Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
-
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mah...
-
Rumah Oleh : Fanny J.Poyk Seharusnya rumah itu bisa menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa saja yang kenal dekat dengan p...
-
Top of Form Bottom of Form Luka Erika Oleh : Fanny J.Poyk Dirimu ibarat pualam, putih bersih, bersinar...
-
Dadong Kerti Oleh Fanny J.Poyk Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas ka...
-
Juminten Oleh : Fanny J. Poyk Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedi...
-
Isteri Untuk Suamiku Oleh : Fanny J. Poyk Melihat hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi yang diberikan dr, Drew, ...
-
Datanglah kesini Mae, kehadiranmu membuatku terhibur. Aku tertekan dengan situasi, sebagai ras dengan stigma teroris aku sang...
-
Mimpi Oleh : Fanny J.Poyk Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya ber...
-
Aku dan Cinta Oleh Fanny J. Poyk Kutulis kisah ini tanpa menyinggung siapa yang telah kusinggung dan siapa yang telah t...
-
Ketika Ken Marah Oleh: Fanny J.Poyk Di penghujung waktu amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama s...
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Ketika Ken Marah
Oleh: Fanny J.Poyk
Di penghujung waktu
amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama sepuluh
tahun adalah kekuatan baja yang bersarang
dan menguat hari demi hari. Jika
saja jiwa menjadi rapuh, maka seluruh raga terasa bagai dicucuk sembilu, nyeri
dan memilukan. Tapi itu tak boleh. Penjajahan dan ketidakadilan adalah dua kata
yang harus musnah dari segala lika liku kehidupan. Tubuh memiliki kemerdekaan
untuk menjadi dirinya sendiri. Pikiran merupakan langkah selanjutnya yang
mengiringi tubuh dalam kebebasannya. Tapi bila demokrasi itu tetap terkungkung,
cukuplah sudah kesabaran. “Aku harus mengambil tindakan!” ujar Ken di antara
sesaknya dada yang menyengat dan
berbunyi bagai detak jarum jam.
“Maksudmu?” Tanya Jum
memandangnya penuh curiga.
“Tak bisa kukatakan
padamu, sebab sekali mulut berbicara, maka rusaklah rencana yang telah kususun
dengan baik.” Ken menekan bibirnya yang bengkak membiru. Kepalan tinju Mar
membekas nyata di situ.
“ Mengapa kau tak pergi
saja darinya? Bawa anak-anakmu. Titipkan mereka di rumah orangtuamu, kau
memulai hidup baru dengan kemerdekaan penuh!”
Ken tertawa lirih. Waktu
telah tertukar dengan pongahnya. Ia tak lagi mempunyai keberanian untuk
bertaruh dengan ide-ide gila yang sebelumnya telah ia rancang dengan
sistematis. “Mengucapkan apa yang ada di benak memang mudah, namun
melaksanakannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Kau tahu, berkali-kali
kulakukan, berkali-kali pula ia berhasil membekukku. Ia adalah manusia dengan
panca indra yang telah terbentuk tajam sejak menikahiku. Ia ada di mana-mana. Itulah
sebabnya, sudah kukatakan, puncak amarahku telah meluap, ada harga yang harus
ia balas!” Mata Ken berapi-api.
***
Dan
inilah kisah memilukan itu!
Pernikahannya telah
berjalan sepuluh tahun, dua anak telah mereka peroleh. Cinta menggebu hanya
tersisa di akhir tahun pertama pernikahan.
Ken mulai melihat ada karakter yang sangat jauh berbeda dalam diri Mar. Menurutnya,
Mar memiliki beberapa kepribadian yang sulit diduga datangnya. Tahun ke dua,
ketidakberesan itu kian tajam terlihat. Mar yang gagah, Mar yang sangat
laki-laki, Mar tinggi dan tegap, Mar yang menghujani dirinya dengan ratusan
kata cinta, Mar dengan kebengisannya, ah Mar dan Mar…kepalsuan itu mulai
terkuak.
“Seminggu
tanpa penyiksaan adalah seminggu yang sia-sia. Kau lihat seluruh tubuhku, penuh
memar. Ia menyundut pahaku dengan rokok, memukul kakiku dengan kursi, menjotos
pipiku seperti orang berlatih tinju, semua dilakukan kala ia kalah judi, mabuk
dan uangnya habis dikuras perempuan malam. Ia seakan menemukan keasyikan
tersendiri bila menyiksaku. Sesudahnya, bila dilihatnya aku sangat menderita,
ia akan memelukku dan menyatakan permohonan maaf berkali-kali. Itulah derita
panjang yang kujalani. Bayangkan sepuluh
tahun, sepuluh tahun ketahan ini semua. Aku bahkan berpikir kalau diriku sudah
terkena penyakit skizofrenia, aku kerap tertawa sendiri, terkejut bila
mendengar suara-suara yang keras, aku juga kerap mendegar suara dengung di
telingaku, suara-suara itu penuh amarah, ia mengata-ngataiku perempuan bodoh
yang mau saja dijajah oleh lelaki seperti Mar. Aku benar-benar tak berdaya, dan
saat ia memerkosaku di bawah ancaman sebilah pisau, aku sudah tak tahan. Aku sungguh
tidk terima diperlakukan layaknya seekor anjing tatkala dia hendak ‘memakaiku’.
Kemarahan ini sudah memuncak. Aku tidak bisa tinggal diam!”
“Tolong,
jangan bunuh dia. Dia kakakku satu-satunya.” Jum memohon.
Ken
kembali tertawa, pedih. Sepuluh tahun semua kenangan mengilas balik bak mimpi
indah sebuah film India yang pernah ditontonnya di Balai Desa. Mar pemuda
sekampung yang lama merantau di kota, pulang dengan tiba-tiba. Penampilannya
hebat, mirip peragawan dengan gaya
sangat maskulin. Ia terpesona melihat Ken, gadis desa adik teman sekelasnya.
Ken yang telah berpacaran dengan Tum, tak kuasa menolak permintaan yang lebih
tepatnya paksaan, kakaknya Ton. Mar, mengeluarkan
kuasanya, segala penunjang yang membuat penampilan bak selebriti ia
pamerkan.
“Sudahlah,
terima saja lamarannya, nanti hidupmu tidak akan susah. Tum tak bisa
diharapkan. Dia hanya lulusan pesantren, apa yang bisa diberikan dari seorang
guru mengaji di kampung ini padamu? Kau tahu berapa penghasilan penduduk di
sini? Kadang mereka tak sanggup membayar honor guru ngaji pacarmu itu. Ia pun
lebih sering tidur dalam keadaan lapar di mushola, menunggu para ibu
mengirimkannya makanan. Ibu tahu itu, karena Ibu kerap memberinya sepiring
nasi. Pikirkan baik-baik ucapan Ibu!”
Ucapan
Ibunya pun meluluhkan hatinya, cinta runtuh karena gelimang dan sogokan harta
yang ditunjukkan Mar. Ibu dan Ton
kakaknya juga terlena. Setiap malam Mar
menjabangi rumahnya. Tum tersingkir tanpa khabar berita. Tak ada yang tahu kemana
lelaki itu pergi, sepertinya ia ke luar
dari desa dengan penuh ketakutan setelah diancam hendak dibunuh oleh Mar. Dan
pada akhirnya, Ton, terduduk di kursi rumahnya saat tahu Mar tak lebih dari anggota geng Ibukota dengan jaringan yang
meluas hingga ke seluruh provinsi. Bisnis ilegalnya, mulai dari narkoba, hingga
pengiriman TKI ke mancanegara merajai
hampir seluruh kawasan di Indonesia. Mar melenggang mulus tatkala orangtua Ken
menerimanya sebagai menantu. Mas kawin yang berlimpah menutup semua keraguan
yang semula muncul di benak ayah Ken. Tapi Ton menyesali semuanya, dan ini sudah
terlambat. Ia bagai menyerahkan seonggok
daging pada seekor serigala buas dengan bulunya yang lembut menipu.
“Jalani
saja dulu, adikku. Jika ada hal-hal ganjil, pulanglah, aku akan melindungimu,”
bisik Ton di bahu adiknnya, di hari pernikahan yang gempita itu.
“Ternyata,
aku memang benar masuk ke sarang serigala!”
keluh Ken.
Penyesalan
itu kian memuncak, kenyataannya sang
kakak Ton sama lumpuhnya dengan dirinya, ia hanya bisa menatap pilu saat sang
adik mengadukan masalahnya dalam keadaan wajah memar dan membiru. Sepuluh tahun
pernikahan hanya berisikan tindasan yang tiada akhir. Harkat sebagai manusia
tidak lagi transparan, Mar mematikan semua akses demokrasi di diri Ken. Kembang
desa yang merekah dengan warna mawar merah muda itu, hak azazinya sebagai
manusia merdeka direnggut paksa oleh kekuasaan tanpa batas, kekuasaan yang
diciptakan atas dasar siapa yang kuat dialah yang berjaya. Lalu, Ken mulai menangis, menangisi nasibnya yang
malang. Tubuhnya yang sejak kecil tak pernah mengenal kepalan tangan, kini kian terbiasa menjadi tempat segala
pelampiasan amarah Mar suami yang selalu muncul tiba-tiba tanpa sebab yang
jelas. Dunia Ken jungkir balik, dalam mimpi terakhirnya yang terburuk sekali
pun, kisahnya yang mengerikan ini lebih mengerikan dari mimpi-mimpinya itu.
“Manusia
berhati iblis itu telah membawa aku ke kehidupan yang benar-benar di titik
nol.” Adunya pada sang kakak. Luka di bibir yang baru saja dijahit masih
meninggalkan rasa perih. “Ia menghajarku hanya karena aku menemui teman-teman SMAku
saat reuni. Ia menuduhku berselingkuh
dengan salah satu dari teman sekolahku
itu. Sungguh, sedikit pun tak pernah terbersit di benakku untuk melakukannya.”
Ton
geleng-geleng kepala. Malam ini dia menahan adiknya untuk tidak kembali ke
Jakarta. Tapi itulah malam terganas yang
pernah ia dan adiknya alami. Tatkala mereka melaporkan kejadian itu ke kantor
polisi terdekat, tentang penganiayaan itu, bukan jaminan rasa aman yang mereka
peroleh, namun bencana yang berkepanjangan.
“Mar
menyeretku dari hadapan para polisi. Dengan sepuluh teman-temannya dan uang puluhan juta yang ditaruh di atas meja,
keadilan itu telah dibelinya. Kakakku Ton dihajar habis-habisan hingga babak
belur oleh teman-temannya. Aku sendiri digiring bagai anjing luka di hadapan
para polisi itu. Mar mengacam sembari berteriak
kalau siapa saja yang berani melindungiku, balasannya babak belur. Aku
miliknya dan dia berhak memerlakukan aku seperti yang dia mau.”
“Jika
kekuasaannya begitu tak terbatas, apa yang akan engkau lakukan?” Jum masih tetap curiga.
Ken
tertawa sampai air matanya tumpah membasahi pipi. Tawa yang penuh luka.
***
Malam
mendekati dini hari, Ken mengambil bubuk putih yang dibungkus rapat Mar, bubuk seberat hampir setengah kilogram
itu terletak di sudut paling bawah dari lemari pakaian yang ada di kamar
mereka.
“Jangan
sekali-sekali kau bercerita pada orang lain tentang benda ini. Awas, jika kau
sampai membocorkannya, akan kucincang kau menjadi perkedel!”
Ya,
ancaman itu memang tidak main-main. Mar
yang sadis memang pernah membunuh orang, teman sesama bandar narkoba yang
mengkhianatinya. Mayat itu dipotong-potongnya dan ditaruh di lemari pakaian
dalam kamar mereka. Ken gemetar, ia ingin menjerit. Namun kala itu, Mar yang
juga tengah panik, menunjuknya dengan belati, tepat di perutnya. “Jika sampai
rahasia ini diketahui orang lain, maka nasibmu akan sama seperti dia, si
pengkhianat!”
Tapi
kali ini tidak. Rasa takut telah terbunuh oleh menumpuknya amarah yang tertanam
di benak, di dada dan di tiap desahan nafas. Mar memasukkan barang haram itu ke
dalam tas plastik hitam yang sudah disiapkannya. Lalu ia bersijingkat
meninggalkan kamar. Malam kelam. Di luar gulita memekat. Namun segerombolan
orang berbaju hijau, menunggu di gelapnya malam.
“Dia
sudah tidur, ini barang buktinya!”
Itulah
kemarahan yang telah memuncak. Sepuluh tahun Ken menunggunya. Keberanian memang
harus ia lakukan, jika tidak maka kemerdekaan tak pernah ia genggam. Ia menatap
dingin tatkala rombongan tentara berpakaian hijau menggerebek rumahnya, lalu
menyeret Mar yang masih tertidur dengan lelapnya. Lelaki itu berteriak dan
berkata kalau ia tidak bersalah. “Itu bukan barang saya. Itu barang titipan
orang lain, sungguh!”
Kali
ini, semua alasan lenyap ditelan angin. Hukum yang ia ciptakan pada sang isteri
tak berlaku lagi. Lelaki bertato naga yang menghiasi hampir seluruh
punggungnya, meronta dan berkata kasar pada orang-orang yang membawanya.
“Lihat,
aku tidak membunuhnya. Tapi aku membalas semuanya dengan cara yang elegan.
Kakakmu akan dipenjara puluhan tahun di sana.”
“Jika
ia bebas lalu mencarimu, bagaimana?”
“Dia
tidak akan pernah bisa menemuiku lagi. Tidak akan pernah!”
“Kau
mau ke mana?”
Ken
membisu. Ketika Koran-koran memberitakan tentang kematiannya, juga tatkala Mar
tahu kisah meninggalnya sang isteri,
lelaki itu meringgis perlahan sambil bergumam, “Akhirnya kau telah menjadi
milikku seutuhnya.”
***
Hm…biarlah
begitu adanya. Ken dan dua anaknya memasuki
pintu pesawat. Perlahan burung besi itu tinggal landas, terbang tinggi
membelah angkasa, menuju sebuah negeri yang tak pernah diketahui siapa pun,
termasuk keluarga besarnya.
“Kita
akan ke mana Ibu?” Tanya puteranya.
“Ke
negeri yang tak seorang pun tahu.”
“Mengapa
kita harus pergi ke sana?”
“Karena
di sana kita aman.”
“Kapan
kita kembali ke rumah?”
“Nanti,
sampai segala yang jahat telah musnah dari sana.”
Ya, sampai yang jahat telah musnah,
itulah yang kini diidam-idamkan Ken.
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....