamkan mata. Taksi mulai berjalan sedikit zig zag.
“Pak, jangan lupa terminalnya!” suara Tara
diperkeras.
“Oh,
eh…si…siap, Bu!” sang sopir mengerjapkan mata.
***
“Dia
sudah hamil, dan aku harus bertanggungjawab.”
“Bertanggungjawab?
Lalu apa fungsiku di matamu selama ini?”
“Kau
tetap isteriku.”
“Aku
tak mau dimadu!”
“Aku
harus bagaimana dong? Dia masih dibawa umur. Jika tidak kunikahi, orangtuanya
akan melaporkanku ke polisi. Aku akan kena tuduhan pelecehan seksual pada anak
di bawah umur. Bagaimana dengan jabatanku? Kau mau punya suami mendekam di
penjara?”
“Itu
urusanmu, kau yang mencari masalah dan kau yang menerima akibatnya. Keputusanku
sudah bulat, aku tidak mau dimadu!”
“Tara,
kau ingin cerai?”
“Ya,
lebih baik begitu!”
“Lalu
bagaimana dengan anak-anak?”
“Rene
dan Dee bisa mengerti, mereka sudah mulai remaja.”
“Kau
tidak menyesal?”
“Kita
cerai, esok akan kuurus semuanya. Kau tak perlu repot!” Itu perdebatan
terakhirnya dengan Sammy. Tak ada lagi
kata maaf untuk kali ini. Puluhan kali ia memaafkannya, puluhan kali pula ia menyakitinya,
itu sudah lebih dari cukup. Aku sudah letih, batin Tara.
Melalui kaca jendela
taksi, Tara mengilas balik semuanya. Sammy! Ya, suaminya yang tampan dengan
pesona ragawi nan memikat, dengan jabatan Direktur Umum di sebuah perusahaan
swasta nasional, dengan kecermelangan otak yang bersinar bak berlian, semua itu
adalah kemasan yang seratus persen sempurna untuk performance awal dari sosok seorang lelaki. Kebetulan lelaki itu
suaminya. Dan Tara harus berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan
perasaannya tatkala puluhan perempuan bertekuk
lutut di tangan suaminya.
“Seharusnya
kau tidak menikahiku dulu,” ujarnya tatkala seorang perempuan menerornya dan
meminta suaminya bertanggungjawab karena telah membuatnya hamil.
“Sudah
kulakukan tes genetik, anak itu bukan anakku. Dia perempuan yang kukenal di sebuah
kelab malam, jadi kau pikir saja, berapa lelaki yang telah menebarkan sperma ke
rahimnya?” jawab Sammy enteng.
Tara
mengerjapkan mata. Kabut tipis di sudut mata kian menebal.
“Sudahkah
kau pikir masak-masak pilihanmu? Dia tampan dan fisiknya nyaris sempurna, kau,
meski otakmu cemerlang dan karirmu bagus, kau tidak sesempurna perempuan yang
diinginkannya, aku tahu itu,” ujar Niken sahabat sekostnya puluhan tahun yang
silam. Mereka mahasiswa daerah yang sama-sama bekerja sambil kuliah di kota
Yogyakarta. Tara asal NTT, sedang Niken Surabaya.
Tara
menundukkan kepala. Lirih ia berkata, “Aku melihat Sammy begitu menarik, aku
menantinya berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Mungkin ini boleh dikatakan aku
jatuh cinta pada pandangan pertama, ini kurasakan setiap saat dan setiap waktu,
aku jadi tersiksa karenanya.”
Niken
menggeleng-gelengkan kepala. “Suatu saat, waktu akan berbicara Tara. Kau tidak
seseksi Angelina Jolie, kau tidak setinggi Nicole Kidman, kau tidak secantik
Tamara Blezinsky, yang kau punya hanya otak yang cemerlang. Aku pernah dengar,
Sammy bilang, selain otak ia punya kriteria seperti yang sudah kusebutkan tadi.
Kau yakin bisa bersaing dengan kriterianya itu?”
Tara
mengangguk. Ragu.
Kabut yang menebal itu
akhirnya luruh menjadi butiran-butiran bening yang mengambang di kedua pipinya.
Lima belas tahun mengarungi bahtera rumahtangga, hanya pelecehan, penindasan,
dan penghinaan yang ia dapati. Niken benar. Nasi telah berubah menjadi bubur, kuatkah dirinya?
“Kita
sudah tiba di terminal dua, Bu.” Suara sopir taksi mengagetkan. Perempuan
matang berusia tiga puluh delapan tahun dengan gelar doktor di belakang namanya
dan memiliki posisi sebagai Kasubdit di sebuah instansi pendidikan negeri ini,
memasang kacamata hitamnya. Tubuh mungilnya berbalut blus batik Cirebonan dan
celana panjang hitam lengkap dengan sepatu yang juga berwarna senada setinggi lima
senti, tampak kecil di antara ratusan penumpang yang ada di ruang
keberangkatan. Tara menarik kopernya dengan langkah tenang. Di pintu Bandara Tjilik Riwut, sosok tampan
mirip Sammy telah menunggunya.
“Hari
ini, SMA mana yang akan kau datangi?” Tanya Korrie sambil mengambil koper yang ada di tangan kanan Tara.
“Aku
harus ke Dinas Provinsi dulu memberikan kuisioner ini, setelah itu ke Dinas
Kabupaten Kota untuk hal yang sama. Esoknya, baru ke kedua SMA yang ada di kota
ini. Mustinya pekerjaan ini dilakukan anak buahku. Tapi…”
“Kau
hendak menemuiku, kan?” goda Korrie dengan sudut mata menyipit.
“Bukan
itu, yang ikut monitoring evaluasi Ujian Nasional ini lebih sedikit dari tahun
lalu. Jadi, aku harus terjun juga ke lapangan.”
Tara berusaha menutup pipinya yang bersemu merah. Aneh, pikirnya. Aku mulai
tua, sudah pernah menikah. Mengapa rasa ini kembali muncul? Dia meroyak ke
sanubari bak gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
“Oh,
begitu. Ya sudah, nanti kuajak kau makan siang di sebuah restoran ikan bakar
lengkap dengan sayur santan berisi talas dan rebung makanan khas suku
Dayak.”
Tara
diam. Dan Korrie tak pernah melepaskannya pergi sendirian ke berbagai sekolah
saat memantau UN. Laki-laki itu terlihat
gesit, turut memantau dan membagikan kuisioner pada siswa, guru dan kepala
sekolah. Kegiatan UN yang dijaga ketat aparat kemanan, juga diawasi guru-guru
silang yang datang dari sekolah yang berbeda, terasa begitu singkat dan
menyenangkan.
“Kasihan
siswa-siswa itu, mereka dijaga seperti penjahat kelas kakap yang akan
tertangkap basah bila menyontek. Kau tahu, hampir tiga tahun mereka berjuang
untuk memeroleh nilai yang bagus, hasil selama tiga tahun itu harus ditebus
dengan ujian yang hanya berlangsung selama lima hari. Apakah kau tidak merasakan bagaimana lelahnya
mereka, Tara?”
Tara
membisu beberapa saat. “Itu harus mereka lakukan Korrie, mereka harus
berkompetisi, sebab globalisasi dengan kemajuan teknologinya pun begitu. Siapa
yang lemah, bodoh dan tidak mau berusaha sekuat tenaga, mereka akan jadi
orang-orang yang kalah, mereka akan terpuruk.”
“Hmm…itu
pendapat yang sangat subyektif. Aku tidak sepaham. Ada sisi lain yang segalanya
tidak harus pasti. Ada sisi humaniora yang akan membuat mereka menjadi sosok
yang lebih bijaksana. Ada sisi budaya, sastra dan seni yang akan menggiring
mereka menjadi manusia yang lebih berempati pada bumi, pada kehidupan sesama
mereka dan itu membuat mereka menjadi lebih jujur pada diri sendiri. Tara, aku
tahu kau birokrat, belajarlah sedikit untuk luwes. Bukankah kau juga menyukai
sastra?”
Tara
tidak menjawab.
***
Sehari sebelum pesawat Garuda Boeing 737
menerbangkannya kembali ke Jakarta, ia menunggu laki-laki itu dengan cemas di
lobby hotel tempatnya menginap. Ada yang
ingin ia sampaikan padanya. Ketika akhirnya Korrie tiba, debar di dada Tara
berpacu kian cepat. Duh, pesona
ragawi yang ada padanya sungguh membuat ia tak kuasa untuk tidak mengakui bahwa
pria yang tengah berjalan di hadapannya itu benar-benar memesona. Tapi Tara
harus bisa mengalahkan gelora rasa yang memenuhi hampir seluruh jaringan otot di tubuhnya.
“Aku
tak bisa menemui keluargamu hari ini ,
Korrie. Aku harus segera pulang. Ada berita penting yang akan kusampaikan
padamu.”
Korrie
mengernyitkan dahi, mata elangnya yang tajam menyipit. “Berita apa?”
“Sammy…”
“Kenapa
dengan dia? Menghamili perempuan ingusan lagi?” suara Korrie meninggi.
Tara
terdiam, ia menyesal telah menceritakan perihal suaminya pada laki-laki yang
ada di hapannya. “Tidak. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu, Sammy
terserang kanker prostat. Semalam Dee menangis mengabariku. Ayahnya minta
pulang ke rumah. Dee memohon aku menerimanya. Haruskah aku menolak
kehadirannya?”
“Dia
telah menyakitimu berkali-kali.”
“Tapi
dia sekarat, Korrie.”
Korrie
membisu. Ada kilatan muram membias di wajahnya.
“Pulanglah, urus dia dengan baik. Nanti aku akan menyusulmu ke Jakarta.”
Tara menarik nafas lega.
Setahun setelah Sammy meninggalkan dunia yang fana ini, Tara mengirim
email pada Niken; dear Niken, kebahagiaan akan kujelang tak lama lagi, doakan semoga tak
ada aral melintang ya, aku dan Korrie akan menikah!
Niken membaca SMS itu sambil tersenyum, “Semoga kau bahagia Tara…”
Dan kebahagiaan yang hampir tergenggam itu menguap dengan tiba-tiba di
batas senja yang tak lagi dihiasi warna jingga. Gelas berisi minuman dingin
yang dipegang Tara jatuh lalu pecah berantakan. Pesawat milik Rusia yang tengah
melakukan uji coba penerbangan luluh lantak menabrak gunung di daerah Bogor, Jawa
Barat. Korrie ada di dalamnya. Doktor bahasa itu menggantikan posisi temannya
yang berhalangan ikut karena sedang flu! Niken menonton berita itu di televisi
dengan dada berdegup kencang. Ia terduduk lemas di sofa depan TV. Tara…bisiknya dengan air mata berlinang.
Depok, Oktober 2012
Depok, April 2012
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....