Aku hanya pandai bermain kata lewat tulisan, jika kau memendam rasa dan buntu untuk mengekspresikannya, kutunggu kisahmu bersama beragam imaji dengan ditemani desir angin pagi...

Translate

Category

Shoutbox

Popular Posts

Teman

Novelku Nanti

07 March 2013

Negeri Para Bandit

Oleh : Fanny J.Poyk


            Siang itu rencananya Marina akan meliput sebuah berita pembukaan pembinaan olimpiade fisika di sebuah universitas negeri ternama yang terletak di Depok, Jawa Barat. Ia mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan peliputan. Kamera, tape perekam, cassette, dan notes kecil serta pulpen, dimasukkannya ke dalam tas ransel yang selalu ia bawa.
Perempuan berusia empat puluh tahun ini masih enerjik. Usai memperoleh rasionalisasi dari sebuah perusahaan media lokal tempatnya bekerja dulu, ia langsung diterima untuk menangani majalah intern yang konsern pada berita-berita pendidikan dari sebuah lembaga pendidikan negeri. Marina sangat menikmati pekerjaannya, ia sudah mengelilingi hampir seluruh Indonesia untuk meliput sekolah-sekolah terbaik yang ada di negara ini. Perjalanan karirnya penuh warna, kadang ia berada di ruangan menteri, mendengar dan mewawancarai sistem pendidikan yang sedang dijalankan, kadang ia ada di negara tetangga, meliput keberhasilan sekolah-sekolah di sana dan menulis laporan yang dapat menjadi study banding bagi sekolah-sekolah lain. Kadang ia menulis berita olahraga, kadang ia menulis berita sains, terkadang pula ia bergelut dengan berita-berita seni yang sangat disukainya. Dan terkadang…ia menulis cerpen, novel serta buku-buku motivasi untuk para remaja dan umum.
Ya, perempuan bernama Marina ini adalah Ibu dari dua anak lelaki. Satu anaknya sudah dewasa, lulusan Sastra Inggris dari sebuah universitas swasta di Jakarta Timur.  Ia adalah potret ibu mandiri yang berkembang secara pasti mengikuti arus jaman. Kadang dia bisa berubah dari seorang perempuan perkasa menjadi perempuan lembut yang sangat memerhatikan anak-anak dan keluarganya. Kadang dia juga bisa berubah menjadi perempuan lemah yang tak berdaya dalam menghadapi situasi  ‘gawat darurat’ yang menimpa dirinya.
Seperti saat ini, ‘keterkadangan’ itu membawa hidupnya serasa di titik nadir. Semua itu berawal ketika Hp-nya berdering. Marina yang semula menjalani kehidupan tanpa lonjakan-lonjakan emosional yang berarti, kini  harus merasakan itu. Ia harus menekan perasaannya, ia harus menahan air matanya, ia harus bertarung untuk sebuah keadilan yang masih berupa bayang-bayang samar. Dan ketika dering Hp-nya kembali berbunyi, naluri keibuannya tumbuh berkali-kali lipat. Dia tertegun mendengar suara yang ada di Hp-nya, itu suara suaminya.  “Kamu jangan kaget, anakmu masuk sel, dia ditahan dengan tuduhan pengeroyokan, perampasan dan percobaan pembunuhan.”
Suara suaminya yang bariton itu membuatnya terdiam. Marina termangu. “Apa, masuk sel? Tidak, ini tidak mungkin.” Desisnya hampir tak terdengar.
“Benar, nanti ku-forward SMS anak kita ke Hp-mu. Sekarang kamu cepat ke Polsek yang terletak di daerah Bojong Kimpul. Dia ada di sana.” Ujar suaminya lagi.
Marina menarik kursi, duduk sejenak. Lalu, ia memandang lurus ke depan. Beberapa menit kemudian tangisnya meledak. Ia menjerit memanggil-manggil nama puteranya. Ingatannya melayang jauh, mengilas balik kenangan saat kelahiran anaknya, ia begitu mencintai puteranya, begitu melindunginya. Tapi kini, sang putera kesayangan menjerit pilu dari balik sel tahanan kepolisian. Inilah lolongan tangis terpanjang yang pernah  dikeluarkannya.

Pa, di dalam sel ini sadis, baru masuk aku sudah dipukuli, dadaku ditonjok, kepalaku diadu ke tembok. Mereka nyang menahanku seolah memberikan daging mentah pada para tahanan yang ada di dalam sel. Aku benar-benar kesakitan…
SMS yang diforward suaminya membuat jantung Marina berdetak cepat. Segera perempuan ini meraih baju hangatnya, berjalan tergesa menuju rumah tetangganya, ia meyakini sang tetangga yang mantan Kapolsek itu sanggup membantunya.
“Tolong Pak Tagor, anak saya ditahan di Polsek Bojong Kimpul. Dia di sel, Pak…” katanya tergesa dengan nafas memburu.
“Lho, apa yang terjadi?”
“Ah, entahlah. Nanti saya tanya suami saya dulu.” Marina kembali meneteskan air matanya.
Dan inilah kronologis ceritanya. Kala itu, Senin 31 januari, puteranya yang akrab disapa Joe, datang ke penjagalan sapi bersama dua temannya, Dayat dan Sopian. Ketiganya sejak setahun ini bekerjasama bisnis daging sapi potong. Mereka berencana untuk mengambil daging sapi di sebuah penjagalan sapi yang terletak di Jatiasih, Bekasi. Tiba di lokasi, ketiganya bertemu dengan Wawan dan Warso, dua orang ini marketing daging sapi potong di tempat penjagalan itu.
Joe, Dayat dan Sopian menyerahkan uang sebesar tiga juta setengah kepada kedua orang itu sebagai uang muka. Uang kemudian dihitung Warso. Dua orang ini lalu meminta Joe dkk menunggu di luar penjagalan. Setelah menunggu seharian, Warso keluar dan membawa daging sapi untuk diperlihatkan ke Joe Cs. Ketiga pedagang sapi ini  kemudian menitipkan bongkahan-bongkahan daging pada Warso untuk ditaruh di lemari es yang ada di penjagalan terlebih dahulu, mereka akan makan siang dahulu sebelum kembali ke Pasar Kemiri Depok, Jawa Barat.
Usai makan, mereka mencari Wawan dan Warso. Wawan tak tampak batang hidungnya, yang terlihat hanya Warso. Ketiganya langsung menanyakan keberadaan daging sapi yang mereka titipkan tadi.
“Maaf, daging kalian lenyap. Sepertinya sudah dibawa Wawan…” Wajah Warso seperti tanpa dosa melaporkan hilangnya bongkahan daging itu pada Joe dan teman-temannya. Laki-laki berwajah innocent dan bertumbuh tambun itu dengan ringan menambahkan kalau ia tak bertanggungjawab atas hilangnya bongkahan-bongkahan daging tersebut. Menurutnya, yang harus bertanggungjawab atas semua ini, adalah Wawan. “Pasti Wawan yang bawa kabur daging-daging itu.  Setelah saya taruh bongkahan daging di kulkas, saya melanjutkan pekerjaan saya. Saya sibuk sekali dan nggak tahu apa yang sudah terjadi.”
Joe, Dayat dan Sopian naik pitam. Mereka lelah menunggu seharian. Rasa sakit hati dibohongi membuat mereka meradang. Terlebih lagi uang muka sebesar tiga juta lima ratus ribu itu hasil dari menggandaikan motor Joe dan Dayat. Dalam angan mereka, jika keuntungan hasil berjualan daging diperoleh, mereka akan menebus kembali motor-motor yang telah mereka gadaikan.  Ketiga laki-laki terlongong bagai macan ompong yang kehilangan gigi. Mereka sadar kalau mereka telah tertipu, penipuan berencana yang sistematis.
Ketiganya kemudian mencekal tangan Warso, menuntut uang mereka dikembalikan. Semula, pria gempal itu hendak masuk ke mobilnya, ia seolah merasa diri tak bersalah.  Namun, sebelum ia benar-benar kabur,  Joe, Dayat dan Sopian memaksanya untuk memberitahukan di mana Wawan berada. Mereka yakin Warso tahu, sebab tatkala menerima uang,  Warso yang menghitungnya, mereka tampak akrab dan telah menjadi partner yang cukup lama.
“Benar, saya nggak tahu di mana Wawan berada. Saya nggak bohong.” Warso terus bersikeras menyangkal.
“Tadi kamu kan yang melarang kita ikut masuk ke dalam, kita curiga, jangan-jangan di dalam kamu sudah merencanakan ini semua.” Bentak Dayat.
“Sungguh saya tidak tahu di mana Wawan!”
“Bohong, lalu mana dagingnya?”
“Sumpah saya nggak tahu!” Warso berteriak, wajahnya tampak geram. “Kalian jangan maksa saya dong!” tantangnya.
“Lho, bagaimana nggak maksa, uang kamu yang hitung, kamu dan Wawan tidak mengijinkan kita masuk ke penjagalan, kalian yang mengurus semuanya. Lalu, ketika daging-daging itu tidak ada, kamu lepas tangan. Harusnya kamu ikut bertanggungjawab, dong!” bentak Joe.
“Apa lu? Lu nuduh gua, ya?” Warso mengepalkan tinjunya, menyodorkan perutnya yang buncit ke tubuh Joe. Ia mendesak, seolah berharap Joe merespon tantangannya.
Dan akhirnya semua terjadi begitu cepat. Dayat terpancing emosinya  dan langsung meninju wajah Warso, disusul kemudian Joe dan Sopian. Amarah ketiganya menaik tinggi. lalu mereka menghajar laki-laki gendut itu hingga babak belur. Usai tragedi itu, ketiganya memaksa Warso untuk menunjukkan di mana Wawan berada.  Dengan mobil pinjaman, mereka berputar-putar mencari alamat Wawan, Warso tetap bersikukuh tidak tahu di mana tempat tinggal teman bisnisnya itu.  Pencarian yang melelahkan tidak membuahkan hasil. Di tengah rasa letih bercampur amarah, ketiganya melepaskan Warso di depan sebuah mal yang terletak di daerah Pondok Gede. Dada Warso bergemuruh, genderang perang sudah ia pukul, malam itu, langkahnya yang terseok menggiringnya ke polsek Bojong Kimpul, di sana ada saudaranya, ia akan melaporkan semua peristiwa yang dialaminya pada saudaranya itu.
“Aku akan membuat perhitungan dengan kalian, tunggu saja!” gumamnya.
Malam yang biru menggiring Warso ke Polsek Bojong Kimpul. Pria bertubuh gempal ini tertawa meringis ketika tim penyidik bersiap-siap memancing tiga serangkai pebisnis daging itu untuk dijebloskan ke dalam sel.
“Oke, kita akan pancing mereka supaya datang. Kamu tahu nomer telepon Wawan?” tanya AIPTU Aldy pada Warso. Saudaranya BRIPTU Amir selalu berada di sisinya.
“Tahu, Pak.”
“Ya sudah, cepat telpon dia supaya datang ke Polsek!” perintahnya.
Warso dengan sigap mengirim SMS ke Wawan. Lu ada di mana? Masih di kontrakkan? Cepetan kesini, lu disuruh nelpon Dayat, Joe ama Sopian supaya dateng, kata polisi pancing aja, bilang lu mau bayar utang yang tiga juta setengah itu!
Lalu, SMS Wawan meluncur dengan aman ke HP Dayat. Mata lelaki bergigi ompong ini berbinar. Hm…ini saatnya gue peras mereka, katanya dalam hati.  Yat, lu ke Pasar Pondok Gede ya, ajak Joe, gue mau bayar utang yang tiga juta lima ratus ribu itu, gak enak gue dituduh penipu
Dayat dan Sopian terperangah. Begitu juga Joe. SMS itu sangat menggembirakan. Setitik sinar cerah muncul, melalui SMS itu mereka berharap  bisnis akan kembali lancar. Malam kian dingin, hujan yang turun sejak pagi masih terus giat bekerja menumpahkan airnya ke bumi.  Ketiganya berembuk di rumah Joe. kemudian mereka meminjam mobil seorang sahabat Joe untuk segera meluncur ke Pondok Gede Atrium tempat yang dijanjikan Wawan.
“Tumben Si Wawan nyadar, biasanya dia kabur-kaburan. Hutangnya ama si Bejo yang ratusan juta aja, sampai sekarang belum dibayar. “ Joe sedikit curiga.
“Mungkin dia tahu kalau dia salah bawa lari duit hasil gadein motor kita bertiga. Perutnya panas kali kalau makan uang itu…” sambung Sopian.
“Si Warso jangan-jangan ngadu lagi  sama polisi.” Joe masih curiga.
“Ah, nggak mungkin. Dia kan udah kerjasama sama Wawan. Dia juga salah, udah nipu kita.” Dayat berkata.
