Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
-
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mah...
-
Rumah Oleh : Fanny J.Poyk Seharusnya rumah itu bisa menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa saja yang kenal dekat dengan p...
-
Top of Form Bottom of Form Luka Erika Oleh : Fanny J.Poyk Dirimu ibarat pualam, putih bersih, bersinar...
-
Dadong Kerti Oleh Fanny J.Poyk Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas ka...
-
Juminten Oleh : Fanny J. Poyk Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedi...
-
Isteri Untuk Suamiku Oleh : Fanny J. Poyk Melihat hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi yang diberikan dr, Drew, ...
-
Datanglah kesini Mae, kehadiranmu membuatku terhibur. Aku tertekan dengan situasi, sebagai ras dengan stigma teroris aku sang...
-
Mimpi Oleh : Fanny J.Poyk Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya ber...
-
Aku dan Cinta Oleh Fanny J. Poyk Kutulis kisah ini tanpa menyinggung siapa yang telah kusinggung dan siapa yang telah t...
-
Ketika Ken Marah Oleh: Fanny J.Poyk Di penghujung waktu amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama s...
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
03 March 2013
Aku Tidak Gila
Oleh : Fanny J. Poyk
Jiwaku
melanglangbuana entah kemana, aku yakin di saat diriku belum diciptakan, aku
adalah semilir angin yang memberikan rasa sejuk pada segala yang ada di dunia.
Bisa jadi aku merupakan jiwa yang berhubungan erat dengan para leluhur yang
telah menorehkan beragam penghargaan bagi bangsa ini. Atau, mungkin saja aku
masih bersaudara dengan beberapa pangeran yang hidup di masa lalu dan kini. Barangkali, ya barangkali dulu saat aku
masih serupa lembayung, aku memang memiliki ikatan darah dengan salah satu
presiden dari bangsa ini. Barangkali, dulu aku adalah hembusan angin yang
memasuki kisi-kisi jendela rumah kalian dan memberi kesegaran di setiap hirupan
nafas penghuninya.
Aku
seperti awan, yang datang mengendap lalu melingkupi tubuh-tubuh yang menggigil
kedinginan hingga menjadi hangat. Bila embun merembes turun dan memasuki tiap
pori-pori dedaunan, aku duduk termenung, menunggu agar daun itu tak layu,
menunggu agar pohon itu tidak mati kekeringan. Aku berharap ada cinta yang
bisa kuhantar ke peraduan para kekasih, aku menunggu mereka mencipta dengan
desah nafas yang harmonis, sehingga tiap mahluk terwujud dari nurani yang
putih, mereka tidak lagi menyimpan dendam, mereka tidak lagi menganggap dirinya
benar, mereka akan mencipta harmoni yang indah pada dunia, dan dunia pada
akhirnya bagai nirwana, di mana segala mahluk yang ada, hidup penuh kasih dan
kedamaian.
Ya,
aku yang dulunya adalah roh, kini telah mengejawantah menjadi
bintang-bintang di langit, yang bersinar terang saat temaram malam tiba. Aku
juga bagai dupa nan mewangi, menyengat hidung tiap insan yang menciumnya. Di
sana, di antara kelopak-kelopak mawar, aku menyiraminya dengan tetes-tetes
embun dini hari yang dingin dan kelu. Aku terus bertanya, bertanya pada siapa
saja yang bisa menjawabnya, di manakah jiwaku? Apakah dia melayang terbang di
balik jernihnya air terjun pegunungan? Atau mungkin saja dia menjadi bagian
dari dirimu, di sana di dalam dadamu, kau merasa jiwaku dan jiwamu menyatu
dalam kata yang tak pernah semu. Aku memang semu, sesemu gelombang lautan yang
menawan namun sangat membahayakan. Aku akan tetap seperti aku, mencari jiwaku
yang hilang yang merambah fatamorgana tanpa batas, tanpa jarak tanpa ilusi…
***
Aku
menatap pak Usman, membaca prosa liris itu dengan segumpal tanya di hati. Pak
Usman, seorang pria paruh baya yang tinggal tidak jauh dari rumahku,
mengernyitkan dahi, mengangkat kertas yang ia tulis tinggi-tinggi sambil
berkata lantang, “Lihat, lihatlah padaku sang mentari, jawablah pertanyaanku,
di mana jiwaku, di mana kau simpan roh beradabku yang hilang saat aku masih
bayi merah, di mana?”
Lalu
Pak Usman memberikan kertas itu padaku. Dengan wajah masih tegang ia kembali
berkata, “Aku adalah aku, di sini di dalam ragaku bersemayam sosok mahadewa
yang kutahu ia menyetir seluruh langkah kehidupanku!” Sosok pria yang hobby nonton wayang ini,
terus berceloteh. Matanya memerah, lalu air mata tanpa disuruh mengalir
membasahi pipinya. “Aku letih, negeri ini terlalu kotor. Semuanya rakus, rakus seperti
babi yang menyeruduk kesana kemari memakan apa yang ada di depan mata. Mereka
semua penipu, negeri ini, negeri para penipu!” serak suaranya terdengar.
Aku
mundur beberapa langkah. Tiap tutur kata
yang keluar dari bibirnya agak membingungkan, tak jelas maknanya. Tapi jujur
aku suka. Aku suka karena di tiap kalimat-kalimat yang diucapkannya, ada makna
terdalam yang hanya dimengerti segelintir orang, orang-orang yang tahu apa
sesungguhnya yang telah terjadi di negeri yang penuh kamuflase ini.
***
Di lain waktu, di saat debat kusir yang tak jelas topiknya di
beranda rumahnya yang asri terjadi, ia berkata dengan tiba-tiba, “Saya tahu apa
yang terjadi saat peristiwa G.30 S PKI. Saya tahu semua itu…”
“Maksud
Bapak?”
Pak Usman memandangku.
“Kau memang tidak pernah tahu. Kau kan belum
lahir. Fakta sejarah masih buram, seburam lembayung jingga yang tertutup awan
petang hari. Di sana skenario yang amat dahsyat tersusun, di sana tangisan dan
kehampaan menyatu, menyatu membentuk sebuah opini lara yang mengorek-ngorek
dinding nurani. Di sana, di hari yang nahas itu, kekuasaan absolut terbentuk,
membetuk sebuah dinasti yang diawali dengan darah dan air mata. Darah para
jenderal yang terhempas penuh tanya saat meregang nyawa, tangis para isteri dan
anak-anak yang ketakutan. Di sana kegelapan mengiringi dibangunnya negeri ini.
Negeri para pendusta yang diawali dengan wajah tenang dan suara yang tertata
apik.” Pak Usman masih terlihat kesal. Lalu laki-laki beranak tujuh ini kembali
mengambil kertas dan menulis sesuatu di kertas itu. “Ini, bacalah, ini adalah
curahan jiwaku yang hilang. Aku akan pergi mencarinya, menentang waktu dan
menyambangi semua mimpi yang ia kirimkan padaku!”
Glek! Aku menelan ludah. Tenggorakanku
tiba-tiba kering. Di situ, di kertas itu Pak Usman juga menulis; setiap
kehidupan ada proses yang berjalan ke arah kesempurnaan. Contohnya kedipan
mata. Bila mata berkedip, sesungguhnya bukan kehendak si pemilik mata, dia
harus berpikir siapa yang mengedipkan mata itu. Begitu pula halnya jika kita
mengantuk, itu bukan perbuatan manusia, kita harus mencari tahu siapa yang
membuat mata kita mengantuk, kita harus paham bahwa sejak manusia lahir ke
bumi, sebagian besar dosa bawaan sudah ada di dirinya. Dosa akan bertambah jika
manusia memang mengingininya. “Sebenarnya,
jiwa saya resah melihat keadaan sekarang ini. Seharusnya jiwa suci saya yang
melayang-layang sebelum dia mengejawantah lalu terjun bebas dan masuk ke raga
sosok yang bernama manusia, sang jiwa harus mengadakan penseleksian terlebih
dahulu. Seleksi terhadap siapa yang akan dijadikannya tempat untuk bernaung,
sang jiwa harus selektif. Jika tidak, beginilah akibatnya, bencana datang
beruntun. Jiwa tak bisa semata-mata terbang melayang, meninggalkan raga dengan
beku, lalu terbang kembali mencari raga yang baru. Ia memiliki komitmen dengan
sosok yang namanya Tuhan. Umur berapa raga itu hendak ditinggali, ada
perjanjian yang samar di mana si manusia itu sendiri tidak mengetahuinya. Kau
paham apa yang kumaksud?” Mata Pak Usman tajam tertuju padaku.
Aku
menggeleng. Laki-laki ini semakin ngelantur. Tapi sekali lagi kukatakan,
aku suka!
Pak Usman tambah bersemangat. “Dengar Nak Agus, seperti yang
sudah saya katakan, sebelum manusia diciptakan, dia masih memiliki ikatan
dengan masa lalu. Seperti pertemuan bibir atas dengan bibir bawah, dia selalu
akan menyatu. Tubuh tidak bisa lepas dari kepala, semua itu masih ada ikatan,
jadi tidak boleh ribut, sebab jika salah satu ribut dan mati, maka matilah yang
lainnya. Lihat ulat-ulat bulu itu, sebelumnya dia hanya kepompong, alam
telah mengaturnya dengan sistematis. Alam yang bijak, telah memperlakukan
manusia dan seluruh penghuni lainnya dengan begitu adil. Tapi apa yang
diperbuat sang mahluk hidup? Mereka telah mengoyaknya menjadi serpihan-serpihan
derita yang pada akhirnya melontarkan amarah dan dendam. Manusialah
penyebabnya, mereka tamak mengeruk semuanya tanpa sisa, semakin kaya
mereka, mereka akan semakin serakah. Saya ingin menelusuri jalan saya sendiri,
mencari siapa sesungguhnya diri dan jiwa saya. Saya ingin melupakan ketamakkan
dan keserakahan. Saya ingin mencari pencerahan, mencari esensi hidup yang
benar-benar hidup, yang tidak terkontaminasi oleh kotornya perilaku manusia.
Saya ingin menyelamatkan bumi!”
Menyelamatkan
bumi? Tiba-tiba kepalaku jadi pusing.
Sampai
suatu hari isteri Pak Usman menitikkan air mata. Dengan wajah murung ia
berujar, “Semalam, Bapak pamit pada saya. Ia bilang ingin mencari jejak jiwanya
di penghujung waktu. Dia juga katakana akan menyusuri Alas Roban dengan berjalan
kaki. Bayangkan Nak, Alas Roban letaknya di mana dia tidak tahu. Dari alas
Roban, dia akan ke Pelabuhan Ratu, katanya…katanya…”
“Katanya
apa, Bu?”
“Dia hendak bertemu dengan Nyai Loro Kidul. Menurutnya, di sana
jiwanya yang terdahulu sebelum ia dilahirkan ke dunia, bersemayam. Menurutnya
lagi ia pernah menjadi pengawal pribadi sang ratu. Ketika saya dan anak-anak
melarangnya, penyakit ashmanya kumat, dia mengancam saya, jika dirinya tidak
diijinkan melakukan apa yang sudah direncanakannya, bila sampai ia meninggal,
arwahnya akan mengejar-ngejar saya. Haduh, saya jadi bingung, dulu dia
tidak begitu.” Keluh Bu Usman.
Begitulah kisahnya. Pak Usman lenyap!
Pencarian pria berumur enam puluh tahun itu pun dilakukan.
Anak-anaknya menyebar mencarinya di Alas Roban hingga ke Pelabuhan
Ratu. Hutan-hutan lebat mereka susuri, pepohonan jati yang memenuhi Alas Roban
mereka lalui, di sana jejak Pak Usman bagai lenyap di telan bumi. Dia tetap tak
terlacak, dia seolah terhapus dari peradaban dunia.
***
“Lepaskan
aku…lepaskan aku…kalian tahu tidak siapa yang kalian tangkap? Aku pengawal
pribadi Bung Karno, akulah yang berjuang keras mencari jalan bagaimana
menyembuhkan dunia. Kalian Lihat, tanah-tanah di perkotaan sudah habis kalian
rambah, kalian jadikan hutan beton untuk memuaskan dahaga kalian, kalian telah
menjadi kapitalis penghisap darah para buruh, para petani, dan para nelayan.
Kalian bersenang-senang di atas penderitaan rakyat miskin. Mana janji yang
kalian dulu sampaikan? Mana? Lihat, seharusnya tanah yang begitu subur ini
memberikan makanan yang cukup bagi kita semua. Tapi apa yang terjadi? Kalian
memeras sampai tetes terakhir keringat para buruh, para nelayan, para petani
dan para kaum papa yang ada di negeri ini. Di mana hati nurani kalian? Tidakkah
kalian merasa iba pada nasib mereka?” teriak Pak Usman histeris.
Para
petugas rumah sakit jiwa itu membekap mulutnya. Ia dimasukkan ke dalam ruangan
berjeruji besi dengan tangan terikat ke belakang. Beberapa pasien ada yang
bersuit-suit, berteriak dan berpantomin sambil berceloteh dengan kata-kata yang
tak beraturan penuh daya khayali.
“Ada keluarganya?” tanya dokter rumah sakit jiwa pada perawat
yang memegang Pak Usman.
“Tidak ada.”
“Tanda pengenal?”
“Juga tidak ada.”
“Beri
dia Risperdal biar tenang, taruh di ruang yang berbeda!”
Pak Usman mengerang dan meraung, memanggil-manggil nama
anak-anak dan isterinya. “Lepaskan aku, keluarkan aku dari kamar ini. Aku tidak
gila, aku hendak mencari jiwaku yang merana, lepaskan akuuuu…!”
“Bruk!”
Pintu kamar rumah sakit jiwa itu kemudian terkunci dan tertutup rapat.
Dimuat di Suratkabar Suara Karya Maret 2013
Top of Form
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
Cerpen ini bertutur tentang keresahan dan kegelisahan dari seorang lelaki bernama Pak Usman, namun apa yang ia gelisahkan tidak ditanggapi oleh lingkungan sekitarnya, bahkan keluarganya sendiri. Hingga akhirnya orang menganggap ia gila...itulah kenyataan yang ada di negara kita, miris...
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....