Aku hanya pandai bermain kata lewat tulisan, jika kau memendam rasa dan buntu untuk mengekspresikannya, kutunggu kisahmu bersama beragam imaji dengan ditemani desir angin pagi...

Translate

Category

Shoutbox

Popular Posts

Teman

Novelku Nanti

07 March 2013


 Cinta Imajiner

Oleh : Fanny J. Poyk


Di balik tatapan matanya yang teduh, aku seolah melihat lautan nan biru yang tengah diam dan mengalun lembut. Sebentar-sebentar ia mengerjap, mengatupkan kelopak mata, mengernyitkankening, menggeleng-gelengkan kepala, lalu merintih pilu dalam alunan
nada-nada sentimentil yang mengharu biru yang keluar dari gesekan biola
dan suaranya.

Meski sendu, ia begitu ekspresif. Jemarinya yang lentik dan kurus
berlari lincah mengikuti beat-beat dari irama lagu yang dinyanyikannya.
Suaranya serak manja dan merdu, artikulasinya jelas, ada nada falsetto
serta vibrasi yang terdengar indah tatkala ia mengakhiri bait akhir lagu
yang dinyanyikannya.

Selalu begitu. Nada-nada dan syair lagu yang dinyanyikannya selalu pilu,
kadang bagai mendengar suara Byork yang menggema di setiap sudut
gunung-gunung yang diselimuti salju di Swiss sana, kadang bagai
mendengar desahan nan seksi dalam remangnya malam. Kadang juga mirip
jeritan hati yang merindukan belalaian dan usapan lembut yang telah lama
hilang. Ah, aku kian terpesona melihat gayanya bernyanyi. Ia benar-benar
sosok pengamen bus kota yang selalu kutunggu hadirnya di tiap jam-jam
sibuk tatkala aku berangkat ke kantor. Kehadirannya membuat semangatku
kembali kambuh. Beberapa bulan sebelum aku menemukan sosoknya, ada
kejenuhan yang samar yang membuat aku hampir saja memutuskan untuk
pindah dan mencari pekerjaan lain. Dia muncul tanpa kuduga.
Kemunculannya bagai suplemen dengan pengaruh yang amat kuat.

Semula dia tidak terlalu menarik perhatianku. Tubuhnya kurus, tinggi
sekitar satu meter delapan puluh senti, berambut ikal lebat sebahu, dan
penampilannya sedikit lusuh. Namun, tatkala ia mengeluarkan biola dan
mulai memperdengarkan suaranya, aku bagai terhinoptis di tempat dudukku.
Lambat laun, pada wajahnya yang tirus aku menemukan sensasi indah yang
mampu membuatku berkhayal tentang dirinya. Mungkin ini gila, pikirku.
Aku tidak seharusnya memasukkan sensasi-sensasi itu ke dalam
perasaanku.  Aku sulit untuk berlari darinya. Dia selalu muncul dan
muncul lagi, meski masih dalam taraf imajinasi. Dia memang tidak tahu
apa yang kurasakan. Dia masih kukategorikan dalam kekasih imajinerku.
Dan anehnya, aku merasa bahagia meski dia tidak tahu aku adalah salah
satu penggemarnya yang terselubung. Penggemar yang selalu menanti
kehadirannya di jam-jam sibuk di dalam bus yang membawaku ke kantor.

Sialnya, aku tak bisa menyembunyikan kekasih imajinerku pada Ima sahabat
sekaligus teman sekantorku. Dia terkejut bercampur panik tatkala
kuceritakan apa yang telah terjadi.
“Apa? Kau jatuh cinta dengan seorang pengamen?”
“Hus, jangan keras-keras, nanti semua tahu!”
“Nina, kau ini aneh sekali. Dulu katamu kau pernah jatuh cinta dengan
tukang sol sepatu, lalu dengan tukang jual mangga, kemudian tukang es
puter, sekarang dengan pengamen. Oladalah, di mana kau letakkan posisi
dan kelasmu? Kau cantik, menarik, sekretaris direksi, kok mau-maunya
dengan pengamen…” Ima geleng-geleng kepala.
“Ini serius Ima, aku jatuh cinta padanya.”
“Dia tahu?”
“Tidak. Lebih baik begitu, aku bisa bebas bermain dengan imajinasiku,
aku bebas berpacaran dengannya meski dalam khayalan.”
Ima geleng-geleng kepala. “Kau harus periksa ke psikiater. Jangan-jangan
ada yang salah dengan otakmu!”
Aku terkekeh.

Dan waktu terus berlanjut. Tatkala di bulan kedua tidak kutemui sosoknya
di atas bus yang kutumpangi, aku blingsatan. Semangat hidupku luntur,
aku malas ke kantor, malas duduk di dalam bus kota yang tadinya
kurasakan sangat nyaman. Perjalanan dari terminal  menuju kantorku,
berubah menjadi siksaan yang tak berujung. Ah, ternyata dia si pengamen
yang kucinta memberi dampak besar dalam menapaki hari-hariku.

“Sudah seminggu dia tidak kelihatan Ima, aku rindu suaranya yang seksi,”
keluhku tak bersemangat.
Ima mencibir. “Mungkin dia sudah menemukan bus baru yang penumpangnya
lebih banyak. Berapa kau kasih dia honor usai bernyanyi?”
“Seribu rupiah.”
“Hah? Tega amat kau. Mustinya kalau cinta kau beri dia sepuluh ribu,
kujamin dia akan mangkal terus di bus yang kau tumpangi.”
“Haruskah?”
“Nina…Nina… kau jatuh cinta dengan apanya? Su­a­ra­­nya atau
performance-nya?”
“Semuanya. Aku merasa dia sangat seksi saat sikunya tertekuk dan
tangannya yang kurus menggesek biola. Begitu pula saat ia bernyanyi,
mengatupkan mata, dan menggerakkan bibirnya. Rasanya aku ingin mencium
bibirnya yang tipis dan pucat itu. Aku merasa dia telah membawaku ke
laut biru dengan gelombangnya yang lembut namun penuh gelora. Pesona
yang dia tampilkan membuat aku mabuk kepayang. Ima, saat dia tidak
pernah muncul lagi, separuh ragaku rasanya terbang melayang, aku rindu
padanya…”

Ima memandangku dengan bola mata berputar-putar. “Baik, kalau begitu
Sabtu kita jelajahi Jakarta dengan naik turun bus kota mencari sosoknya
yang hilang. Aku akan membantumu!”

Aku kembali bersemangat, Sabtu kurambah belantara Jakarta, mencari
cintaku yang hilang bersama Ima. Panas dan macetnya kota megapolitan ini
bukan lagi masalah yang terlalu berat untuk kupikirkan. Bagiku, hidup di
Jakarta merupakan ironi. Kota ini adalah gurita berbagai masalah yang
tak pernah terselesaikan. Aku salah satu kaum urban yang terdesak ke
pinggiran kota, yang berjuang dengan waktu dan cuaca demi penghasilan
untuk hidup bulan bertemu bulan.

“Sudahlah Nina, mungkin dia sudah kembali ke kampungnya,” bujuk Ima,
wajahnya tampak letih. Ini bus kelima yang kami naiki. Sosok pengamen
pujaanku tetap tak terlihat.
“Kita bisa mencarinya di terminal atau stasiun kereta. Atau kita tanya
pada anak-anak pengamen yang mangkal di Blok M!” kataku penuh semangat.

Ima mengangguk letih. Kami menelusuri terminal dengan cermat. Perjalanan
yang melelahkan memang. Dan rasa putus asa hampir saja mematahkan
semangat yang tadinya muncul.

“Kita pulang saja!” Ima mulai merengek.
“Sedikit lagi Ima, kita pasti menemukannya!”

Pada akhirnya, asaku yang menggebu terwujud. Kutemukan sosoknya
di terowongan bawah tanah stasiun kereta listrik yang bersebelahan
dengan terminal tempat aku kerap menaiki bus. Ia terbaring lemah  dalam
keadaan menggigil, wajahnya pucat. Dia tertidur di atas selembar tikar
kumal di sudut terowongan yang kumuh dan berbau pesing.

“Kenapa dia?” tanyaku pada seorang pria yang duduk di sisinya.
“Lagi sakaw, biasa nggak bisa beli PT, nggak ada duit!”
“PT? Apa itu?”
“Putaw! Kalau punya duit bagi dong, kasihan dia. Bisa-bisa dia mati
kedinginan. Dua minggu lalu, dia hampir OD alias overdosis, nyuntiknya
kelebihan. Biasalah junkies, kalo ada duit beli, kalo gak ada duit
sakaw!” ujarnya ringan sambil cengengesan.

Ima menarik lenganku. Ia tampak ketakutan. Pengapnya terowongan membuat
dadaku sesak. Sosok yang tertidur di atas tikar lusuh itu membuka
matanya. Ia menatapku sendu. Senyum tipisnya tersungging. Kemudian
matanya kembali mengatup.

“Kita harus membawa dia ke rumah sakit. Kalau tidak dia bisa mati!”
kataku tegas dan tiba-tiba.
“Apa kau gila? Dia bukan siapa-siapamu, Nina!” Ima kembali menarik tanganku.
“Tidak, aku harus membawanya ke rumah sakit!”

Ima  membisu.

Tak ada kata yang terucap di sore hari itu. Semua diam melihat aku
begitu panik dan begitu sangat peduli dengan keadaannya. Ima juga heran.
Tapi aku tetap melangkah, aku terus berjalan dengan keyakinanku. Harapan
agar ia sembuh dan kembali menyanyikan lagu-lagu kesukaanku di atas bus
yang membawaku ke kantor semakin bertumbuh.

Seterusnya, kisah cintaku bagai kemarau yang terhapus hujan. Meski tak
ada sentuhan fisik, tak ada rasa saling memiliki, dan dia tidak tahu
kalau aku mencintainya, air mataku terus berlinang tatkala dokter
mengatakan kalau hampir seluruh onderdil yang ada di tubuhnya sudah
rusak akibat narkoba. Dia, pengamen yang namanya pun tidak kukenal,
meninggal seminggu yang lalu saat berada di rumah sakit. Dia tidak
pernah tahu kalau aku jatuh cinta padanya. Maka, dengan demikian kisah
cinta imajinerku berakhir sudah. Dan aku kembali menjalani rutinitas
yang menjemukan di dalam bus kota yang membawaku dari terminal ke
kantor.  ***

Dimuat di Suratkabar Sinar Harapan Februari 2010

0 comments: