Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
-
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mah...
-
Rumah Oleh : Fanny J.Poyk Seharusnya rumah itu bisa menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa saja yang kenal dekat dengan p...
-
Top of Form Bottom of Form Luka Erika Oleh : Fanny J.Poyk Dirimu ibarat pualam, putih bersih, bersinar...
-
Dadong Kerti Oleh Fanny J.Poyk Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas ka...
-
Juminten Oleh : Fanny J. Poyk Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedi...
-
Isteri Untuk Suamiku Oleh : Fanny J. Poyk Melihat hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi yang diberikan dr, Drew, ...
-
Datanglah kesini Mae, kehadiranmu membuatku terhibur. Aku tertekan dengan situasi, sebagai ras dengan stigma teroris aku sang...
-
Mimpi Oleh : Fanny J.Poyk Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya ber...
-
Aku dan Cinta Oleh Fanny J. Poyk Kutulis kisah ini tanpa menyinggung siapa yang telah kusinggung dan siapa yang telah t...
-
Ketika Ken Marah Oleh: Fanny J.Poyk Di penghujung waktu amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama s...
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Dadong Kerti
Oleh Fanny J.Poyk
Ini rumah ke dua belas yang
kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas kali sudah
kami pindah rumah. Ayah menata hidup kami mirip kehidupan gipsy, bosan di satu
desa, di satu banjar, ia memutuskan mencari kontrakan baru dengan lingkungan
dan suasana yang benar-benar baru. Tak ada yang aneh dengan kepindahan kami
yang berkali-kali dalam kurun waktu dua belas tahun itu. Kami dengan mudah
dapat menyesuaikan diri, kami memang seperti bunglon, dapat berubah warna
dengan cepat sesuai keadaan dan tempat. Tempat tinggal kami yang baru terletak di desa
Batanpoh, berdekatan dengan Pantai Sanur.
Pemilik rumah yang baru sepasang
suami isteri berusia sekitar enam puluhan, mereka akrab kami sapa dengan Pan Wayan Deblog dan Dadong Kerti. Untuk
ukuran masyarakat Bali kala itu dan penduduk desa Batanpoh khususnya, pasangan
suami isteri ini terbilang berada, mereka memiliki tiga rumah kontrakkan,
seekor kerbau, dua pasang babi dan sepuluh anak-anak mereka, serta sepasang
sapi dengan lima petak sawah seluas lima ribu meter persegi yang terletak di
desa Padang Galak.
Pasangan ini tidak memiliki
anak kandung, seorang anak angkat mereka, laki-laki, sudah menikah dan menetap
di Banjar Pekandelan, berdekatan dengan Banjar Batanpoh. Anak laki-laki yang
beruntung ini memperoleh dua petak sawah, seekor kerbau dan sebuah rumah seluas
lima are lengkap dengan merajan atau sanggah untuk bersembahyang.
Rumah yang disewa ayah
terletak satu lokasi dengan rumah induk yang ditempati Dadong Kerti dan
suaminya. Di belakang rumah mereka ada kandang kerbau dan sapi yang
bersebelahan dengan kandang babi. Jika pagi menjelang, aroma tak sedap menyeruak
kemana-mana, bergabung dengan semilir angin dan menebarkan bau yang mengganggu
penciuman kami. Tapi penderitaan akibat bau hanya kami rasakan beberapa hari
saja, selebihnya bau tak sedap itu mulai kami akrabi, apalagi tak lama kemudian
aku telah memperoleh teman baru yang militan, nakal, pandai berenang, pandai
berjualan patung di tepi Pantai Sanur, dan pandai memanjat pohon apa saja. Namanya
Nyoman Kantun, darinya aku dan adik-adikku
belajar banyak hal, termasuk menari Bali dan menyukai pertunjukkan drama gong,
kisah Ramayana, hingga tari kecak. Aku merasa inilah dunia baruku, dunia yang benar-benar penuh kejutan.
Dadong Kerti lebih dominan
dari suaminya. Nenek yang satu ini seperti memiliki tenaga kuda, ia tak pernah
terlihat lelah, sebelum matahari terbit, ia sudah bergelut dengan dapurnya, ya
dapur menjadi titik sentral kehidupannya, di sana ia membuat canang, memasak
berbagai penganan untuk dijual, mengolah makanan buat binatang-binatang
piaraannya, dan berkidung menyanyikan kekawin/lagu-lagu pemujaan pada Ida Sang
Hyang Widhi Waca yang dikarang para pujangga Bali. Sedang Pan Wayan Deblog lebih banyak berada di sawah bersama kerbau
dan sapi-sapinya. Anak angkat mereka, jarang bahkan hampir tak pernah datang
menjenguk kedua orang tua angkatnya.
Perihal anak angkatnya,
Dadong Kerti pernah bercerita padaku,
sesungguhnya ia menginginkan anaknya itu serta isteri dan satu orang cucunya
(yang seorang telah meninggal dunia) tinggal bersama dia dan suaminya, satu
rumah kontrakkan permanen dari tiga rumah yang dibangunnya itu untuk mereka.
Namun entah kenapa, ketika cucu keduanya lahir, anak angkatnya langsung
memutuskan pindah. Kepindahan itu berawal dari sakitnya sang cucu ketika
berusia tiga bulan. Hampir tiap malam, bayi itu menangis, tubuhnya kejang,
matanya melotot dan bayi itu muntah-muntah. Wayan Merta, nama anak angkatnya,
marah besar dan langsung menuduh ibu angkatnya bisa ngeleak, mencincar anaknya
untuk dipersembahkan pada Batari Durga, yang ia tuduh sebagai dewi leak junjungan
Dadong Kerti. Tuduhan itu memang belum
pasti, namun Wayan Merta yakin ibu angkatnya bisa ngeleak.
Sesungguhnya sebutan leak dapat
berkonotasi jahat dan menakutkan. Namun leak sebenarnya ada dua jenis, yaitu
leak dengan aliran putih yang disebut Penengen, dan leak beraliran ilmu hitam
dinamakan Pengiwa. Penengen leak yang baik, sedang pengiwa leak jahat.
Sebenarnya nama leak adalah Liya Ak, entah mengapa berubah menjadi Leak, aku
sendiri tidak tahu. Nama itu sudah ada sejak sebelum aku menetap di bali. Leak
berarti mencari pencerahan melalui aksara Bali, yaitu Lina aksara yang artinya
memasukkan dan mengeluarkan kekuatan aksara ke dalam tubuh dengan cara
tertentu. Kisah leak menjadi mahluk yang menakutkan dan dapat mencabut nyawa
seseorang, menjadi kisah yang berada di posisi antara “ya” dan “tidak”, jadi
masih menjadi kisah yang abu-abu. Mahluk ini menjadi seram karena dibumbui dengan
cerita-cerita yang pada akhirnya membuat orang percaya kalau dia memang
benar-benar mahluk yang menyeramkan.
Entah, jika benar Dadong
Kerti bisa menjadi leak, apakah dia Penengen atau Pengiwa, sekarang masalahnya
bukan hitam atau putih lagi. Aku tidak mengerti seperti apa cara kerja para
leak itu, yang pasti jika benar Dadong
bisa ngeleak, ini gosip yang menakutkan. Aku resah, aku gelisah. Sebab, menurut
penuturan beberapa temanku di sekolah, leak sangat menyukai balita. Nah, aku
mempunyai adik yang berusia empat tahun. Dia bisa menjadi sasaran empuk ilmu
pengeleakkan Dadong Kerti. Adikku sewaktu-waktu bisa dijadikan tumbal. Adikku
sewaktu-waktu dapat dipersembahkan ke Batari Durga.
Maka kegelisahanku ini
kusampaikan pada ayah.
“Kita harus segera pindah
dari sini, Yah!” ujarku. Saat itu tepat malam Kajeng Kliwon, malam yang
diyakini para jago ngeleak keluar dari peraduannya, keluar dari raga dan
mengejawantah menjadi berbagai jenis mahluk atau benda-benda yang ada di bumi
ini.
“Kenapa mendadak kau minta
pindah?” tanya ayah.
“Aku takut tinggal di sini.
Dadong Kerti bisa ngeleak.”
“Kata siapa?”
“Kata orang-orang di Banjar Batanpoh,
anak angkatnya pindah dari rumah ini karena tidak mau anak mereka menjadi
korban neneknya.”
“Lalu bagaimana perkembangan
cucu Dadong Kerti itu?” Ayah balik
bertanya.
“Hmm…menurut khabar sih, dia
meninggal setahun yang lalu akibat muntaber. Tapi penduduk Bantapoh tetap
yakin, anak itu kena cetik Dadong Kerti, karena saat sakit Dadong Kerti yang
merawat cucunya.”
“Apa itu cetik?”
“Diracun. Orang yang bisa
ngeleak, juga jago cetik, Yah!”
Ayah terkekeh. “Itu kisah
yang irasional. Kau jangan percaya dengan cerita macam begitu. Buktinya,
setelah tiga bulan tinggal di sini, kita aman-aman saja, kan? Adikmu pipinya
tambah montok, dia makan makanan pemberian Dadong, kita juga makan makanan
darinya, kita tetap sehat dan tidak ada yang sakit-sakitan. Sudahlah Ani,
jangan kau racuni pikiranmu dengan kisah-kisah isapan jempol yang tak
bermanfaat. Lebih baik kau pusatkan perhatianmu dengan belajar dan belajar, kau sebentar lagi ujian, kan?”
Ucapan ayah tak membuat rasa
penasaranku surut. Perkenalanku dengan Nyoman Kantun, anak nelayan yang rumahnya
persis bersebelahan dengan rumah kontrakkanku, makin menguatkan keyakinanku
kalau Dadong Kerti bisa ngeleak. Kantun menuturkan bahwa malam pertama saat
Kajeng Kliwon tiba di bulan purnama, ia dan adiknya baru pulang dari Banjar
Sindhu. Mereka habis menyaksikan drama gong Cupak dan Grantang. Ketika itu hari
telah menunjukkan pukul dua dini hari. Persis di tikungan gang masuk ke arah
rumahku, tepatnya di bawah pohon beringin yang rimbun, ia melihat seekor monyet
sedang duduk di atas batu sambil menatap rembulan yang bulat penuh.
“Monyet itu tampak jelas, bulunya
yang abu-abu, bersinar seperti perak. Wajahnya mendongak lurus ke arah bulan
purnama. Aku mengintipnya dari balik tembok, aku sangat ketakutan. Aku yakin
itu Dadong Kerti, dia telah berubah menjadi monyet,” tutur Kantun.
Benarkah? Di antara rasa
percaya dan tidak, perasaan cemasku makin menggunung. Kini hampir tiap hari kuperhatikan gerak-gerik
tuan rumahku itu. Sore hari tatkala ia
menuju merajan, kuintip, apa saja yang dipersembahkan di depan pura jadi pusat
penelitianku. Pagi hari kuamati apa yang dia lakukan di dapur, sikapku ini
sempat membuatnya bertanya, “Ada apa, Ani?”
“Oh tidak, tidak ada
apa-apa. Saya hanya senang saja melihat Dadong begitu rajin.”
“Hm…pasti kau telah
mendengar cerita-cerita tentang aku…Jangan takut Ani, aku tidak seperti yang
kau pikirkan. Percayalah!”
Dadong Kerti berbicara
tajam, ia tidak menatapku. Wajahnya menunduk ke bawah, menatap tanah basah yang
tersiram hujan semalam. Aku memerhatikan wajah perempuan tua itu, dia tidak
berani menatap mataku, menurut Kantun, itu salah satu ciri orang yang bisa
ngeleak. Kerutan tajam menghiasi wajah Dadong. Ia memang tak mengenal make up,
sejak muda wajah itu terus terpapar sinar mahatari, tubuhnya yang gempal dengan
dua payudara tergantung lepas dan bebas, membuat perempuan hampir mirip manusia
batu itu, tidak memerlukan lagi berbagai asesoris untuk memperindah
penampilannya. Dia benar-benar perempuan alam, bau keringatnya bau alam,
rambutnya bau alam. Jika ada yang mengatakan dia memiliki ilmu pengeleakan,
memilki sabuk sakti yang bisa digunakan untuk ngeleak, untuk apa semuanya itu?
Hhh…kepalaku kian bertambah pusing.
“Kalau kau tidak percaya,
mari kita selidiki rumah Dadong Kerti saat ia dan suaminya tidak ada. Kita cari
sabuk pengeleakkannya!” ajak kantun suatu hari.
