Aku hanya pandai bermain kata lewat tulisan, jika kau memendam rasa dan buntu untuk mengekspresikannya, kutunggu kisahmu bersama beragam imaji dengan ditemani desir angin pagi...

Translate

Category

Shoutbox

Popular Posts

Teman

Novelku Nanti

07 March 2013

                Wajahnya memucat, jemari tangannya gemetar, jantungnya berdegup cepat, matanya nanar memandang  surat yang baru saja diberikan wakil kepala sekolah kesiswaan kepadanya. Surat itu  benar-benar telah menambah  bergolaknya adrenalin di sekujur tubuhnya. Ia mati kutu. Surat itu, ya surat itu seakan sepucuk surat yang dikirimkan malaikat pencabut nyawa, mirip paket bom berdaya ledak rendah. Ia merasakan sekujur sendi-sendi di tubuhnya lemas. Sungguh, hari ini dunia seperti jungkir balik, ia ingin menghilang dan menyembunyikan seluruh raganya dari muka bumi.  
                Pak Guru Tarigan, demikian murid-murid di SMA Kasih memanggilnya. Berwajah simpatik, rahang tajam dan keras khas orang Sumatera Utara. Jika bicara lantang, logat daerah tak pernah lepas dalam setiap alunan suaranya. Nama aslinya Johan Tarigan,  ia menjabat Kepala Sekolah di sebuah sekolah swasta yang terletak di tegah-tengah kota Kabanjahe, Sumatera Utara. Posisinya sebagai kepala sekolah seharusnya membuat ia ongkang-ongkang kaki; memerintah para wakasek (wakil kepala sekolah) untuk membantunya. Namun, ia tak dapat melakukan itu. Ke lima wakaseknya memiliki tugas yang cukup berat. Sebab, selain wakasek, mereka juga menjadi guru untuk 10 kelas yang dijejali 40 anak perkelasnya. Di samping menjadi guru, mereka juga harus bertani, ya masing-masing wakasek dan guru, sehabis mengajar, menggarap ladang yang luasnya ribuan meter hingga hektaran pemberian orang tua mereka.
Daerah Kabanjahe yang sejuk dengan perbukitan hijau yang mengelilinginya, membuat beberapa jenis tanaman seperti kol, sawi, wortel, ketimun, tomat, kacang panjang, buncis, kentang dan tanaman lainnya tumbuh subur. Para petani tinggal menunggu pembeli yang datang dari kota Medan untuk membayar hasil panen. Guru-guru, pegawai pemerintah daerah yang tinggal di daerah itu, menjadikan hasil panen sebagai tabungan untuk membiayai kuliah anak-anak mereka di beberapa kota-kota besar seperti Medan dan Jakarta.
Kota yang sejuk, tenang dan penuh dengan rutinitas yang tidak menggebu, terpancar jelas dari wajah-wajah penduduknya. Inilah potret kota pelosok yang ramah, perpaduan dua agama yang saling menghormati terbias melalui senyum, tatapan mata penuh persahabatan serta ucapan santun para penduduknya. Tak ada kecemburuan di sini, tak ada paket bom yang dikirim ke rumah-rumah ibadah, perkantoran dan sekolah-sekolah. Semuanya berjalan selaras dengan pikiran untuk memajukan usaha pertanian, pendidikan dan pekerjaan di berbagai bidang. Semuanya berjalan seiring harmoni alam yang teduh dan bersahaja.
Namun, hari ini, tidak demikian dengan Pak Guru Tarigan, bersamaan datangnya surat dari Kementerian Pendidikan Nasional pusat itu, Pak Guru yang berusia empat puluh lima tahun ini, tak lagi bisa tenang. Beberapa hari ini ia mengurung diri di rumah dan di ruang kerjanya. Sekolah dengan akreditasi B itu, tak lagi menggeliat, proses belajar mengajar seolah senyap dengan sikap sang motivator yang selalu murung.
                “Bagaimana ini, Bu. Dua hari lagi tim monitoring pusat akan datang memeriksa dana bantuan block grant yang kuterima setahun lalu. Mereka akan membawa instrument pemeriksaan tentang dana itu, mereka akan menanyaiku, mereka akan memeriksa kelas, memeriksa apakah aku sudah membeli dua puluh unit komputer yang tertera di surat perjanjian itu. Aku pusing, aku cemas…” keluhnya pada sang isteri.
                “Dana itu masih ada tidak?” tanya isterinya.
                “Itu dia, beberapa bagian sudah kupakai. Ada hal penting yang harus kulakukan, ini menyangkut nyawa seseorang…”
                “Nyawa, maksudnya apa? Atau jangan-jangan kau telah korupsi!” tuduh sang isteri.
                “Ah, kau jangan sembarangan menuduh. Aku bukan koruptor. Percayalah!”
                Pak Guru Tarigan tambah murung. Nyanyian burung-burung malam, suara bebek dan ayam peliharaan di kandang samping rumahnya, cericit tikus dan gemerisik angin saat meniup rimbunan alang-alang yang tubuh subur di sisi kebunnya, tidak membuat ia terbebas dari gulana. Kegundahan itu mengalir deras dan menyusup diam-diam ke seluruh pori-pori kulitnya, inilah rasa cemas yang teramat parah yang ia rasakan selama hidupnya, khususnya sebagai guru.

***
                “Ini dana block grant dari pusat, dana ini sesuai proposal seperti yang kau ajukan tahun lalu. Dana ini untuk pembelian dua puluh unit komputer dengan klasifikasi core 2 duo. Ingat, selain itu ada syarat khusus, kelas untuk menempatkan komputer harus ber-AC, lantainya musti memakai karpet. Ruang kelas harus benar-benar steril, setiap tiga bulan sekali seluruh komputer diservis agar terbebas dari virus. Dan kau musti membuat laporan tertulis, kemudian laporan itu kau kirimkan ke kantor Dinas Pendidikan di Ibu Kota Kabupaten. Nanti akan ada tim monitoring pusat yang  memantau perkembangan dana block grant itu dan ingat pula, jika sekolah kau berhasil melaksanakan semuanya dengan baik, maka tahun depan dana akan turun lagi, sekolah kau akan terangkat menjadi akreditasi A, ” ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi.
                Pak Guru Tarigan merenung. Ini sudah enam bulan berlalu sejak dana itu dicairkan. Jangankan kelas  ber AC dan berkarpet merah, komputernya pun belum terbeli. Apa yang harus kulakukan? Dana sebesar 125 juta  itu sudah terpakai sebesar dua puluh juta. Sepuluh juta untuk pembinaan siswa-siswa terbaik dari delapan bidang studi yang akan dilombakan di ajang Olimpiade Sains Nasional. Ya, pembinaan bidang studi  matematika, biologi, astronomi, fisika, kimia, komputer, ilmu kebumian hingga ekonomi, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ia harus mengeluarkan anggaran ekstra membayar tenaga-tenaga terampil untuk memberikan trainer of trainer kepada para guru. Nantinya guru-guru di sekolahnyalah yang akan membimbing siswa-siswa agar mereka lolos seleksi olimpiade tingkat kabupaten. Jika tidak, sekolahnya akan terpuruk, siswa yang masuk di tahun ajaran baru akan menurun, image sekolah di mata masyarakat akan buruk. Lalu…sekolah itu akhirnya akan ditutup. Ah, Pak Guru Tarigan mengedikkan bahunya. Mengingat itu ia miris, jika sampai sekolahnya ditutup, akan kemana murid-muridnya?
                “Lalu, kemana uang yang sepuluh jutanya lagi?” kejar isterinya.
                Pak Guru Tarigan menundukkan kepala.

***
Hari itu, wakasek kesiswaan tergopoh-gopoh datang ke ruangannya.
                “Tolong, Pak. Rully Hutahaean anak kelas sebelas IPA satu  yang akan kita usulkan untuk ikut seleksi olimpiade matematika tingkat kabupaten, tertabrak motor. Kakinya patah. Pihak rumahsakit meminta bayaran sebesar sepuluh juta untuk uang muka operasi. Bagaimana  ini, Pak? Jika tidak dioperasi, dia tidak bisa ikut seleksi. Rully satu-satunya harapan kita untuk maju ke tingkat olimpiade sains tingkat nasional. Jika dia lolos dan syukur-syukur bisa sampai ke olimpiade matematika tingkat internasional, nama sekolah kita akan harum, imagenya semakin bagus. Kita akan masuk akreditasi A dan siswa yang masuk ke sekolah ini akan semakin banyak…”
                Pak Guru Tarigan terdiam. Hembusan angin pegunungan yang sejuk yang masuk melalui kisi-kisi ruang kantornya yang terbuat dari papan, tidak membuat pikirannya jernih, kepalanya tambah pusing. Dana block grant sebesar seratus dua puluh lima juta sudah terpakai. Uang itu terkikis sepuluh juta, tinggal seratus lima belas juta, sekarang harus dipotong sepuluh juta lagi. Ia belum bisa menjawabnya, otaknya serasa membatu, mengkristal seperti butir-butiran intan permata yang indah untuk ditatap namun sangat mahal buat memilikinya.
                “Bagaimana, Pak?” desak wakasek kesiswaan.
                “Baiklah, kalau begitu kita pakai dana block grant sepuluh juta lagi. Kesembuhan anak itu lebih penting, Nanti saya yang tanggungjawab.” Jawabnya dengan nada datar namu gamang.

***
                Kini dua hari lagi tim monitoring dari Jakarta akan datang. Jika sampai dua hari ini dana sebesar dua puluh juta yang telah terpakai itu tidak tergantikan, maka tamatlah riwayat sekolah ini. Lima wakasek, tiga petugas administrasi, sepuluh guru, ratusan siswa akan putus sekolah, masa depan mereka akan mengawang dan terhapus angin puting beliung yang datang tiba-tiba. Tukang kebun, tukang sapu tak lagi punya penghasilan dan kantin sekolah juga tutup. Semua mati langkah, semua akan termangu memandang hari-hari kelam yang hitam sehitam jelaga.  Lalu dirinya? Ya, dirinya mungkin akan meringkuk di balik jeruji besi dengan tuduhan korupsi atau penggelapan dana block grant. Oh tidak!  Pak Guru Tarigan bergidik.
                Kegundahan itu belum terjawabkan, sebab tepat dua hari kemudian, tim monitoring datang didampingi dua pengantar dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara. Komputer dengan spesifikasi Core 2 Duo belum dibeli, kelas untuk menaruh komputer masih mirip kandang ayam, penuh sarang laba-laba di sana-sini, karpet belum terpasang, jangankan AC, kipas angin pun tak tampak. Pak Guru Tarigan berdiri di balik daun pintu ruang kantornya dengan kaki gemetar. Apa yang harus kujawab jika mereka menanyakan uang itu? Tanyanya pada bayangannya di  kaca lemari kusam yang berisi buku-buku filsafat bacaannya.
                “Jangan kau cemas, uang sebesar dua puluh juta sudah kudapatkan. Aku menggadaikan surat tanah kita di Inang Betty boru Sidabutar, nanti kalau panen wortel dan kembang kol, kita bayar. Aku tahu kau bukan koruptor.” Suara isterinya terdengar bagai gema malaikat yang menghapus ribuan cemas di dalam relung sanubarinya. Pak Guru Situmorang menitikkan air mata. Ia memeluk isterinya yang pendek dan bertubuh gempal. Perempuan dengan wajah keras khas petani itu, menghapus keringat di keningnya. Ia tak menuturkan bagaimana perjuangannya mencari Inang Betty boru Sidabutar di Medan; bagaimana bis yang ditumpanginya hampir tergelincir masuk jurang tatkala melewati perjalanan Kabanjahe, Berastagi yang meliuk-liuk dengan tikungan tajam. “Aku akan kembali ke ladang, hari ini ada tengkulak yang mau memberi panjar untuk tanaman kol dan wortel kita!” katanya sambil mencium punggung tangan suaminya.

***
Petugas monitoring memberi batas waktu tiga bulan bagi Pak Kepala Sekolah SMA Kasih itu untuk menyiapkan segalanya. Setelah tiga bulan, akan diadakan pemeriksaan kembali, jika keadaan masih tetap sama, dana akan ditarik. Dengan suara serak, sarjana pendidikan itu menyanggupinya. Matanya berkaca-kaca.
Pak guru Tarigan benar-benar menitikkan air mata tatkala muridnya, Rully Hutahaean lolos seleksi tingkat kabupaten dan berangkat ke Jakarta mewakili provinsi Sumatera Utara untuk ikut di olimpiade sains tingkat nasional. Tangisnya yang lebih dahsyat terdengar makin keras ketika sang murid   memperoleh medali emas bidang  studi matematika dan menjadi bagian dari empat puluh siswa yang dibina oleh para doktor matematika dari universitas ternama di Indonesia. Tatkala nama siswanya masuk empat besar dan diberangkatkan ke Ontario, Kanada, mengikuti olimpiade matematika tingkat internasional, Pak Guru Tarigan menjadi bisu beberapa saat akibat euforia yang membuncah di dadanya.
“Aku tak minta apa-apa darimu, Nak. Hanya satu harapanku, kelak jika pulang, buatlah sekolahmu bangga…” bisik Pak Guru Tarigan ke telinga muridnya.
Memang, tak ada yang ia minta  dari sang murid. Ia hanya bisa berharap sepulangnya nanti, sekolahnya akan memperoleh akreditasi A dari pemerintah provinsi. Dengan uang pendaftaran yang masuk, ia berniat untuk membangun beberapa ruang kelas lagi agar para siswanya tidak duduk berjejal dalam satu kelas. Perihal dana pemberian block grant yang kedua kalinya, pak guru Tarigan menepis angannya untuk memperoleh dana itu kembali. Kemenangan Rully dalam olimpiade matematika tingkat internasional adalah tiketnya untuk melebarkan sayap, sayap untuk merengkuh murid-murid dari desa lain yang tidak mampu membayar uang sekolah dan tidak sempat mengenyam pendidikan yang memadai.
Maka Ketika Pak Guru Tarigan kembali ke rumahnya, ia menukar pakaiannya sebagai guru, ia bergegas ke ladangnya, kembali mengayunkan paculnya, ia berpacu dengan waktu, berpacu untuk membayar hutang isterinya, berpacu untuk menebus kembali surat tanah sekaligus bunganya yang digadaikan pada Inang  Betty boru Sidabutar…
               

0 comments: