Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
-
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mah...
-
Rumah Oleh : Fanny J.Poyk Seharusnya rumah itu bisa menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa saja yang kenal dekat dengan p...
-
Top of Form Bottom of Form Luka Erika Oleh : Fanny J.Poyk Dirimu ibarat pualam, putih bersih, bersinar...
-
Dadong Kerti Oleh Fanny J.Poyk Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas ka...
-
Juminten Oleh : Fanny J. Poyk Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedi...
-
Isteri Untuk Suamiku Oleh : Fanny J. Poyk Melihat hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi yang diberikan dr, Drew, ...
-
Datanglah kesini Mae, kehadiranmu membuatku terhibur. Aku tertekan dengan situasi, sebagai ras dengan stigma teroris aku sang...
-
Mimpi Oleh : Fanny J.Poyk Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya ber...
-
Aku dan Cinta Oleh Fanny J. Poyk Kutulis kisah ini tanpa menyinggung siapa yang telah kusinggung dan siapa yang telah t...
-
Ketika Ken Marah Oleh: Fanny J.Poyk Di penghujung waktu amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama s...
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Isteri Untuk Suamiku
Oleh : Fanny J. Poyk
Melihat
hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi
yang diberikan dr, Drew, pikiran Julaika
pekat, sepekat hatinya. “Ada tiga benjolan di rahim Ibu, yang dua masih kecil,
yang satu lagi besar, sebesar kepalan tangan orang dewasa. Andai saja benjolan
itu letaknya tidak terlalu menjorok ke dalam, bisa kami kuretase. Tapi ini posisinya
sulit dijamah alat untuk mengkuret, jadi
susah kami bersihkan. Benjolan itu akan terus membesar dan akan memengaruhi
menstruasi Ibu. Ini berbahaya, Ibu bisa mengalami anemia, karena menstruasinya
tidak normal. Jalan satu-satunya, rahim Ibu harus kami angkat. Hanya rahim, indung telur tidak.”
Julaika
mengangguk-anggukkan kepala. Mengangkat rahimnya? Perempuan berusia dua puluh sembilan
tahun ini batuk-batuk kecil, ada dahak liar yang tiba-tiba bersarang di
kerongkongannya. Ia tercekat. “Haruskah, Dok?” tanyanya. Matanya yang indah
mengerjap tak percaya. Pipi chubbynya
bersemu merah kepucatan.
“Kenapa,
Bu, Ibu takut? Operasi angkat rahim memang operasi yang cukup besar, tapi jika
benjolan yang diprediksi mioma itu tidak segera diambil, kami curiga itu akan
berubah menjadi kanker ganas. Sebelum dioperasi pun Ibu harus kami biopsi
kanker dulu, sebab kami tidak mau mengambil resiko setelah operasi selesai,
kanker itu akan menjalar dengan cepat. Keputusan memang ada di tangan Ibu, tapi
sebaiknya Ibu pikirkan saran saya masak-masak.” dr. Drew ahli kandungan dan
kebidanan itu memandang serius wajah Julaika. Ada sesuatu tampaknya yang ia
sembunyikan di balik kesan seriusnya itu. Julaika berusaha mencari jawaban,
namun, ucapan sang dokter tetap sama, ia menyarankan mioma atau miom itu harus
dibasmi dari rahimnya.
“Bisakah
saya punya anak, Dok?”
“Bisa
dengan meminjam rahim orang lain!”
Julaika
termenung. “Meminjam rahim orang lain, maksudnya Dok?”
“Begini, sperma suami dan
sel telurmu disatukan, kemudian dimasukkan ke dalam rahim perempuan yang
bersedia menghamilinya. Kalau mau, carilah perempuan itu, bayar dia!” dr. Drew
berkata dengan ringannya.
Siapa yang bersedia
rahimnya digunakan untuk mengandung bayinya? Andaipun ada, sesudahnya akan
menjadi masalah yang cukup pelik, si ibu yang mengandung bayi itu bisa saja
berubah pikiran, naluri keibuannya akan muncul dan tidak mau memberikan bayinya.
Lalu, setelah bayi itu besar apakah ia
mau menerima dia sebagai ibunya? Konflik psikologis akan muncul, dan itu akan
berkelanjutan hingga ia dewasa. Kepala Julaika mulai pening.
Tiga bulan sudah Julaika merasakan ada yang
aneh dengan dirinya, menstruasinya yang datang sebulan sekali mulai menunjukkan
ketidakberesan, berangsur-angsur darah merah segar itu muncul setiap dua minggu,
kemudian waktunya berubah menjadi seminggu sekali. Tatkala gumpalan darah itu datang
bagai air sungai yang deras kemudian memenuhi kamar mandinya seminggu yang
lalu, Julaika semakin yakin, benjolan sebesar sekepalan tangan itu, bukan lagi
sekedar benjolan jinak yang selama ini bersabahat dengan tubuhnya, namun dia
telah berubah menjadi monster kecil yang sebentar lagi akan menggerogoti
seluruh jaringan yang ada di rahim dan sekitarnya. Benjolan itu mulai
menunjukkan kuasanya, dan dia tidak tahu bahwa di balik semua itu, ada masalah
besar yang akan dihadapi perempuan cantik berkulit sawo matang dengan mata indah
bak kejora di langit biru itu. Semua itu
akhirnya menjadi ketakutan yang samar yang ia pendam bersama isak tangisnya
yang tertahan di setiap malam nan sepi.
“Aku
akan kehilangan segalanya,” katanya suatu hari pada Anna teman sekantornya.
“Maksudmu?”
“Jika
rahim ini diangkat, semua yang berkaitan dengan keperempuananku berakhir sudah.
Dengan begitu, pernikahanku pun ikut berakhir.”
“Hah,
kau gila? Jangan ngaco Aika. Pikiranmu ngawur, tidak mungkin Tito akan
meninggalkanmu hanya gara-gara kau tak memiliki rahim lagi. Kalian kan saling
mencinta? Pacaran selama sebelas tahun apakah tidak cukup untuk membuktikan
kesetiaan suamimu?”
Julaika
meringis tertahan. Ia ingat ketika dirinya dan Tito merayakan ulangtahun
pernikahan mereka yang ke lima, Tito berbisik perlahan di telinganya,
“Mudah-mudahan tahun depan kita bisa punya anak ya, sayang. Lima tahun menikah tanpa anak rasanya
sepi…”
Julaika
mengangguk perlahan. Ia sudah memeriksakan diri ke dokter dan dokter bilang
dirinya tidak mandul, begitu juga Tito. Mereka pasangan muda yang sama-sama
subur. Semua kebahagiaan itu mulai memudar tatkala kebersamaan melalui
pergumulan lembut di pembaringan mereka yang empuk berlangsung, ada rasa sakit merambat perlahan di rahimnya.
Rasa sakit itu kian hari datangnya kian sering, Julaika mulai merasakan
ketidaknyamanan yang menerpa perasaannya setiap kali Tito mulai mencumbunya. Ia
takut rasa sakit itu kembali menerjang. Kenyataannya memang demikian, diam-diam,
usai bercumbu, Julaika menangis perlahan di kamar kecil, ia melihat percikan
darah selalu muncul saat buang air kecil dan itu membuat bagian bawah perutnya
terasa nyeri serta ngilu. Ia ingin berbagi cerita pada suaminya. Namun Tito
yang memiliki semangat tinggi untuk bercumbu, rasanya tak akan mungkin mau
menerima alasan yang diberikannya. Rasa sakit itu kian lama berubah menjadi derita
berkepanjangan yang ia rasakan sendirian. Julaika mulai merasa tak aman bila berdekatan
dengan Tito. Pulang kantor, ia sengaja mampir ke rumah orangtuanya, duduk
berlama-lama di situ hingga larut. Bahkan tak jarang ia memilih tidak pulang,
menghindar dari serbuan mesra sang suami.
“Haruskah
ini berlangsung terus Anna? Aku menjadi takut sekali bila melihat wajah Tito.
Bagiku ia telah berubah menjadi laki-laki ganas yang akan memerkosaku, sungguh
aku sangat ngeri. Dan ini penyiksaan buatku, aku tersiksa oleh rasa takut pada
suamiku sendiri. Seks bagiku bukan lagi hal menyenangkan, tapi mengerikan.”
Keluhnya.
“Ceritakan
yang sesungguhnya pada Tito. Aku yakin ia pasti mau mengerti.”
“Jika
ia mengerti, apakah masalahnya akan tuntas? Kurasa tidak. Tito baru berusia tiga
puluh dua tahun. Ia segar dan kuat. Kau tahu, jika kuturuti, hampir setiap hari
ia menginginkannya. Aku tak sanggup, Anna. Aku kesakitan, aku menderita…”
“Lalu
apa solusimu? Kau akan membiarkan ini berlarut-larut? Ini tidak baik untukmu
dan juga Tito. Kau mau minta cerai?” selidik Anna, menatap tepat di bola mata
Julaika.
“Tidak,
aku akan mencarikan ia isteri pengganti yang bisa memberikan anak dan
melayaninya. Aku bersedia dimadu.”
“Apa? Pikiranmu masih
waras, kan?”
“Dengar Anna,
keberadaanku sebagai perempuan sudah tamat. Rahimku akan diangkat, aku tidak
tahu apakah di tubuhku sudah bersarang kanker laknat itu atau tidak. Aku tidak
bisa punya anak lagi. Andai pun pernikahan tetap dijalani, aku yakin Tito pasti
tidak puas dan kecewa. Biarlah perempuan itu yang melahirkan anak Tito, biar ia
yang melayani semua kebutuhan biologisnya. Aku bersyukur andai Tito tidak
menceraikanku. Aku akan menjadi isteri boneka yang selalu menemaninya kemana
pun ia pergi. Aku…”
“Hentikan Aika, aku tak
mau mendengarnya lagi. Katakan semua yang kau derita pada Tito. Dia harus
menerima kau apa adanya. Semua ini kan hanya imajinasimu saja. Aku yakin Tito
tidak akan berbuat securang itu padamu, aku yakin!”
***
Tapi apa yang ada di
pikiran Anna, tak sama dengan apa yang dikehendaki Julaika. Sahabatnya sejak
SMP itu membisu tatkala ia memperkenalkan perempuan itu padanya. Dia muda,
segar, cantik dan seksi, sesuai dengan selera Tito. Oh ya, ada satu hal yang
membuatnya sengaja memilihnya, ia exhibitionist,
suka berdandan dengan pakaian sedikit terbuka, terutama di belahan dada dan
pangkal lengan. Ketiaknya yang selalu bersih tanpa rambut-rambut halus, kerap
diperlihatkan jika ia sedang berbicara. Payudaranya yang penuh itu sering
menyembul diam-diam tatkala ia menundukkan bahunya. Sepertinya ia sadar jika
dirinya memiliki tubuh molek dan menggiurkan. Julaika juga suka melihat pinggulnya yang lebar, ia
yakin dari situ kelak bisa lahir anak Tito yang molek, seperti yang pernah diidam-idamkannya
dulu. Nama perempuan itu Malika, nama yang memiliki akhiran sama dengan namanya.
Julaika yakin, Malika bisa ‘memproduksi’ anak seusai dengan permintaan Tito.
Ya, meski getir, ia yakin itu bisa terlaksana.
“Kau mulai sinting Aika,
di mana kau temui perempuan ini?” bisik Anna tatkala ia diperkenalkan dengan
gadis itu.
“Dia office girl di
kantorku. Anak broken home, dia minta dicarikan suami yang kaya, punya
penghasilan tetap dan bisa menghidupi ibu serta seorang adiknya. Bapaknya sudah
meninggal beberapa bulan lalu.”
“Kau sudah cerita apa
tujuanmu?”
“Belum, itu tak perlu.
Aku punya rencana lain untuknya.”
“Apa itu?”
“Dia akan kuajak tinggal
di rumahku.”
“Hah? Kali ini kau memang
benar-benar sinting Aika.”
“Ya aku memang telah
sinting, sinting karena sebentar lagi kanker rahim biadab itu akan
merenggutku…”
Anna terdiam, Julaika
juga. Malam itu, bulan masih setengah bulat. Di keremangan teras rumahnya,
Julaika memandang bulan, air matanya mengambang di pipi. Ia yakin awalnya skenario
pernikahannya dengan Tito tidak seperti ini endingnya. Tapi apa boleh buat,
inilah jalan satu-satunya yang harus ia lakukan. Dan Malika, gadis dengan
penampilan exhibitionist itu
benar-benar membawa barang-barangnya ke rumah. Lalu, permainan ‘sinetron’
perihal kehidupan anak manusia pun akan segera dimulai.
***
Tito
berdiri terhuyung usai meminum ramuan yang diberikan Julaika. Tubuhnya memanas,
adrenalinnya meninggi, ia merasakan gejolak birahi yang sangat di luar ambang batas. Matanya
berkunang-kunang, samar-samar ia melihat Julaika menghampirinya, mengenakan
baju tidur yang biasa ia kenakan, celana G’String-nya membayang kontras,
membentuk lekukan nyata yang sangat seksi. Tito kian garang. Malam itu, di luar
gerimis turun perlahan. Julaika menangis diam-diam di kamarnya. Malika
memainkan peran yang telah disusunnya. Ketika pintu rumah dibuka paksa oleh Pak
RT dan beberapa warga, Malika dan Tito terpana bisu di atas pembaringan tanpa
sehelai benang pun di tubuh. Saat itu juga mereka dinikahkan secara paksa oleh
warga. Dan Julaika menarik nafas dalam-dalam tatkala keesokan harinya mendengar
suara Tito yang garang memanggil-manggil namanya.
“Mengapa,
mengapa kau lakukan ini padaku, Aika?” Tanya Tito bersimbah air mata.
Dingin
dan kelu Julaika berkata, “Itu kulakukan karena aku sangat menyintaimu.” Perempuan
cantik yang hampir tujuh tahun menjadi isteri laki-laki berwajah tampan yang
sangat maskulin ini, kemudian memberikan hasil Ct-Scan rahimnya pada Tito.
Meski tak ada bibit-bibit kanker, rahimnya tetap harus diangkat. “Aku tak bisa
melahirkan. Rahimku terserang mioma parah. Berilah aku anak melalui perempuan
itu!” sambungnya dingin.
Tito
menangis lebih keras, ia bersimpuh, memeluk dengkul Julaika. “Aku tak ingin
seperti ini jadinya, aku sangat mencintaimu. Tak ada anak pun, tak apa Aika.
Kita bisa hidup bersama sampai tua, kita bisa mengangkat anak-anak terlantar
yang tak memiliki orangtua, mengapa…mengapa kau tidak menceritakannya padaku.
Mengapa kau mengambil keputusan sepihak? Mengapa kau nikmati deritamu sendirian
Aika…”
Namun
nasi telah menjadi bubur. Di malam-malam berikutnya, Julaika merelakan belahan
jiwanya terbenam bersama perempuan pilihannya, perempuan yang menjadi isteri suaminya. Ia menangis tak bersuara tatkala
mendengar lenguhan perempuan itu di sebelah kamarnya, kamar yang setiap saat
bisa dimasukinya, kamar yang dulu menjadi tempat malam pengatinnya, malam saat
ia menyerahkan keperawanannya pada Tito, kekasih hatinya, suaminya. Dan itulah akibat
dari skenario yang telah dibuatnya. Isak Julaika terdengar seperti bisikan di
malam yang dingin itu.
***
“Tampaknya,
skenarioku endingnya tak seperti yang kuharapkan Anna,” ujar Julaika serak.
“Maksudmu?”
“Aku
harus keluar dari rumah itu. Aku tak kuat melihat perempuan itu, isteri
suamiku, memerlihatkan perut buncitnya di hadapanku. Rencana peminjaman rahim
gagal total, orang sekampung sudah keburu datang, aku belum sempat bernegoisasi
dengan perempuan itu. Obat kuat yang kumasuki ke dalam minuman Tito terlalu
cepat bekerja. Dan perempuan itu ternyata tak sebodoh yang kukira, ia
mengenakan baju tidur serta celana G-Stringku di saat yang tepat, saat otakku
buntu untuk melakukan tindakan selanjutnya. Saat libido Tito telah berubah
menjadi seganas serigala. Kini, ia akan memiliki anak dari suamiku. Rencanaku
gagal total, ia kini yang berkuasa di rumah itu.” Mata Julaika nanar.
“Apakah
ada perubaan pada Tito?”
“Ada.”
“Maksudnya?”
“Setelah
operasi angkat rahim, ia tidak pernah lagi tidur bersamaku. Ia juga jarang
pulang ke rumah. Entah kemana dia pergi.”
“Ha,
lalu kau diam saja?”
Julaika
mengedikkan bahunya. Itu pertemuannya yang terakhir dengan Anna.
***
Malam
itu, di Bandar Udara Soekarno-Hatta,
Julaika dan Tito duduk berdampingan. Bayi mungil yang baru berusia tiga bulan
terbungkus hangat dengan selimut flannel tebal yang nyaman. Julaika memeluk
bayi itu dengan erat. Semalam hujan turun dengan lebat, dinginnya udara
merambat berhembus perlahan mengalahkan dinginnya pendingin udara yang ada di
ruang tunggu bandara. Tito memeluk bahu Julaika. Lalu ia mencium pipinya
lembut. “Kau tidak lupa dengan susunya, kan sayang?” bisik Tito di telinga
isterinya.
“Kau
pikir mentang-mentang aku tidak pernah melahirkan, aku tidak bisa mengurus
bayi? Tito, semua sudah kuatur dengan cermat dan teliti. Uang pensiun dini, green card menetap di Kanada, dan semua uang tabungan termasuk kartu
kredit sudah kuurus dengan baik. Rumah
dan segala isinya sudah kewariskan pada Malika, surat-suratnya lengkap. Ia kelihatannya senang dan mau menerimanya.
Surat cerai yang diurusnya pun diberikannya padaku Minggu lalu. Aku juga
memberinya uang yang cukup sampai ia dapat menemukan pekerjaan baru. Kau tenang
saja. Semua sudah beres.”
“Terimakasih,
kau memang isteri yang cerdas. Aku sangat menyayangimu, aku takut kehilanganmu.
Ini terakhir kalinya ya, Aika, jangan
menjebakku lagi.”
Julaika
tersenyum. Tak akan pernah lagi Tito, kita akan hidup bahagia selamanya
bertiga, gumamnya. Pesawat Boeing 737 Air Bus dengan jurusan Kanada
menerbangkan ketiganya membelah langit biru menuju ke negeri impian.
***
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....