Aku hanya pandai bermain kata lewat tulisan, jika kau memendam rasa dan buntu untuk mengekspresikannya, kutunggu kisahmu bersama beragam imaji dengan ditemani desir angin pagi...

Translate

Category

Shoutbox

Popular Posts

Teman

Novelku Nanti

03 March 2013

Aku Tidak Gila

Oleh : Fanny J. Poyk

Jiwaku melanglangbuana entah kemana, aku yakin di saat diriku belum diciptakan, aku adalah semilir angin yang memberikan rasa sejuk pada segala yang ada di dunia. Bisa jadi aku merupakan jiwa yang berhubungan erat dengan para leluhur yang telah menorehkan beragam penghargaan bagi bangsa ini. Atau, mungkin saja aku masih bersaudara dengan beberapa pangeran yang hidup di masa lalu dan  kini. Barangkali, ya barangkali dulu saat aku masih serupa lembayung, aku memang memiliki ikatan darah dengan salah satu presiden dari bangsa ini. Barangkali, dulu aku adalah hembusan angin yang memasuki kisi-kisi jendela rumah kalian dan memberi kesegaran di setiap hirupan nafas penghuninya.
Aku seperti awan, yang datang mengendap lalu melingkupi tubuh-tubuh yang menggigil kedinginan hingga menjadi hangat. Bila embun merembes turun dan memasuki tiap pori-pori dedaunan, aku duduk termenung, menunggu agar daun itu tak layu, menunggu agar pohon itu tidak mati kekeringan.  Aku berharap ada cinta yang bisa kuhantar ke peraduan para kekasih, aku menunggu mereka mencipta dengan desah nafas yang harmonis, sehingga tiap mahluk terwujud dari nurani yang putih, mereka tidak lagi menyimpan dendam, mereka tidak lagi menganggap dirinya benar, mereka akan mencipta harmoni yang indah pada dunia, dan dunia pada akhirnya bagai nirwana, di mana segala mahluk yang ada, hidup penuh kasih dan kedamaian.
Ya, aku  yang dulunya adalah roh, kini telah mengejawantah menjadi bintang-bintang di langit, yang bersinar terang saat temaram malam tiba. Aku juga bagai dupa nan mewangi, menyengat hidung tiap insan yang menciumnya. Di sana, di antara kelopak-kelopak mawar, aku menyiraminya dengan tetes-tetes embun dini hari yang dingin dan kelu. Aku terus bertanya, bertanya pada siapa saja yang bisa menjawabnya, di manakah jiwaku? Apakah dia melayang terbang di balik jernihnya air terjun pegunungan? Atau mungkin saja dia menjadi bagian dari dirimu, di sana di dalam dadamu, kau merasa jiwaku dan jiwamu menyatu dalam kata yang tak pernah semu. Aku memang semu, sesemu gelombang lautan yang menawan namun sangat membahayakan. Aku akan tetap seperti aku, mencari jiwaku yang hilang yang merambah fatamorgana tanpa batas, tanpa jarak tanpa ilusi…
    ***
Aku menatap pak Usman, membaca prosa liris itu dengan segumpal tanya di hati. Pak Usman, seorang pria paruh baya yang tinggal tidak jauh dari rumahku, mengernyitkan dahi, mengangkat kertas yang ia tulis tinggi-tinggi sambil berkata lantang, “Lihat, lihatlah padaku sang mentari, jawablah pertanyaanku, di mana jiwaku, di mana kau simpan roh beradabku yang hilang saat aku masih bayi merah, di mana?”  
Lalu Pak Usman memberikan kertas itu padaku. Dengan wajah masih tegang ia kembali berkata, “Aku adalah aku, di sini di dalam ragaku bersemayam sosok mahadewa yang kutahu ia menyetir seluruh langkah kehidupanku!”  Sosok pria yang hobby nonton wayang ini, terus berceloteh. Matanya memerah, lalu air mata tanpa disuruh mengalir membasahi pipinya. “Aku letih, negeri ini terlalu kotor. Semuanya rakus, rakus seperti babi yang menyeruduk kesana kemari memakan apa yang ada di depan mata. Mereka semua penipu, negeri ini, negeri para penipu!” serak suaranya terdengar.
Aku mundur beberapa langkah.  Tiap tutur kata yang keluar dari bibirnya agak membingungkan, tak jelas maknanya. Tapi jujur aku suka. Aku suka karena di tiap kalimat-kalimat yang diucapkannya, ada makna terdalam yang hanya dimengerti segelintir orang, orang-orang yang tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi di negeri yang penuh kamuflase ini.
     ***
      Di lain waktu, di saat debat kusir yang tak jelas topiknya di beranda rumahnya yang asri terjadi, ia berkata dengan tiba-tiba, “Saya tahu apa yang terjadi saat peristiwa G.30 S PKI. Saya tahu semua itu…”
“Maksud Bapak?”
      Pak Usman memandangku.
     “Kau memang tidak pernah tahu. Kau kan belum lahir. Fakta sejarah masih buram, seburam lembayung jingga yang tertutup awan petang hari. Di sana skenario yang amat dahsyat tersusun, di sana tangisan dan kehampaan menyatu, menyatu membentuk sebuah opini lara yang mengorek-ngorek dinding nurani. Di sana, di hari yang nahas itu, kekuasaan absolut terbentuk, membetuk sebuah dinasti yang diawali dengan darah dan air mata. Darah para jenderal yang terhempas penuh tanya saat meregang nyawa, tangis para isteri dan anak-anak yang ketakutan. Di sana kegelapan mengiringi dibangunnya negeri ini. Negeri para pendusta yang diawali dengan wajah tenang dan suara yang tertata apik.” Pak Usman masih terlihat kesal. Lalu laki-laki beranak tujuh ini kembali mengambil kertas dan menulis sesuatu di kertas itu. “Ini, bacalah, ini adalah curahan jiwaku yang hilang. Aku akan pergi mencarinya, menentang waktu dan menyambangi semua mimpi yang ia kirimkan padaku!”
Glek! Aku menelan ludah. Tenggorakanku tiba-tiba kering. Di situ, di kertas itu Pak Usman juga menulis; setiap kehidupan ada proses yang berjalan ke arah kesempurnaan. Contohnya kedipan mata. Bila mata berkedip, sesungguhnya bukan kehendak si pemilik mata, dia harus berpikir siapa yang mengedipkan mata itu. Begitu pula halnya jika kita mengantuk, itu bukan perbuatan manusia, kita harus mencari tahu siapa yang membuat mata kita mengantuk, kita harus paham bahwa sejak manusia lahir ke bumi, sebagian besar dosa bawaan sudah ada di dirinya. Dosa akan bertambah jika manusia memang mengingininya.  “Sebenarnya, jiwa saya resah melihat keadaan sekarang ini. Seharusnya jiwa suci saya yang melayang-layang sebelum dia mengejawantah lalu terjun bebas dan masuk ke raga sosok yang bernama manusia, sang jiwa harus mengadakan penseleksian terlebih dahulu. Seleksi terhadap siapa yang akan dijadikannya tempat untuk bernaung, sang jiwa harus selektif. Jika tidak, beginilah akibatnya, bencana datang beruntun. Jiwa tak bisa semata-mata terbang melayang, meninggalkan raga dengan beku, lalu terbang kembali mencari raga yang baru. Ia memiliki komitmen dengan sosok yang namanya Tuhan. Umur berapa raga itu hendak ditinggali, ada perjanjian yang samar di mana si manusia itu sendiri tidak mengetahuinya. Kau paham apa yang kumaksud?” Mata Pak Usman tajam tertuju padaku.
Aku menggeleng. Laki-laki ini semakin ngelantur. Tapi sekali lagi kukatakan, aku suka!
      Pak Usman tambah bersemangat. “Dengar Nak Agus, seperti yang sudah saya katakan, sebelum manusia diciptakan, dia masih memiliki ikatan dengan masa lalu. Seperti pertemuan bibir atas dengan bibir bawah, dia selalu akan menyatu. Tubuh tidak bisa lepas dari kepala, semua itu masih ada ikatan, jadi tidak boleh ribut, sebab jika salah satu ribut dan mati, maka matilah yang lainnya.   Lihat ulat-ulat bulu itu, sebelumnya dia hanya kepompong, alam telah mengaturnya dengan sistematis. Alam yang bijak, telah memperlakukan manusia dan seluruh penghuni lainnya dengan begitu adil. Tapi apa yang diperbuat sang mahluk hidup? Mereka telah mengoyaknya menjadi serpihan-serpihan derita yang pada akhirnya melontarkan amarah dan dendam. Manusialah penyebabnya, mereka tamak  mengeruk semuanya tanpa sisa, semakin kaya mereka, mereka akan semakin serakah. Saya ingin menelusuri jalan saya sendiri, mencari siapa sesungguhnya diri dan jiwa saya. Saya ingin melupakan ketamakkan dan keserakahan. Saya ingin mencari pencerahan, mencari esensi hidup yang benar-benar hidup, yang tidak terkontaminasi oleh kotornya perilaku manusia. Saya ingin menyelamatkan bumi!”
Menyelamatkan bumi? Tiba-tiba kepalaku jadi pusing.
Sampai suatu hari isteri Pak Usman menitikkan air mata. Dengan wajah murung ia berujar, “Semalam, Bapak pamit pada saya. Ia bilang ingin mencari jejak jiwanya di penghujung waktu. Dia juga katakana akan menyusuri Alas Roban dengan berjalan kaki. Bayangkan Nak, Alas Roban letaknya di mana dia tidak tahu. Dari alas Roban, dia akan ke Pelabuhan Ratu, katanya…katanya…”
“Katanya apa, Bu?”
      “Dia hendak bertemu dengan Nyai Loro Kidul. Menurutnya, di sana jiwanya yang terdahulu sebelum ia dilahirkan ke dunia, bersemayam. Menurutnya lagi ia pernah menjadi pengawal pribadi sang ratu. Ketika saya dan anak-anak melarangnya, penyakit ashmanya kumat, dia mengancam saya, jika dirinya tidak diijinkan melakukan apa yang sudah direncanakannya, bila sampai ia meninggal, arwahnya akan mengejar-ngejar saya. Haduh, saya jadi bingung, dulu dia tidak begitu.” Keluh Bu Usman.
      Begitulah kisahnya. Pak Usman lenyap!
      Pencarian  pria berumur enam puluh tahun itu pun dilakukan. Anak-anaknya  menyebar mencarinya  di Alas Roban hingga ke Pelabuhan Ratu. Hutan-hutan lebat mereka susuri, pepohonan jati yang memenuhi Alas Roban mereka lalui, di sana jejak Pak Usman bagai lenyap di telan bumi. Dia tetap tak terlacak, dia seolah terhapus dari peradaban dunia.
 ***
“Lepaskan aku…lepaskan aku…kalian tahu tidak siapa yang kalian tangkap? Aku pengawal pribadi Bung Karno, akulah yang berjuang keras mencari jalan bagaimana menyembuhkan dunia. Kalian Lihat, tanah-tanah di perkotaan sudah habis kalian rambah, kalian jadikan hutan beton untuk memuaskan dahaga kalian, kalian telah menjadi kapitalis penghisap darah para buruh, para petani, dan para nelayan. Kalian bersenang-senang di atas penderitaan rakyat miskin. Mana janji yang kalian dulu sampaikan? Mana? Lihat, seharusnya tanah yang begitu subur ini memberikan makanan yang cukup bagi kita semua. Tapi apa yang terjadi? Kalian memeras sampai tetes terakhir keringat para buruh, para nelayan, para petani dan para kaum papa yang ada di negeri ini. Di mana hati nurani kalian? Tidakkah kalian merasa iba pada nasib mereka?” teriak Pak Usman histeris.
Para petugas rumah sakit jiwa itu membekap mulutnya. Ia dimasukkan ke dalam ruangan berjeruji besi dengan tangan terikat ke belakang. Beberapa pasien ada yang bersuit-suit, berteriak dan berpantomin sambil berceloteh dengan kata-kata yang tak beraturan penuh daya khayali.
      “Ada keluarganya?” tanya dokter rumah sakit jiwa pada perawat yang memegang Pak Usman.
      “Tidak ada.”
      “Tanda pengenal?”
      “Juga tidak ada.”
      “Beri dia Risperdal biar tenang, taruh di ruang yang berbeda!”
      Pak Usman mengerang dan meraung, memanggil-manggil nama anak-anak dan isterinya. “Lepaskan aku, keluarkan aku dari kamar ini. Aku tidak gila, aku hendak mencari jiwaku yang merana, lepaskan akuuuu…!”
“Bruk!” Pintu kamar rumah sakit jiwa itu  kemudian terkunci dan tertutup rapat.

Dimuat di Suratkabar Suara Karya Maret 2013

Top of Form

1 comments:

Unknown said...

Cerpen ini bertutur tentang keresahan dan kegelisahan dari seorang lelaki bernama Pak Usman, namun apa yang ia gelisahkan tidak ditanggapi oleh lingkungan sekitarnya, bahkan keluarganya sendiri. Hingga akhirnya orang menganggap ia gila...itulah kenyataan yang ada di negara kita, miris...