Di tengah rintiknya hujan, malam itu ketiganya meluncur dengan mobil pinjaman ke Pondok Gede Atrium. Langit  muram mengandung beribu misteri yang berisi ratusan rahasia tak terduga untuk ketiga pria berusia tiga puluh tahunan ini. Mereka tak menduga di ujung rasa gembira akan ada prahara gelap yang  akan menimpa mereka.
Ketiganya tertegun tatkala melihat Warso, Wawan dan beberapa tim buser dari Polsek Bojong Kimpul telah  siap di depan pintu masuk Atrium. Kemudian kelompok ini memborgol tangan Joe, Dayat dan Sopian dengan kasar. Mereka di gelandang masuk sel tanpa surat penahanan, atau surat apa pun. Di bawah bentakan dan makian kasar para polisi yang memposisikan mereka sebagai penjahat kelas kakap, mereka menekan dan membentak ketiganya untuk menandatangani BAP. Dalam keadaan bingung, tiga laki-laki ini menandagani semuanya tanpa komentar. Satu tuduhan yang disampaikan AIPTU Aldy adalah, mereka melanggar pasal 170 KUHP. Dua hari kemudian, mereka diharuskan menandatangani kembali BAP tentang pasal perampasan dan percobaan pembunuhan, tuduhan itu berdasarkan laporan tambahan Warso karena ketiganya merampas uangnya sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah serta pencobaan penggilasan dengan mobil yang dipinjam ketiganya.
Warso dan Wawan tersenyum tipis tatkala Joe, Dayat dan Sopian telah dijebloskan ke dalam sel. AIPTU ALdy dan empat tim buser yang menjadi penyidik ketiganya, memberi komentar pada Marina, “Anak Ibu saya pancing, kami menahan anak Ibu dan dua temannya berdasarkan  pasal 5 ayat (1) b angka 1, Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 11, Pasal 16 ayat (2), Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 37 dan Pasal 111 ayat (1) KUHP, UU. RI No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kami polisi menjalankan tugas. Jika Ibu ingin semua ini beres, Ibu berdamailah dengan si pelapor, Polisi tidak ikut campur, sebab jika BAP kami tarik tanpa persetujuan si pelapor, kami yang salah, kami mempertaruhkan jabatan kami…”
Marina berdiri gamang. Berhari-hari ia menghubungi Warso untuk berdamai dan bersedia mengganti rugi biaya pengobatan yang menimpa laki-laki itu. Namun Warso tidak pernah tampak batang hidungnya. Wawan pun lenyap di telan bumi. Berkali-kali pula ia menghadap AIPTU Aldy untuk mencari solusi terbaik demi puteranya, sang penyidik tetap bersikukuh, “Tidak ada jalan lain, satu-satunya langkah yang harus diambil adalah proses damai. Ibu harus bertemu dengan Warso. Ini urusan intern Ibu dan Warso, kami polisi hanya menjalankan tugas, menjalankan pasal 170 KUHP.”
“Saya sudah berkali-kali menelpon pelapor, tapi tidak diangkat, dua hari lalu, saya bertemu dengan dia, saya minta maaf atas perbuatan putera saya dan dua temannya, tapi dia bilang akan berembuk dulu dengan saudaranya. Saya bingung harus bagaimana lagi? Sementara tempat tinggal dia sendiri tidak jelas di mana.”
“Ya, Ibu harus sabar, terus saja hubungi dia…”
Marina termenung. Hari pertama, ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, keenam hingga ke tujuh, semuanya sama. Sang putera tetap mendekap di dalam sel tahanan dengan solusi yang tak jelas. Ia menguhubung rekan-rekan persnya, Lembaga Bantuan Hukum, menghubungi siapa saja yang dirasanya bisa meringankan bebannya, jawaban tetap sama, berdamai dengan si pelapor. Damai adalah satu kata yang memenuhi tiap rongga benaknya. Kata ‘damai’ yang seharusnya mendamaikan hatinya, kini berbalik menjadi satu kata yang sangat porak-poranda, kata itu mencabik-cabik perasaannya. Semua yang disarankan polisi sudah kulakukan, lalu apa lagi?
 “Pak, apakah Bapak tidak tahu kalau Wawan dan Warso itu bekerjasama untuk menipu anak saya? Mengapa bapak hanya melihat dari satu sisi saja? Mengapa penipuan sebesar tiga juta lima ratus ribu rupiah tidak Bapak selidiki? Ada sebab dan ada akibat, Pak. Bapak tolonglah pertimbangkan mengapa anak saya dan dua temannya melakukan ini. Di mana keadilan itu, Pak?” Marina memohon.
“Kami hanya melihat dari sudut pidananya saja, Bu. Sudut pemukulan dan pengeroyokkan. Kami melihat dari sudut pasal 170 KUHP. Hutang piutang adalah perkara perdata.”
“Tapi anak saya dan dua temannya sudah menjelaskan kalau Wawan dan Warso sejak awal tidak mempunyai itikad baik ke Bapak, mereka hendak menipu anak saya dan teman-temannya.”
“Oh, itu kami tidak tahu. Saya memancing anak Ibu datang ke sini melalui Wawan karena laporan Warso yang dikeroyok oleh anak Ibu dan teman-temannya.”
“Padahal Wawan dan Warsolah yang telah menipu anak saya. Saya bingung, Warso mati-matian mengaku tidak tahu alamat Wawan. Namun saat penangkapan, mengapa Wawan bisa dimunculkan, dan Warso terlihat akrab dengan dia. Bapak pun menangkap anak saya dan teman-temannya melalui pancingan SMS itu, tidak ada surat penangkapan terlebih dahulu. Saya sungguh tidak mengerti. Ada apa di balik ini? Ada apa antara proses penangkapan, ada apa antara Wawan dan Warso. Saya bingung…” air mata Marina mengambang.
Marina lelah, hari yang kelabu tak lagi bisa berubah cerah. Hidupnya yang penuh makna kini berganti dengan warna-warna muram dan kusam. Semua jalan terasa buntu. Semua terasa kelu.
“Begini Bu, saya bisa menjadi penengah, kebetulan saya ketua asosiasi pedagang di pasar sini. Ini masalah sepele, nanti saya akan mengadakan pendekatan dengan AIPTU Aldy agar ia mau mengkontak Warso untuk datang,” seorang lelaki berbadan gempal dengan kulit wajah gelap, tiba-tiba menegur Marina yang tengah bersedih di ruang tunggu polsek.
Marina terdiam, hatinya berbunga-bunga. “Bapak bisa membantu saya?”
“Tentu. Dari tadi saya lihat Ibu kelihatan sedih. Siapa nama anak Ibu? Lalu berapa nomor penahanannya? Siapa saja reserse yang menyidik perkaranya? Oh ya, perkenalkan nama saya Suto, panggil saja Pak Suto!”
Lalu, dengan sigap perempuan cerdas yang mendadak hilang akal ini, memberikan seluruh data-data yang diminta pria bernama Suto itu.
“Ibu tenang-tenang dulu di sini ya.Ibu harus sabar, perkara seperti ini musti dihadapi dengan kepala dingin. Yang penting, si Warso mau datang.  Oh ya, tadi saya mengambil  rokok Ji Sam Su sebungkus dan segelas kopi susu. Tolong dibayarkan dulu, ya, Bu!”
Marina mengangguk. Ia menatap tubuh laki-laki gempal itu hingga punggungnya lenyap di balik pintu ruang reserse penyidik. Perasaannya membuncah, secercah harapan muncul. Ia berharap mudah-mudahan hari ini semua perkara beres, putera dan kedua temannya bisa keluar dari  sel. Pria gempal bernama Suto itu, kini menjadi harapannya.
Suto menemui Marina selepas magrib. “Maaf agak lama, Bu. Begini, Bu, setelah ditelpon, Warso berjanji akan datang besok jam tiga sore. Nanti malam dia akan memberitahu Ibu berapa biaya ganti rugi pengobatannya. Menurutnya, bukan hanya fisiknya saja yang sakit, dia sakit hati dan merasa terhina dengan perlakuan anak Ibu dan teman-temannya. Jadi, dia mentotal semua itu menjadi satu paket, Bu.”
Marina mengernyitkan dahi.  “Satu paket? Maksudnya?”
“Begini, Bu. Si Warso minta lima puluh juta rupiah untuk ganti ruginya.”
“Sebanyak itu? Saya uang dari mana? Suami saya pensiunan, saya saja hingga detik ini belum memperoleh honorarium dari tempat saya bekerja. Haduh…”
Suto menundukkan wajahnya. “Nanti saya nego lagi, Bu. Mungkin melalui Pak IPTU Aldy dia mau dengan ganti rugi yang Ibu ajukan. Ibu beraninya berapa?”
“Sesuai dengan visum dokter saja, saya nggak ada uang lagi.”
“Baik, kalau begitu Ibu tunggu berita dari saya, ya? Sekarang Ibu pulang saja dulu, Nanti malam Warso akan menemui saya, hasilnya seperti apa, akan saya laporkan ke Ibu. Yang penting Ibu sabar.  Meski putera Ibu dan dua temannya yang tertipu, dalam kasus ini posisi anak Ibu lemah. Jadi, untuk berdamai semuanya tergantung pada Warso. Ibu berdoa saja agar semuanya berjalan lancar!”
Marina menganggukkan kepala. Kali ini dia benar-benar merasa kehilangan akal. Ia merasa menjadi manusia bodoh yang tak tahu lagi harus berbuat apa. Dua hari lalu, ia sudah menghubungi rekan-rekannya di berbagai media. Saran mereka sama; jika berita ini di blow-up, banyak resiko yang akan diterimanya. Bisa saja sang Kapolsek marah, kemudian menekan anak buahnya untuk bersikap brutal pada puteranya  serta teman-temannya.
“Jangan disebarluaskan dulu, Rina.  Ini kasus kecil. Polisi lagi gerah dengan kasus Gayus, nanti ditambah berita anakmu, mereka bisa kalap. Ujung-ujungnya anakmu dan teman-temannya makin ditekan. Di dalam sel, hukum rimba yang berlaku. Siapa yang kuat, mereka yang menang. Bersabarlah!”
Dengan langkah lesu Marina pamit dari kantor media cetak teman-temannya. Ia melanjutkan langkahnya ke Lembaga Bantuan Hukum yang terletak tidak jauh dari kantor itu, di sana ia berharap memperoleh jawaban yang mencerahkan berkaitan dengan penahanan sang putera. Namun lagi-lagi jalan keluar yang diperolehnya membuat hatinya miris.
“Nanti, setelah dua puluh hari akan ada P-21, artinya anak Ibu dan teman-temannya akan disidang, di sana akan ada tuntutan-tuntutan berdasarkan laporan yang diberikan si teraniaya. Kami bisa membantu Ibu, tapi kalau saya dengar dari penuturan Ibu, anak Ibu dan dua temannya yang bersalah. Mereka telah melanggar pasal 170 KUHP, mereka telah melanggar hukum negara. Kami di sini membantu sesuai dengan hokum yang berlaku.” Tegas seorang pengacara muda tanpa senyum.
Marina mendesah. Hhh…lagi-lagi pasal 170 KUHP. Ia keluar dari ruangan LBH itu dengan wajah muram. Tak ada lagi harapan. Ia menengadah, menatap langit. Matanya mengerjap, beberapa titik gerimis menyentuh kornea matanya. Di sana, di antara dua mata indah miliknya, air mata mengalir membasahi pipi. Kini, apalagi yang harus ia lakukan? Ia bertanya dan terus bertanya.
Inilah kekelaman yang paling kelam yang dirasakan Marina. Hidupnya tak tenang. Keluhan puteranya tentang perlakuan tak adil yang diterimanya di sel itu membuat ia ingin menjerit sekuat-kuatnya. Hingga dini hari ia sulit memejamkan mata. Ungkapan sang putera saat kesakitan dipukul para napi, saat dibentak-bentak polisi, saat diperas harus menyerahkan uang pada pimpinan geng di dalam sel, saat harus tidur dengan penjahat mutilasi, terus-menerus menari-nari di ruang kalbunya. Ia menangis dan  terus menangis. Suaminya dan putera bungsunya juga bersikap sama, mereka menangis tanpa bisa berbuat apa-apa. Jika negoisasi yang dilakukan Suto gagal, jika si pelapor meminta uang ganti rugi puluhan bahkan ratusan juta rupiah, jika si pelapor tak mau berdamai, apa yang harus dilakukannya? Duh…duka ini rasanya bagai sembilu tajam yang mengoyak-ngoyak hampir seluruh persendian tubuhnya.  Malam itu, Marina menunggu kabar dari Suto dengan harapan yang masih samar.

***

Hingga mentari bersinar, Suto tak juga menelponnya. Marina kian gelisah. Degup jantungnya berdebar cepat. Ia merenung, berdoa dan terus berdoa. Jemarinya yang kurus, kemudian menekan tuts-tuts di Hp-nya. Ia menekan nomor Suto. Menunggu beberapa menit. Berharap khabar baik dari Suto. Tak lama suara di ujung sana terdengar. Marina terlongong mendengarnya.
“Bu, Warso tetap minta lima puluh juta. Ibu ada tidak uang sebanyak itu?” suara Suto terdengar datar dan berat.
Kepala Marina bagai dipalu rasanya, sakit sekali dan ia sejenak terdiam.
“Gimana, Bu…ada nggak uangnya?”
“Kan sudah Saya bilang Pak, Saya tidak punya uang sebanyak itu.”
“Ibu pinjam dulu sama siapa, kek. Ok, saya tunggu khabar dari Ibu. Jika tidak bisa, saya lepas tangan.”  Suto mematikan Hp-nya.
Marina kembali menitikkan air mata. Ia kembali menengadah langit, dengan air mata berlinang ia memohon agar Tuhan mengirimkan malaikat penolong untuknya. Dan tampaknya, doa itu terjawab.  Di tengah keputusasaan yang mendera batinnya, Hp-nya kembali berdering.
“Tante, aku sudah menghubungi temanku yang polisi, dia juga telah menelpon Warso. Awalnya Warso minta dua puluh juta. Tapi, setelah terjadi tawar-menawar, dia mau turun menjadi dua belas juta lima ratus ribu. Tante jangan takut, nanti saya cari bantuan untuk membiayainya.” Suara keponakannya Johan terdengar dari Hp-nya.  
Marina mengerjapkan mata, lalu menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. Secercah harapan muncul.  Keesokkan harinya, kakak iparnya yang pengusaha memberinya bantuan uang sebesar sepuluh juta rupiah. Tinggal dua juta setengah lagi, pikirnya. Perempuan berwajah manis ini, tanpa pikir panjang lagi segera menelpon  suaminya. Uang dua juta lima ratus ribu berhasil dipinjam suaminya dari seorang teman. Saat itu juga Marina menelpon sang keponakan.
“Oke Tante, besok Warso datang ke Polsek setelah makan siang. Tadi dia setuju dengan harga nego dua belas juta lima ratus ribu rupiah. Penyidik Aldy sudah menelponnya, nanti proses penyerahan uang berlangsung di ruang penyidik pembantu Aris.” Ujar Johan. “Kalau sudah beres, jangan lupa telpon aku ya tante!”
Marina setuju. Keesokkan harinya, sebelum makan siang ia sudah berada di ruang neyidik AIPTU Aldy. Warso belum datang. Ketika penyidik pembantu Aris datang dan mengabarkan Warso sudah ada di kantin, Penyidik Aldy menyuruh Aris memanggilnya. “Katakan padanya untuk cepat kesini.”
“Baik, Pak.”
“Cepat sekali Warso datang kalau Bapak yang panggil, ya? Saya berkali-kali memanggil dia tapi tak pernah dijawab, andai pun menjawab, Warso selalu mengatakan, tunggu satu atau dua hari lagi, saya akan berembuk dengan saudara saya. Saya aneh saja, menagapa kalau dipanggil polisi dia datang dengan cepat. Ada apa di balik semua ini?” tanya Marina.
“Sudah Ibu diam, ibu mau masalah ini selesai atau tidak?  Ibu beruntung hanya membayar dua belas setengah juta lima ratus ribu rupiah. Coba kalau tidak,  Warso bisa kabur lagi…” ujar BRIPTU Umar yang menjadi juru ketik pencabutan surat tuntutan perkara.
Marina diam. Seorang polisi  yang bernama Jalil memanggilnya. Polisi itu mengajaknya bicara empat mata. Katanya, “Nanti, Ibu jangan ngasih terlalu banyak ke orang yang mengetik surat pernyataan bersama untuk berdamai itu. Cukup segini saja…” Polisi itu memperlihatkan telunjuknya.
“Maksud Bapak?”
“Ia, Ibu cukup beri dia satu juta saja.”
“Wah, ada uang lain lagi yang harus saya berikan selain dua belas juta lima ratus ribu itu?” tanya Marina bingung.
“Iya, Bu.”
“Waduh, saya sudah tidak ada uang lagi, Pak. Uang saya tinggal dua puluh lima ribu. Tadi, menurut Warso, dia yang akan membagi teman-teman Bapak dari uang yang dua belas juta lima ratus ribu rupiah itu.”
“O begitu, ya sudah. Ibu tunggu saja sampai surat-suratnya selesai.” Ujar polisi yang bernama  Umar itu.
Akhirnya, surat pernyataan bersama untuk berdamai itu pun selesai sudah. Warso yang bernama lengkap Wiharso, menerima uang dua belas juta lima ratus ribu dengan nafas lega. Ia menyerahkan uang itu pada rekannya, seorang laki-laki bertubuh kurus yang selalu ikut kemana saja ia pergi. Sikap Warso sungguh elegan, ia seperti tidak butuh dengan uang yang berada di dalam amplop putih itu. Perutnya yang buncit bergerak-gerak, mirip balon udara yang sedang ditiup. Wajahnya yang penuh lubang bekas jerawat, seolah berkata kalau dirinya telah memenangkan perkara ini.
Marina disuruh menunggu di luar ruangan ketika surat itu ditandatangani Warso. Ia memang tidak mau tahu apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Ia hanya ingin puteranya cepat-cepat keluar dari sel, setelah itu mereka pulang dan melupakan semua peristiwa yang telah terjadi. Entah, andai pun ada konspirasi di dalamnya, ia merasa itu bukan urusannya lagi. Sang penipu, pelapor dan si tertipu telah selesai menjalankan misinya.
Ketika ia membaca surat pernyataan bersama yang sudah selesai diketik oleh BRIPTU Umar, Marina tahu sang putera dan dua temannya memang benar-benar telah kalah. Di surat pernyataan itu tertera bahwa mereka tidak boleh dendam pada si pelapor, di kemudian hari tidak boleh mengulangi perbuatannya, ketiganya dilarang melanjutkan perkara pengeroyokan itu ke pengadilan, kedua belah pihak tidak saling menuntut baik secara pidana maupun perdata. Jika dilanggar, maka mereka akan dituntut melalui jalur hukum, dan surat itu ditandatangani di atas meterai.
“Inilah keadilan yang harus kalian terima. Lain kali, kalau berbisnis dan menagih hutang harus dengan bukti-bukti yang lengkap!” ujar Marina pada puteranya.

***

“Sudah beres, Pak.  Saya sudah ambil tiga juta lima ratus ribu. Sisanya saya taruh di atas meja Bapak. Itu yang telah kita sepakati, kan Pak?”
“Seharusnya kamu bisa mendapatkan lebih dari itu. Ibunya kan wartawati, masak sih dia tidak punya uang?”
“Saya sudah minta lima puluh juta,  Pak. Bahkan ketika keponakannya menelpon saya, saya ajukan menjadi dua puluh juta. Tapi dia tidak uang lagi.”
“Sudahlah. Ingat, kamu tutup mulut dengan semua ini. Kamu  cari mangsa baru, siapa tahu ada bos pedagang daging sapi potong yang bisa kita perlakukan seperti ini. Lumayan, seminggu bisa memperoleh dua belas juta  limaratus ribu.”
“Baik, Pak. Nanti saya cari mangsa baru.” Warso berdiri, lalu berjalan ke luar ruangan.
Pintu ruang  itu kemudian tertutup rapat.  Di dalamnya ada beberapa kasus yang sedang ditangani. Salah satunya kasus penipuan enam buah mobil yang disewa dari sebuah rental mobil. Anehnya, dua hari kemudian sang penipu bisa melenggang dengan bebas menghirup udara terbuka. Melihat itu, Marina hanya bergumam perlahan, inilah hukum di negeri ini, benar-benar KUHP, Kasih Uang Habis Perkara!  (Kisah ini habis sampai di sini, semoga tidak ada lagi kisah yang sama)…


Depok, Februari Kelabu 2011









0 comments: