Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
-
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mah...
-
Rumah Oleh : Fanny J.Poyk Seharusnya rumah itu bisa menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa saja yang kenal dekat dengan p...
-
Top of Form Bottom of Form Luka Erika Oleh : Fanny J.Poyk Dirimu ibarat pualam, putih bersih, bersinar...
-
Dadong Kerti Oleh Fanny J.Poyk Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas ka...
-
Juminten Oleh : Fanny J. Poyk Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedi...
-
Isteri Untuk Suamiku Oleh : Fanny J. Poyk Melihat hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi yang diberikan dr, Drew, ...
-
Datanglah kesini Mae, kehadiranmu membuatku terhibur. Aku tertekan dengan situasi, sebagai ras dengan stigma teroris aku sang...
-
Mimpi Oleh : Fanny J.Poyk Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya ber...
-
Aku dan Cinta Oleh Fanny J. Poyk Kutulis kisah ini tanpa menyinggung siapa yang telah kusinggung dan siapa yang telah t...
-
Ketika Ken Marah Oleh: Fanny J.Poyk Di penghujung waktu amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama s...
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Negeri Para Bandit
Oleh : Fanny J.Poyk
Siang
itu rencananya Marina
akan meliput sebuah berita pembukaan pembinaan olimpiade fisika di sebuah
universitas negeri ternama yang terletak di Depok, Jawa Barat. Ia mempersiapkan
segala sesuatu yang berkaitan dengan peliputan. Kamera, tape perekam, cassette,
dan notes kecil serta pulpen, dimasukkannya ke dalam tas ransel yang selalu ia
bawa.
Perempuan berusia empat
puluh tahun ini masih enerjik. Usai memperoleh rasionalisasi dari sebuah
perusahaan media lokal tempatnya bekerja dulu, ia langsung diterima untuk
menangani majalah intern yang konsern pada berita-berita pendidikan dari sebuah
lembaga pendidikan negeri. Marina sangat
menikmati pekerjaannya, ia sudah mengelilingi hampir seluruh Indonesia untuk
meliput sekolah-sekolah terbaik yang ada di negara ini. Perjalanan karirnya
penuh warna, kadang ia berada di ruangan menteri, mendengar dan mewawancarai
sistem pendidikan yang sedang dijalankan, kadang ia ada di negara tetangga, meliput
keberhasilan sekolah-sekolah di sana
dan menulis laporan yang dapat menjadi study banding bagi sekolah-sekolah lain.
Kadang ia menulis berita olahraga, kadang ia menulis berita sains, terkadang
pula ia bergelut dengan berita-berita seni yang sangat disukainya. Dan
terkadang…ia menulis cerpen, novel serta buku-buku motivasi untuk para remaja
dan umum.
Ya, perempuan bernama Marina ini adalah Ibu
dari dua anak lelaki. Satu anaknya sudah dewasa, lulusan Sastra Inggris dari
sebuah universitas swasta di Jakarta Timur. Ia adalah potret ibu mandiri yang berkembang
secara pasti mengikuti arus jaman. Kadang dia bisa berubah dari seorang
perempuan perkasa menjadi perempuan lembut yang sangat memerhatikan anak-anak
dan keluarganya. Kadang dia juga bisa berubah menjadi perempuan lemah yang tak
berdaya dalam menghadapi situasi ‘gawat
darurat’ yang menimpa dirinya.
Seperti saat ini, ‘keterkadangan’
itu membawa hidupnya serasa di titik nadir. Semua itu berawal ketika Hp-nya
berdering. Marina
yang semula menjalani kehidupan tanpa lonjakan-lonjakan emosional yang berarti,
kini harus merasakan itu. Ia harus
menekan perasaannya, ia harus menahan air matanya, ia harus bertarung untuk
sebuah keadilan yang masih berupa bayang-bayang samar. Dan ketika dering Hp-nya
kembali berbunyi, naluri keibuannya tumbuh berkali-kali lipat. Dia tertegun
mendengar suara yang ada di Hp-nya, itu suara suaminya. “Kamu jangan kaget, anakmu masuk sel, dia
ditahan dengan tuduhan pengeroyokan, perampasan dan percobaan pembunuhan.”
Suara suaminya yang
bariton itu membuatnya terdiam. Marina
termangu. “Apa, masuk sel? Tidak, ini tidak mungkin.” Desisnya hampir tak
terdengar.
“Benar, nanti ku-forward SMS anak kita ke Hp-mu. Sekarang
kamu cepat ke Polsek yang terletak di daerah Bojong Kimpul. Dia ada di sana.” Ujar suaminya
lagi.
Marina menarik kursi, duduk sejenak. Lalu, ia memandang
lurus ke depan. Beberapa menit kemudian tangisnya meledak. Ia menjerit
memanggil-manggil nama puteranya. Ingatannya melayang jauh, mengilas balik kenangan
saat kelahiran anaknya, ia begitu mencintai puteranya, begitu melindunginya.
Tapi kini, sang putera kesayangan menjerit pilu dari balik sel tahanan
kepolisian. Inilah lolongan tangis terpanjang yang pernah dikeluarkannya.
Pa, di dalam sel ini sadis, baru masuk aku sudah dipukuli,
dadaku ditonjok, kepalaku diadu ke tembok. Mereka nyang menahanku seolah
memberikan daging mentah pada para tahanan yang ada di dalam sel. Aku
benar-benar kesakitan…
SMS yang diforward suaminya membuat jantung Marina berdetak cepat. Segera
perempuan ini meraih baju hangatnya, berjalan tergesa menuju rumah tetangganya,
ia meyakini sang tetangga yang mantan Kapolsek itu sanggup membantunya.
“Tolong Pak Tagor, anak
saya ditahan di Polsek Bojong Kimpul. Dia di sel, Pak…” katanya tergesa dengan
nafas memburu.
“Lho, apa yang terjadi?”
“Ah, entahlah. Nanti saya
tanya suami saya dulu.” Marina
kembali meneteskan air matanya.
Dan inilah kronologis
ceritanya. Kala itu, Senin 31 januari, puteranya yang akrab disapa Joe, datang
ke penjagalan sapi bersama dua temannya, Dayat dan Sopian. Ketiganya sejak setahun
ini bekerjasama bisnis daging sapi potong. Mereka berencana untuk mengambil
daging sapi di sebuah penjagalan sapi yang terletak di Jatiasih, Bekasi. Tiba
di lokasi, ketiganya bertemu dengan Wawan dan Warso, dua orang ini marketing
daging sapi potong di tempat penjagalan itu.
Joe, Dayat dan Sopian
menyerahkan uang sebesar tiga juta setengah kepada kedua orang itu sebagai uang
muka. Uang kemudian dihitung Warso. Dua orang ini lalu meminta Joe dkk menunggu
di luar penjagalan. Setelah menunggu seharian, Warso keluar dan membawa daging
sapi untuk diperlihatkan ke Joe Cs. Ketiga pedagang sapi ini kemudian menitipkan bongkahan-bongkahan
daging pada Warso untuk ditaruh di lemari es yang ada di penjagalan terlebih
dahulu, mereka akan makan siang dahulu sebelum kembali ke Pasar Kemiri Depok,
Jawa Barat.
Usai makan, mereka
mencari Wawan dan Warso. Wawan tak tampak batang hidungnya, yang terlihat hanya
Warso. Ketiganya langsung menanyakan keberadaan daging sapi yang mereka
titipkan tadi.
“Maaf, daging kalian
lenyap. Sepertinya sudah dibawa Wawan…” Wajah Warso seperti tanpa dosa
melaporkan hilangnya bongkahan daging itu pada Joe dan teman-temannya.
Laki-laki berwajah innocent dan bertumbuh
tambun itu dengan ringan menambahkan kalau ia tak bertanggungjawab atas
hilangnya bongkahan-bongkahan daging tersebut. Menurutnya, yang harus bertanggungjawab
atas semua ini, adalah Wawan. “Pasti Wawan yang bawa kabur daging-daging itu. Setelah saya taruh bongkahan daging di kulkas,
saya melanjutkan pekerjaan saya. Saya sibuk sekali dan nggak tahu apa yang
sudah terjadi.”
Joe, Dayat dan Sopian
naik pitam. Mereka lelah menunggu seharian. Rasa sakit hati dibohongi membuat
mereka meradang. Terlebih lagi uang muka sebesar tiga juta lima ratus ribu itu hasil dari menggandaikan
motor Joe dan Dayat. Dalam angan mereka, jika keuntungan hasil berjualan daging
diperoleh, mereka akan menebus kembali motor-motor yang telah mereka
gadaikan. Ketiga laki-laki terlongong
bagai macan ompong yang kehilangan gigi. Mereka sadar kalau mereka telah
tertipu, penipuan berencana yang sistematis.
Ketiganya kemudian mencekal
tangan Warso, menuntut uang mereka dikembalikan. Semula, pria gempal itu hendak
masuk ke mobilnya, ia seolah merasa diri tak bersalah. Namun, sebelum ia benar-benar kabur, Joe, Dayat dan Sopian memaksanya untuk
memberitahukan di mana Wawan berada. Mereka yakin Warso tahu, sebab tatkala
menerima uang, Warso yang menghitungnya,
mereka tampak akrab dan telah menjadi partner yang cukup lama.
“Benar, saya nggak tahu
di mana Wawan berada. Saya nggak bohong.” Warso terus bersikeras menyangkal.
“Tadi kamu kan yang melarang kita
ikut masuk ke dalam, kita curiga, jangan-jangan di dalam kamu sudah
merencanakan ini semua.” Bentak Dayat.
“Sungguh saya tidak tahu
di mana Wawan!”
“Bohong, lalu mana
dagingnya?”
“Sumpah saya nggak tahu!”
Warso berteriak, wajahnya tampak geram. “Kalian jangan maksa saya dong!”
tantangnya.
“Lho, bagaimana nggak
maksa, uang kamu yang hitung, kamu dan Wawan tidak mengijinkan kita masuk ke
penjagalan, kalian yang mengurus semuanya. Lalu, ketika daging-daging itu tidak
ada, kamu lepas tangan. Harusnya kamu ikut bertanggungjawab, dong!” bentak Joe.
“Apa lu? Lu nuduh gua,
ya?” Warso mengepalkan tinjunya, menyodorkan perutnya yang buncit ke tubuh Joe.
Ia mendesak, seolah berharap Joe merespon tantangannya.
Dan akhirnya semua
terjadi begitu cepat. Dayat terpancing emosinya
dan langsung meninju wajah Warso, disusul kemudian Joe dan Sopian. Amarah
ketiganya menaik tinggi. lalu mereka menghajar laki-laki gendut itu hingga
babak belur. Usai tragedi itu, ketiganya memaksa Warso untuk menunjukkan di
mana Wawan berada. Dengan mobil
pinjaman, mereka berputar-putar mencari alamat Wawan, Warso tetap bersikukuh
tidak tahu di mana tempat tinggal teman bisnisnya itu. Pencarian yang melelahkan tidak membuahkan
hasil. Di tengah rasa letih bercampur amarah, ketiganya melepaskan Warso di
depan sebuah mal yang terletak di daerah Pondok Gede. Dada Warso bergemuruh,
genderang perang sudah ia pukul, malam itu, langkahnya yang terseok
menggiringnya ke polsek Bojong Kimpul, di sana ada saudaranya, ia akan
melaporkan semua peristiwa yang dialaminya pada saudaranya itu.
“Aku akan membuat
perhitungan dengan kalian, tunggu saja!” gumamnya.
Malam yang biru
menggiring Warso ke Polsek Bojong Kimpul. Pria bertubuh gempal ini tertawa
meringis ketika tim penyidik bersiap-siap memancing tiga serangkai pebisnis
daging itu untuk dijebloskan ke dalam sel.
“Oke, kita akan pancing mereka
supaya datang. Kamu tahu nomer telepon Wawan?” tanya AIPTU Aldy pada Warso.
Saudaranya BRIPTU Amir selalu berada di sisinya.
“Tahu, Pak.”
“Ya sudah, cepat telpon
dia supaya datang ke Polsek!” perintahnya.
Warso dengan sigap
mengirim SMS ke Wawan. Lu ada di mana?
Masih di kontrakkan? Cepetan kesini, lu disuruh nelpon Dayat, Joe ama Sopian
supaya dateng, kata polisi pancing aja, bilang lu mau bayar utang yang tiga
juta setengah itu!
Lalu, SMS Wawan meluncur
dengan aman ke HP Dayat. Mata lelaki bergigi ompong ini berbinar. Hm…ini saatnya
gue peras mereka, katanya dalam hati. Yat, lu ke Pasar Pondok Gede ya, ajak Joe,
gue mau bayar utang yang tiga juta lima ratus ribu itu, gak enak
gue dituduh penipu…
Dayat dan Sopian
terperangah. Begitu juga Joe. SMS itu sangat menggembirakan. Setitik sinar
cerah muncul, melalui SMS itu mereka berharap bisnis akan kembali lancar. Malam kian dingin,
hujan yang turun sejak pagi masih terus giat bekerja menumpahkan airnya ke
bumi. Ketiganya berembuk di rumah Joe. kemudian
mereka meminjam mobil seorang sahabat Joe untuk segera meluncur ke Pondok Gede
Atrium tempat yang dijanjikan Wawan.
“Tumben Si Wawan nyadar,
biasanya dia kabur-kaburan. Hutangnya ama si Bejo yang ratusan juta aja, sampai
sekarang belum dibayar. “ Joe sedikit curiga.
“Mungkin dia tahu kalau
dia salah bawa lari duit hasil gadein motor kita bertiga. Perutnya panas kali
kalau makan uang itu…” sambung Sopian.
“Si Warso jangan-jangan
ngadu lagi sama polisi.” Joe masih curiga.
“Ah, nggak mungkin. Dia kan udah kerjasama sama
Wawan. Dia juga salah, udah nipu kita.” Dayat berkata.
Di tengah rintiknya
hujan, malam itu ketiganya meluncur dengan mobil pinjaman ke Pondok Gede
Atrium. Langit muram mengandung beribu
misteri yang berisi ratusan rahasia tak terduga untuk ketiga pria berusia tiga
puluh tahunan ini. Mereka tak menduga di ujung rasa gembira akan ada prahara
gelap yang akan menimpa mereka.
Ketiganya tertegun
tatkala melihat Warso, Wawan dan beberapa tim buser dari Polsek Bojong Kimpul
telah siap di depan pintu masuk Atrium.
Kemudian kelompok ini memborgol tangan Joe, Dayat dan Sopian dengan kasar.
Mereka di gelandang masuk sel tanpa surat
penahanan, atau surat
apa pun. Di bawah bentakan dan makian kasar para polisi yang memposisikan
mereka sebagai penjahat kelas kakap, mereka menekan dan membentak ketiganya untuk
menandatangani BAP. Dalam keadaan bingung, tiga laki-laki ini menandagani
semuanya tanpa komentar. Satu tuduhan yang disampaikan AIPTU Aldy adalah,
mereka melanggar pasal 170 KUHP. Dua hari kemudian, mereka diharuskan
menandatangani kembali BAP tentang pasal perampasan dan percobaan pembunuhan,
tuduhan itu berdasarkan laporan tambahan Warso karena ketiganya merampas
uangnya sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah serta pencobaan penggilasan
dengan mobil yang dipinjam ketiganya.
Warso dan Wawan tersenyum
tipis tatkala Joe, Dayat dan Sopian telah dijebloskan ke dalam sel. AIPTU ALdy
dan empat tim buser yang menjadi penyidik ketiganya, memberi komentar pada
Marina, “Anak Ibu saya pancing, kami menahan anak Ibu dan dua temannya berdasarkan
pasal 5 ayat (1) b angka 1, Pasal 7 ayat
(1) huruf d, Pasal 11, Pasal 16 ayat (2), Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 37
dan Pasal 111 ayat (1) KUHP, UU. RI No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia.
Kami polisi menjalankan tugas. Jika Ibu ingin semua ini beres, Ibu berdamailah
dengan si pelapor, Polisi tidak ikut campur, sebab jika BAP kami tarik tanpa
persetujuan si pelapor, kami yang salah, kami mempertaruhkan jabatan kami…”
Marina berdiri gamang. Berhari-hari ia menghubungi Warso
untuk berdamai dan bersedia mengganti rugi biaya pengobatan yang menimpa
laki-laki itu. Namun Warso tidak pernah tampak batang hidungnya. Wawan pun
lenyap di telan bumi. Berkali-kali pula ia menghadap AIPTU Aldy untuk mencari solusi
terbaik demi puteranya, sang penyidik tetap bersikukuh, “Tidak ada jalan lain,
satu-satunya langkah yang harus diambil adalah proses damai. Ibu harus bertemu dengan
Warso. Ini urusan intern Ibu dan Warso, kami polisi hanya menjalankan tugas,
menjalankan pasal 170 KUHP.”
“Saya sudah berkali-kali
menelpon pelapor, tapi tidak diangkat, dua hari lalu, saya bertemu dengan dia,
saya minta maaf atas perbuatan putera saya dan dua temannya, tapi dia bilang
akan berembuk dulu dengan saudaranya. Saya bingung harus bagaimana lagi? Sementara
tempat tinggal dia sendiri tidak jelas di mana.”
“Ya, Ibu harus sabar,
terus saja hubungi dia…”
Marina termenung. Hari pertama, ke dua, ke tiga, ke empat,
ke lima, keenam
hingga ke tujuh, semuanya sama. Sang putera tetap mendekap di dalam sel tahanan
dengan solusi yang tak jelas. Ia menguhubung rekan-rekan persnya, Lembaga
Bantuan Hukum, menghubungi siapa saja yang dirasanya bisa meringankan bebannya,
jawaban tetap sama, berdamai dengan si pelapor. Damai adalah satu kata yang
memenuhi tiap rongga benaknya. Kata ‘damai’ yang seharusnya mendamaikan
hatinya, kini berbalik menjadi satu kata yang sangat porak-poranda, kata itu
mencabik-cabik perasaannya. Semua yang disarankan polisi sudah kulakukan, lalu
apa lagi?
“Pak, apakah Bapak tidak tahu kalau Wawan dan
Warso itu bekerjasama untuk menipu anak saya? Mengapa bapak hanya melihat dari
satu sisi saja? Mengapa penipuan sebesar tiga juta lima ratus ribu rupiah tidak Bapak selidiki? Ada sebab dan ada akibat,
Pak. Bapak tolonglah pertimbangkan mengapa anak saya dan dua temannya melakukan
ini. Di mana keadilan itu, Pak?” Marina
memohon.
“Kami hanya melihat dari
sudut pidananya saja, Bu. Sudut pemukulan dan pengeroyokkan. Kami melihat dari
sudut pasal 170 KUHP. Hutang piutang adalah perkara perdata.”
“Tapi anak saya dan dua
temannya sudah menjelaskan kalau Wawan dan Warso sejak awal tidak mempunyai
itikad baik ke Bapak, mereka hendak menipu anak saya dan teman-temannya.”
“Oh, itu kami tidak tahu.
Saya memancing anak Ibu datang ke sini melalui Wawan karena laporan Warso yang
dikeroyok oleh anak Ibu dan teman-temannya.”
“Padahal Wawan dan
Warsolah yang telah menipu anak saya. Saya bingung, Warso mati-matian mengaku
tidak tahu alamat Wawan. Namun saat penangkapan, mengapa Wawan bisa
dimunculkan, dan Warso terlihat akrab dengan dia. Bapak pun menangkap anak saya
dan teman-temannya melalui pancingan SMS itu, tidak ada surat penangkapan terlebih dahulu. Saya sungguh
tidak mengerti. Ada
apa di balik ini? Ada
apa antara proses penangkapan, ada apa antara Wawan dan Warso. Saya bingung…”
air mata Marina
mengambang.
Marina lelah, hari yang kelabu tak lagi bisa berubah cerah.
Hidupnya yang penuh makna kini berganti dengan warna-warna muram dan kusam.
Semua jalan terasa buntu. Semua terasa kelu.
“Begini Bu, saya bisa
menjadi penengah, kebetulan saya ketua asosiasi pedagang di pasar sini. Ini
masalah sepele, nanti saya akan mengadakan pendekatan dengan AIPTU Aldy agar ia
mau mengkontak Warso untuk datang,” seorang lelaki berbadan gempal dengan kulit
wajah gelap, tiba-tiba menegur Marina
yang tengah bersedih di ruang tunggu polsek.
Marina terdiam, hatinya berbunga-bunga. “Bapak bisa membantu
saya?”
“Tentu. Dari tadi saya
lihat Ibu kelihatan sedih. Siapa nama anak Ibu? Lalu berapa nomor penahanannya?
Siapa saja reserse yang menyidik perkaranya? Oh ya, perkenalkan nama saya Suto,
panggil saja Pak Suto!”
Lalu, dengan sigap
perempuan cerdas yang mendadak hilang akal ini, memberikan seluruh data-data yang
diminta pria bernama Suto itu.
“Ibu tenang-tenang dulu
di sini ya.Ibu harus sabar, perkara seperti ini musti dihadapi dengan kepala
dingin. Yang penting, si Warso mau datang. Oh ya, tadi saya mengambil rokok Ji Sam Su sebungkus dan segelas kopi
susu. Tolong dibayarkan dulu, ya, Bu!”
Marina mengangguk. Ia menatap tubuh laki-laki gempal itu
hingga punggungnya lenyap di balik pintu ruang reserse penyidik. Perasaannya
membuncah, secercah harapan muncul. Ia berharap mudah-mudahan hari ini semua
perkara beres, putera dan kedua temannya bisa keluar dari sel. Pria gempal bernama Suto itu, kini menjadi
harapannya.
Suto menemui Marina selepas magrib.
“Maaf agak lama, Bu. Begini, Bu, setelah ditelpon, Warso berjanji akan datang
besok jam tiga sore. Nanti malam dia akan memberitahu Ibu berapa biaya ganti
rugi pengobatannya. Menurutnya, bukan hanya fisiknya saja yang sakit, dia sakit
hati dan merasa terhina dengan perlakuan anak Ibu dan teman-temannya. Jadi, dia
mentotal semua itu menjadi satu paket, Bu.”
Marina mengernyitkan dahi. “Satu paket? Maksudnya?”
“Begini, Bu. Si Warso
minta lima puluh
juta rupiah untuk ganti ruginya.”
“Sebanyak itu? Saya uang
dari mana? Suami saya pensiunan, saya saja hingga detik ini belum memperoleh
honorarium dari tempat saya bekerja. Haduh…”
Suto menundukkan
wajahnya. “Nanti saya nego lagi, Bu. Mungkin melalui Pak IPTU Aldy dia mau
dengan ganti rugi yang Ibu ajukan. Ibu beraninya berapa?”
“Sesuai dengan visum
dokter saja, saya nggak ada uang lagi.”
“Baik, kalau begitu Ibu
tunggu berita dari saya, ya? Sekarang Ibu pulang saja dulu, Nanti malam Warso
akan menemui saya, hasilnya seperti apa, akan saya laporkan ke Ibu. Yang
penting Ibu sabar. Meski putera Ibu dan
dua temannya yang tertipu, dalam kasus ini posisi anak Ibu lemah. Jadi, untuk
berdamai semuanya tergantung pada Warso. Ibu berdoa saja agar semuanya berjalan
lancar!”
Marina menganggukkan kepala. Kali ini dia benar-benar merasa
kehilangan akal. Ia merasa menjadi manusia bodoh yang tak tahu lagi harus
berbuat apa. Dua hari lalu, ia sudah menghubungi rekan-rekannya di berbagai
media. Saran mereka sama; jika berita ini di blow-up, banyak resiko yang akan diterimanya. Bisa saja sang
Kapolsek marah, kemudian menekan anak buahnya untuk bersikap brutal pada puteranya
serta teman-temannya.
“Jangan disebarluaskan
dulu, Rina. Ini kasus kecil. Polisi lagi
gerah dengan kasus Gayus, nanti ditambah berita anakmu, mereka bisa kalap.
Ujung-ujungnya anakmu dan teman-temannya makin ditekan. Di dalam sel, hukum
rimba yang berlaku. Siapa yang kuat, mereka yang menang. Bersabarlah!”
Dengan langkah lesu Marina pamit dari kantor
media cetak teman-temannya. Ia melanjutkan langkahnya ke Lembaga Bantuan Hukum
yang terletak tidak jauh dari kantor itu, di sana ia berharap memperoleh jawaban yang mencerahkan
berkaitan dengan penahanan sang putera. Namun lagi-lagi jalan keluar yang
diperolehnya membuat hatinya miris.
“Nanti, setelah dua puluh
hari akan ada P-21, artinya anak Ibu dan teman-temannya akan disidang, di sana akan ada
tuntutan-tuntutan berdasarkan laporan yang diberikan si teraniaya. Kami bisa
membantu Ibu, tapi kalau saya dengar dari penuturan Ibu, anak Ibu dan dua
temannya yang bersalah. Mereka telah melanggar pasal 170 KUHP, mereka telah melanggar
hukum negara. Kami di sini membantu sesuai dengan hokum yang berlaku.” Tegas
seorang pengacara muda tanpa senyum.
Marina mendesah. Hhh…lagi-lagi pasal 170 KUHP. Ia keluar
dari ruangan LBH itu dengan wajah muram. Tak ada lagi harapan. Ia menengadah,
menatap langit. Matanya mengerjap, beberapa titik gerimis menyentuh kornea
matanya. Di sana,
di antara dua mata indah miliknya, air mata mengalir membasahi pipi. Kini,
apalagi yang harus ia lakukan? Ia bertanya dan terus bertanya.
Inilah kekelaman yang
paling kelam yang dirasakan Marina.
Hidupnya tak tenang. Keluhan puteranya tentang perlakuan tak adil yang
diterimanya di sel itu membuat ia ingin menjerit sekuat-kuatnya. Hingga dini
hari ia sulit memejamkan mata. Ungkapan sang putera saat kesakitan dipukul para
napi, saat dibentak-bentak polisi, saat diperas harus menyerahkan uang pada
pimpinan geng di dalam sel, saat harus tidur dengan penjahat mutilasi, terus-menerus
menari-nari di ruang kalbunya. Ia menangis dan
terus menangis. Suaminya dan putera bungsunya juga bersikap sama, mereka
menangis tanpa bisa berbuat apa-apa. Jika negoisasi yang dilakukan Suto gagal,
jika si pelapor meminta uang ganti rugi puluhan bahkan ratusan juta rupiah,
jika si pelapor tak mau berdamai, apa yang harus dilakukannya? Duh…duka ini
rasanya bagai sembilu tajam yang mengoyak-ngoyak hampir seluruh persendian
tubuhnya. Malam itu, Marina menunggu kabar dari Suto dengan harapan
yang masih samar.
***
Hingga mentari bersinar,
Suto tak juga menelponnya. Marina
kian gelisah. Degup jantungnya berdebar cepat. Ia merenung, berdoa dan terus
berdoa. Jemarinya yang kurus, kemudian menekan tuts-tuts di Hp-nya. Ia menekan
nomor Suto. Menunggu beberapa menit. Berharap khabar baik dari Suto. Tak lama
suara di ujung sana
terdengar. Marina
terlongong mendengarnya.
“Bu, Warso tetap minta lima puluh juta. Ibu ada
tidak uang sebanyak itu?” suara Suto terdengar datar dan berat.
Kepala Marina bagai
dipalu rasanya, sakit sekali dan ia sejenak terdiam.
“Gimana, Bu…ada nggak
uangnya?”
“Kan sudah Saya bilang Pak, Saya tidak punya
uang sebanyak itu.”
“Ibu pinjam dulu sama
siapa, kek. Ok, saya tunggu khabar dari Ibu. Jika tidak bisa, saya lepas
tangan.” Suto mematikan Hp-nya.
Marina kembali menitikkan air mata. Ia kembali menengadah
langit, dengan air mata berlinang ia memohon agar Tuhan mengirimkan malaikat
penolong untuknya. Dan tampaknya, doa itu terjawab. Di tengah keputusasaan yang mendera batinnya,
Hp-nya kembali berdering.
“Tante, aku sudah
menghubungi temanku yang polisi, dia juga telah menelpon Warso. Awalnya Warso
minta dua puluh juta. Tapi, setelah terjadi tawar-menawar, dia mau turun
menjadi dua belas juta lima
ratus ribu. Tante jangan takut, nanti saya cari bantuan untuk membiayainya.”
Suara keponakannya Johan terdengar dari Hp-nya.
Marina mengerjapkan mata, lalu menghapus air mata itu dengan
punggung tangannya. Secercah harapan muncul. Keesokkan harinya, kakak iparnya yang
pengusaha memberinya bantuan uang sebesar sepuluh juta rupiah. Tinggal dua juta
setengah lagi, pikirnya. Perempuan berwajah manis ini, tanpa pikir panjang lagi
segera menelpon suaminya. Uang dua juta lima ratus ribu berhasil
dipinjam suaminya dari seorang teman. Saat itu juga Marina menelpon sang keponakan.
“Oke Tante, besok Warso
datang ke Polsek setelah makan siang. Tadi dia setuju dengan harga nego dua
belas juta lima
ratus ribu rupiah. Penyidik Aldy sudah menelponnya, nanti proses penyerahan
uang berlangsung di ruang penyidik pembantu Aris.” Ujar Johan. “Kalau sudah
beres, jangan lupa telpon aku ya tante!”
Marina setuju. Keesokkan harinya, sebelum makan siang ia
sudah berada di ruang neyidik AIPTU Aldy. Warso belum datang. Ketika penyidik
pembantu Aris datang dan mengabarkan Warso sudah ada di kantin, Penyidik Aldy
menyuruh Aris memanggilnya. “Katakan padanya untuk cepat kesini.”
“Baik, Pak.”
“Cepat sekali Warso
datang kalau Bapak yang panggil, ya? Saya berkali-kali memanggil dia tapi tak
pernah dijawab, andai pun menjawab, Warso selalu mengatakan, tunggu satu atau dua
hari lagi, saya akan berembuk dengan saudara saya. Saya aneh saja, menagapa
kalau dipanggil polisi dia datang dengan cepat. Ada
apa di balik semua ini?” tanya Marina.
“Sudah Ibu diam, ibu mau
masalah ini selesai atau tidak? Ibu
beruntung hanya membayar dua belas setengah juta lima ratus ribu rupiah. Coba kalau
tidak, Warso bisa kabur lagi…” ujar
BRIPTU Umar yang menjadi juru ketik pencabutan surat tuntutan perkara.
Marina diam. Seorang polisi
yang bernama Jalil memanggilnya. Polisi itu mengajaknya bicara empat
mata. Katanya, “Nanti, Ibu jangan ngasih terlalu banyak ke orang yang mengetik surat pernyataan bersama
untuk berdamai itu. Cukup segini saja…” Polisi itu memperlihatkan telunjuknya.
“Maksud Bapak?”
“Ia, Ibu cukup beri dia
satu juta saja.”
“Wah, ada uang lain lagi
yang harus saya berikan selain dua belas juta lima
ratus ribu itu?” tanya Marina
bingung.
“Iya, Bu.”
“Waduh, saya sudah tidak
ada uang lagi, Pak. Uang saya tinggal dua puluh lima ribu. Tadi, menurut Warso, dia yang akan
membagi teman-teman Bapak dari uang yang dua belas juta lima ratus ribu rupiah itu.”
“O begitu, ya sudah. Ibu
tunggu saja sampai surat-suratnya selesai.” Ujar polisi yang bernama Umar itu.
Akhirnya, surat pernyataan bersama
untuk berdamai itu pun selesai sudah. Warso yang bernama lengkap Wiharso,
menerima uang dua belas juta lima
ratus ribu dengan nafas lega. Ia menyerahkan uang itu pada rekannya, seorang
laki-laki bertubuh kurus yang selalu ikut kemana saja ia pergi. Sikap Warso
sungguh elegan, ia seperti tidak butuh dengan uang yang berada di dalam amplop
putih itu. Perutnya yang buncit bergerak-gerak, mirip balon udara yang sedang
ditiup. Wajahnya yang penuh lubang bekas jerawat, seolah berkata kalau dirinya
telah memenangkan perkara ini.
Marina disuruh menunggu di luar ruangan
ketika surat
itu ditandatangani Warso. Ia memang tidak mau tahu apa yang terjadi di dalam
ruangan itu. Ia hanya ingin puteranya cepat-cepat keluar dari sel, setelah itu
mereka pulang dan melupakan semua peristiwa yang telah terjadi. Entah, andai pun
ada konspirasi di dalamnya, ia merasa itu bukan urusannya lagi. Sang penipu,
pelapor dan si tertipu telah selesai menjalankan misinya.
Ketika ia membaca surat pernyataan bersama yang sudah selesai diketik oleh BRIPTU
Umar, Marina
tahu sang putera dan dua temannya memang benar-benar telah kalah. Di surat pernyataan itu
tertera bahwa mereka tidak boleh dendam pada si pelapor, di kemudian hari tidak
boleh mengulangi perbuatannya, ketiganya dilarang melanjutkan perkara
pengeroyokan itu ke pengadilan, kedua belah pihak tidak saling menuntut baik
secara pidana maupun perdata. Jika dilanggar, maka mereka akan dituntut melalui
jalur hukum, dan surat
itu ditandatangani di atas meterai.
“Inilah keadilan yang
harus kalian terima. Lain kali, kalau berbisnis dan menagih hutang harus dengan
bukti-bukti yang lengkap!” ujar Marina
pada puteranya.
***
“Sudah beres, Pak. Saya sudah ambil tiga juta lima ratus ribu. Sisanya saya taruh di atas meja
Bapak. Itu yang telah kita sepakati, kan
Pak?”
“Seharusnya kamu bisa
mendapatkan lebih dari itu. Ibunya kan
wartawati, masak sih dia tidak punya uang?”
“Saya sudah minta lima puluh juta, Pak. Bahkan ketika keponakannya menelpon saya,
saya ajukan menjadi dua puluh juta. Tapi dia tidak uang lagi.”
“Sudahlah. Ingat, kamu
tutup mulut dengan semua ini. Kamu cari
mangsa baru, siapa tahu ada bos pedagang daging sapi potong yang bisa kita
perlakukan seperti ini. Lumayan, seminggu bisa memperoleh dua belas juta limaratus ribu.”
“Baik, Pak. Nanti saya
cari mangsa baru.” Warso berdiri, lalu berjalan ke luar ruangan.
Pintu ruang itu kemudian tertutup rapat. Di dalamnya ada beberapa kasus yang sedang
ditangani. Salah satunya kasus penipuan enam buah mobil yang disewa dari sebuah
rental mobil. Anehnya, dua hari kemudian sang penipu bisa melenggang dengan
bebas menghirup udara terbuka. Melihat itu, Marina hanya bergumam perlahan, inilah hukum
di negeri ini, benar-benar KUHP, Kasih Uang Habis Perkara! (Kisah ini habis sampai di sini, semoga tidak
ada lagi kisah yang sama)…
Depok, Februari Kelabu 2011
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....