“Sabuk pengeleakan? Sabuk
apa pula itu?
“Hah, masak kau tidak tahu,
kalau orang mau ngeleak, dia harus memakai sabuk itu, nanti arwahnya akan
keluar dari raganya, dia dapat berujud macam-macam, dia bisa berada di dalam
rumahmu!” Wajah Kantun serius, ia semakin mirip PM Toh sang penutur asal Aceh.
“Mudah-mudahan tidak.” Aku
bergidik ngeri.
Namun sebelum penggeledahan
dimulai, aku terkejut, adik bungsuku tidak ada di rumah. Ibu memarahiku
habis-habisan. Ayah juga sama. Mereka mengancamku, jika sampai petang adikku
tidak juga pulang, mereka akan mengusirku. Aku cemas, aku gelisah. Kubayangkan
dia perlahan-lahan akan meregang nyawa akibat cetik yang diberikan Dadong
kepadanya. Sungguh, rasa cemasku telah sampai ke ubun-ubun. Aku juga semakin
percaya dengan ucapan Kantun.
“Kita geledah sekarang?”
tanya Kantun.
“Jangan, kita cari adikku
dulu. Aku tidak mau dia pulang dalam keadaan perut bengkak akibat cetik!”
“Ha? Kau yakin adikmu pergi
bersama Dadong Kerti?”
“Iya. Sebab nenek itu tiap
hari selalu menatap adikku. Dia juga kerap memberi adikku jajanan buatannya.
Mungkin itu hanya pancingan, di saat yang tepat dia akan menjadikan adikku
korban ilmu pengeleakkannya. Minggu depan Kajeng Kliwon, bulan purnama bulat
total, saat itulah dia akan menyedot ubun-ubun adikku, menyedot darahnya dan
menghirup darah itu melalui pusarnya. Duh, adikku akan membujur kaku. Perempuan
tua itu akan berubah menjadi drakula yang haus darah. Cepat Kantun, ayo kita ke
sawah, mencari mereka di Padang Galak!”
Rasa gundah itu kian
membumbung. Kilatan leak yang kuimajinasikan berujud seperti Rangda; hantu
bertaring tajam, berambut putih panjang, dengan payudara menggelantung seperti
buah pepaya, mata melotot, memiliki kuku-kuku panjang dan runcing, serta lidah
menjulur ke luar, membuat jantungku berdetak cepat. Oh tidak! Jangan sampai
imajinasi liarku itu terwujud. Aku tidak mau adikku mati, ya mati di tangan Rangda
jelmaan Dadong Kerti. Dan sore itu kupastikan aku harus menemukan
adikku. Bersama Kantun kucari bocah kecil itu di sawah Dadong Kerti di Padang
galak, di tepi pantai Sanur, hingga ke rumah Lo Lan teman baruku yang tinggal
di Kampung China dekat rumah kontrakkan kami.
Namun sosok adikku masih
samar.
“Bagaimana ini Kantun, adikku tetap tidak ditemukan, matahari sudah
turun ke barat, sebentar lagi senja dan
malam akan membuat dunia gelap. Kalau sampai adikku tidak juga pulang, bisa
gawat aku!”
“Kita pulang saja, kita tanya langsung pada Dadong, jika dia
tidak mengaku, kita cari dalam rumahnya. Adikmu pasti disembunyikan di sana.”
Nyatanya, hingga malam tiba,
rumah Dadong Kerti tetap gelap. Aku dan
Kantun berbalik, mencari mereka di tempat arena tari kecak dan Ramayana. Di
sana mereka juga tak ada. Kecemasanku makin meningkat. Ini bukan sekedar rasa
curiga lagi, tapi sudah lebih dari itu. Nyawa adikku ada di ujung tanduk. Darahnya
akan disedot habis tanpa sisa oleh Dadong Kerti.
“Jalan satu-satunya kita ke
rumah anak angkat Dadong, Wayan Merta. Dia pasti tahu di mana ibu angkatnya
berada.” Usul Kantun.
***
Itulah untuk pertamakalinya aku
bertemu dengan Wayan Merta. Ketika aku dan Kantun berhadapan dengannya, ia
tengah berada di arena sabung ayam, lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu
tampak loyo dan bau minuman keras tercium dari mulut serta nafasnya. Sambil
terkekeh dia bilang, “Perempuan tua itu memang pintar, dia tidak mau menyerahkan
semua harta miliknya. Sebentar lagi dia dan suaminya akan mati. Sawah, kerbau,
sapi, dan binatang peliharaannya seharusnya menjadi milikku. Tapi mereka hanya
memberikan sedikit saja harta mereka untukku. Sekarang, biar mereka rasa,
dengan gosip menjadi leak, mereka akan dikucilkan, mereka akan dilempari batu.
Dadong Kerti tak bisa tenang hidupnya. Masyarakat akan mengadili dia dan
suaminya, hidup mereka akan hancur!”
“Di mana adikku?”
“Adikmu? Mana aku tahu.”
Mataku nanar mencari-cari
adikku. Akhirnya kulihat bocah balita itu tengah tertidur pulas di sudut arena
perjudian sabung ayam beralaskan tikar. Wayan Merta yang menculik adikku, dia sengaja
menyuruhnya tidur di situ. Dia sengaja menebarkan isu adikku menjadi korban
pengelakkan Dadong Kerti. Aku membawa pulang adikku dengan hati lega. Esok,
bersama Kantun akan kubeberkan pada para penduduk banjar Batanpoh, kalau Dadong
Kerti tidak bisa ngeleak. Wayan Mertalah
leaknya, leak yang tidak tahu terimakasih, tidak punya hati nurani. Setelah
diambil dari tengah sawah dan dijadikan anak angkat keluarga Pan Wayan Deblog, anak haram hasil perzinahan itu membalasnya
dengan balasan yang sangat menyakitkan. Ia menyebarkan fitnah keji yang sempat
membuat dua orang tua angkatnya merasa tersudut dan terkucilkan. Ia membalas
semua kebaikan dengan kotoran tepat di wajah kedua kakek dan nenek itu.
“Mertalah leaknya…” kata Kantun
“Ya, dalam dirinya
bersemayam sifat durjana yang tidak tahu berterimakasih.” Sambungku.
“Napi je anake ngorahang
dewek, tiang paling melahe, tiang siap dogen. Kasuen suen sinah jagi ngenah,
sire sane patut tur sire sane mebikas jele. Bikas jele dumogi ke ampehang masa,
Ida Sang Hyang Widhi Waca nente je jadi nyengsarang damuh ne ane patut…” ujar Dadong
Kerti. Yang kuartikan, biarkan orang bilang apapun tentang saya, diam adalah
tindakan terbaik. Waktu nanti yang akan berbicara, yang baik akan terlihat,
yang jahat tergerus oleh masa. Tuhan menyayangi orang yang baik.
Aku menggendong tubuh adikku
yang tengah tertidur pulas. Kantun berjalan di sampingku. Malam itu Bulan
purnama bulat penuh. Seekor monyet berbulu abu-abu menanti kami di bawah pohon
beringin dekat pintu gerbang rumah Dadong Kerti. Di situ terlihat seorang
laki-laki duduk di samping monyet itu. Dia
Pan Nyoman Puguh, pemilik monyet, dia sedang menemani monyetnya menatap bulan purnama
yang sedang berpendar indah…
***
Depok, Panas Terik Maret 2011
1. Catatan :
2.
Pan :
Bapak ( Pak Wayan Deblog)
3.
Dadong : Nenek
4.
Cetik : Racun
5.
1 Are : 100 meter
6.
Merajan/Sanggah
: Tempat khusus untuk
bersembahyang bagim umat Hindu
7.
Leak : Ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari
pencerahan lewat aksara suci. Dalam
aksara Bali disebut Liya Ak, yaitu lina aksara yang berarti memasukkan dan
mengeluarkan kekuatan ke dalam tubuh dengan cara tertentu.
8.
Rangda : Mahluk
bertaring, berambut putih panjang dengan mata melotot keluar, lidah menjulur ke
dalam lengkap dengan dua gigi taring dan payudara melorot ke bawah.
9.
Mekidung/Mekekawin : Tembang untuk memuji Tuhan
10.
Canang : Sesajen dari daun kelapa dan bunga-bunga (salah
satunya bunga kemboja) serta irisan daun pandan untuk bersembahyang dalam agama
Hindu.
11.
Pura : tempat
bersembahyang masyarakat Hindu
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....