Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
-
Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mah...
-
Rumah Oleh : Fanny J.Poyk Seharusnya rumah itu bisa menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa saja yang kenal dekat dengan p...
-
Top of Form Bottom of Form Luka Erika Oleh : Fanny J.Poyk Dirimu ibarat pualam, putih bersih, bersinar...
-
Dadong Kerti Oleh Fanny J.Poyk Ini rumah ke dua belas yang kami tempati. Dua belas tahun menetap di Denpasar, Bali, dua belas ka...
-
Juminten Oleh : Fanny J. Poyk Juminten menghapus nama Paino dari daftar nama yang ada di Hp-nya. Perasaannya campur aduk, antara sedi...
-
Isteri Untuk Suamiku Oleh : Fanny J. Poyk Melihat hasil pemeriksaan CT-Scan tiga dimensi yang diberikan dr, Drew, ...
-
Datanglah kesini Mae, kehadiranmu membuatku terhibur. Aku tertekan dengan situasi, sebagai ras dengan stigma teroris aku sang...
-
Mimpi Oleh : Fanny J.Poyk Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya ber...
-
Aku dan Cinta Oleh Fanny J. Poyk Kutulis kisah ini tanpa menyinggung siapa yang telah kusinggung dan siapa yang telah t...
-
Ketika Ken Marah Oleh: Fanny J.Poyk Di penghujung waktu amarah itu sudah mencapai puncaknya. Kediaman dan pendaman luka selama s...
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Tidak ada yang aneh
dengan dirinya. Dia perempuan matang, berusia lima puluh tahun, pekerja keras,
pengurus rumahtangga yang hebat, sangat sayang pada dua anak laki-lakinya yang
berangkat dewasa, selalu memenuhi semua kebutuhan mereka, sangat lembut, santun
dalam bertutur kata, dan…cantik. Secara keseluruhan, dia bisa disebut ibu yang
sempurna. Kejanggalan hanya akan terlihat bila mendengar dan membaca kisah
kelam masa lalunya. Kisah yang secara perlahan terkuak dari sebuah diary kusam
hitam yang tanpa sengaja terbaca oleh anak sulung perempuan itu.
Sang anak terkesiap, di ruang benaknya ia tak pernah menduga secuil pun bila kisah itu menjadi sedemikian dahsyat hingga menggetarkan jiwanya. Kisah itu sangat rinci dan lengkap, ditulis dengan rapi, kalimat rata tanpa cacat. Tiap tanggal, jam, bulan, tahun, bahkan menit, tertera dengan jelas. Ada penuturan mengharu biru, gembira, trenyuh dan…binal. Ya, kata yang terakhir itu seharusnya tidak ditulisnya dengan gamblang dan jelas. Seharusnya perempuan itu mengubur sisi ini. Seharusnya kisah itu hanya kenangan yang disimpan rapat-rapat, cuma dia sendiri yang tahu.
Tapi ini tidak. Sang putera duduk terhenyak tatkala membaca baris demi baris kalimat yang ada di situ. Tiap kalimat bagai ribuan luka yang menganga yang siap menggempur pertahanan emosi siapa saja yang membacanya. Bahkan, ada bagian-bagian tertentu yang tak kuasa untuk dibaca puteranya. Buku diary itu benar-benar menjadi bom waktu, bom yang siap meletus kapan saja dan dibaca oleh siapa saja.
Sang anak terkesiap, di ruang benaknya ia tak pernah menduga secuil pun bila kisah itu menjadi sedemikian dahsyat hingga menggetarkan jiwanya. Kisah itu sangat rinci dan lengkap, ditulis dengan rapi, kalimat rata tanpa cacat. Tiap tanggal, jam, bulan, tahun, bahkan menit, tertera dengan jelas. Ada penuturan mengharu biru, gembira, trenyuh dan…binal. Ya, kata yang terakhir itu seharusnya tidak ditulisnya dengan gamblang dan jelas. Seharusnya perempuan itu mengubur sisi ini. Seharusnya kisah itu hanya kenangan yang disimpan rapat-rapat, cuma dia sendiri yang tahu.
Tapi ini tidak. Sang putera duduk terhenyak tatkala membaca baris demi baris kalimat yang ada di situ. Tiap kalimat bagai ribuan luka yang menganga yang siap menggempur pertahanan emosi siapa saja yang membacanya. Bahkan, ada bagian-bagian tertentu yang tak kuasa untuk dibaca puteranya. Buku diary itu benar-benar menjadi bom waktu, bom yang siap meletus kapan saja dan dibaca oleh siapa saja.
***
Awal Juni di tahun saat perempuan itu remaja, di jam
yang awal, menit yang ke sepuluh, dan bulan ke tiga, perempuan itu menuliskan
kisah pilunya. Tulisan yang ditandai basahnya buku diary itu dengan air mata,
benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang ia tampilkan pada puteranya. Di
sana, di kamar yang sepi, di lorong waktu, tak ia nyana, ia diperkosa oleh sang
paman, adik ayahnya. Pemerkosaan itu terjadi berulang-ulang, sehingga
beberapakali ia menggugurkan kandungannya. Tatkala sang paman menikah, dan lelaki
itu pindah ke kota besar, kisah mereka berlalu tanpa seorang pun tahu. Perempuan
itu menyimpannya menjadi kenangan yang pekat dan teramat pahit.
Jakarta
kota yang dituju tampaknya semakin dalam menyeruak ke diri perempuan itu.
Pergaulan bebas dan narkoba mulai direguk. Merasa diri sudah tak bermakna,
perempuan cantik berkulit bersih dengan gurat wajah ayu nan exotic, menggiring
dirinya berkenalan dengan seorang pemuda Ambon peranakan China. Mereka memadu
kasih, dan sang pemuda yang ‘junkies’
memperkenalkannya pada heroin. Perkenalan ini pada akhirnya menggiring mereka
menjadi ‘junkies’ bersama-sama, sang perempuan pernah over dosis dan menjadi bandar
narkoba demi kekasihnya. Ketika si pemuda terdeteksi HIV lalu akhirnya
meninggal, perempuan itu termenung dalam luka. Ia frustasi, ia kecewa dan
hampir saja melarungkan dirinya dalam nestapa narkoba yang hampir tak
tertahankan. Untung, ya masih untung ia selamat, begitu pun virus HIV, penyakit
itu tidak bersarang di tubuhnya.
Kisah
yang kelam dan pekat entah mengapa kembali dijalaninya. Masih dalam usia
remaja, ia telah berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain, bahkan ia sempat
pula tinggal bersama seorang pria Jerman. Lelaki ini memeliharanya selama tiga
tahun, dan selama tiga tahun itu ia telah menghasilkan satu anak laki-laki yang
kemudian dibawa ‘suami’ Jermannya.
Buku
diary itu kian bergetar di tangan sang putera. Baris demi baris kalimat yang
tertera di tiap halaman, bagai mata pisau yang siap menancap ulu hatinya. Air
mata mengambang di mata pemuda itu. Lalu, antara percaya dan tidak, ia terus
membuka halaman demi halaman, di ruang sanubarinya ada selaksa rasa ingin tahu
yang bersemayam, ia semakin ingin mengikuti kisah yang ada di dalamnya.
Tahun
ke lima, menit ke tiga puluh, jam ke dua, hari ke lima, bulan ke tujuh, perempuan
itu hamil lagi. Usianya menginjak dua puluh tiga tahun. Entah berapa lelaki
yang telah menidurinya, karena ia sendiri tak bisa menjelaskan siapa lelaki
terakhir yang telah menanam benih di rahimnya. Kisah cinta singkat ini
dijalaninya tatkala ia menjadi pengamen jalanan. Di sana, di lorong gelap
stasiun kereta api, tatkala malam menjelang, ia digilir oleh para pengamen itu
tanpa waktu yang jelas. Ia menjalani hidupnya di sana karena kabur dari rumah
dan tak mau kembali lagi. Anak itu akhirnya diserahkan ke sebuah panti asuhan
dan diangkat anak oleh sebuah keluarga yang tak diketahui keberadaannya.
Kisah kelam dalam diary kemudian berlanjut, ini terjadi di tahun ke tujuh, di waktu dan menit yang berbeda, dan bulan yang ke delapan, di saat perempuan itu berusia dua puluh lima tahun. Kekelaman dalam kisah yang tertera di diary itu tak sepekat dalam kisah-kisah sebelumnya. Perempuan itu berkenalan dengan seorang laki-laki tampan, bertubuh tegap, dengan rambut ikal yang lebat. Perkenalan singkat di sebuah klab malam lalu berlanjut. Laki-laki itu mengajaknya menikah, mengajak ia untuk lepas dari pekerjaannya sebagai penari telanjang dan menggiringnya ke altar untuk dinikahi.
Kisah kelam dalam diary kemudian berlanjut, ini terjadi di tahun ke tujuh, di waktu dan menit yang berbeda, dan bulan yang ke delapan, di saat perempuan itu berusia dua puluh lima tahun. Kekelaman dalam kisah yang tertera di diary itu tak sepekat dalam kisah-kisah sebelumnya. Perempuan itu berkenalan dengan seorang laki-laki tampan, bertubuh tegap, dengan rambut ikal yang lebat. Perkenalan singkat di sebuah klab malam lalu berlanjut. Laki-laki itu mengajaknya menikah, mengajak ia untuk lepas dari pekerjaannya sebagai penari telanjang dan menggiringnya ke altar untuk dinikahi.
Lima
tahun mereguk kasih, hidup tenang dan terhindar dari hingar-bingarnya
lampu-lampu spotlight, menjadikan
perempuan ini jinak dan akhirnya ia melahirkan dua anak laki-laki yang tampan.
Tepat di bulan ke sepuluh, di tanggal sepuluh, jam sepuluh dan menit yang ke sepuluh, hampir lima tahun
lebih pernikahan mereka, sang karma datang menghampiri dan merebut semua
kebahagiaan dari tangan perempuan itu. Lelaki tampan yang menjadi suaminya
direbut perempuan kelab malam nan elok, segar dan bertubuh bak gitar Spanyol.
Perempuan
itu kembali mengisi diarynya, kali ini bekas titik-titik air mata lebih tajam
luruh ke permukaan buku diary itu, tetes air mata membuat beberapa huruf buyar.
Dan si perempuan berjanji untuk tidak kembali ke jalan kelam yang dulu pernah
ditempuhnya. Di tahun ke lima belas, di jam yang ke sepuluh, di menit yang ke sembilan,
di bulan yang ke enam, ia menulis rencana-rencananya setelah sang suami terbang
ke pelukan perempuan pesaingnya. Ia alih profesi, ia menjadi kuli cuci pakaian,
pembantu rumahtangga jam-jaman, pedagang kue keliling dan pengasuh balita yang
juga jam-jaman. Semua dilakukannya demi kedua anaknya. Perempuan ini tak
mengeluh. Wajah cantiknya tersimpan dalam tempaan waktu dan masa yang berputar.
“Buku
diary itu adalah saksi sejarah mengapa kulakukan semua ini.” Katanya pada anak lelakinya.
“Bila waktu bisa diputar, aku ingin hidupku tidak begitu skenarionya. Aku ingin melebur sisi gelap itu bersama rentang waktu yang dulu pernah kujalani.”
“Bila waktu bisa diputar, aku ingin hidupku tidak begitu skenarionya. Aku ingin melebur sisi gelap itu bersama rentang waktu yang dulu pernah kujalani.”
“Tapi
waktu tak bisa diputar, Ibu.”
“Ya,
waktu tak bisa diputar. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun Ibu
bahagia…”
“Bahagia?
“Ya,
Ibu bahagia karena memiliki kalian berdua.”
Namun anak lelaki perempuan itu masih penasaran. Ia belum terpuaskan, ia belum menemukan apa yang dicarinya. Pada bab terakhir, di tahun ke dua puluh lima, tepat di jam dua belas malam, pada bulan yang sama, di situlah jantung lelaki yang mulai tampil dewasa ini berpacu lebih cepat lagi. Di situ tertera apa yang dicarinya. Di buku diary itu tertulis kisah luar biasa yang menjadi penyebab jalan hitam seluruh kisah hidup perempuan itu, perempuan yang dipanggilnya ibu…
***
Tahun
ke sembilan, tanggal lima, bulan ke lima, jam dua pagi, menit ke sepuluh. Aku
melihat ayah memukuli Ibu habis-habisan, ibu berteriak minta tolong. Dari kamar
yang tertutup, aku tidak tahu apa yang terjadi, suara lolongan permintaan
tolong ibu terdengar hingga ke kamarku dan adik-adikku. Peristiwa ini terjadi
berulang-ulang. Ayah yang ringan tangan, pemabuk, suka main perempuan, dan
memiliki beberapa perempuan simpanan, menjadikan ibu bagai sansak tinju
pelampiasan rasa kesalnya. Kami menutup telinga, penyiksaan itu terus
berlangsung selama bertahun-tahun.
Aku kesal. Ibu yang lemah semakin tak berdaya, ia sama sekali tak memiliki kekuatan untuk melawan ayah. Ia takut bila suatu saat ayah menceraikannya. Ya, aku tahu ibu sangat mencintainya. Ayahku yang tampan, pengusaha kaya dan memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja, adalah kekuatan yang sangat dahsyat dan tak bisa dilawan ibu. Aku geram, aku meradang. Kulihat ada ketidakadilan di sini. Ibu yang lemah, memberikan seluruh tubuh dan jiwanya untuk ditindas oleh laki-laki yang kupanggil ayah. Laki-laki yang menanamkan benih di rahim ibuku adalah manusia bertopeng yang sesungguhnya di dalam topeng itu tersimpan sesosok raut yang kejam dan sangat biadab.
Jiwaku
terobek, batinku meronta. Aku berjanji untuk membalas semua derita ibuku dengan
pukulan telak yang mencoreng-moreng
harga dirinya, martabatnya dan reputasinya. Seperti tulisan dalam
diary-diary sebelumnya, di sana kulakukan semuanya, ya semuanya tanpa sisa.
Kubuat malu ayahku, kujerat pamanku sendiri dengan rayuan nakalku hingga ia
memerkosaku. Kubuat ayah tak berani menampakkan diri di muka umum, kubuat
namanya tercemar sehingga ia menarik diri dari kehidupan masyarakat. Aku,
puteri tertuanya, melakukan semua itu untuk membalaskan sakit hati ibu selama
berpuluh-puluh tahun, kulakukan semua ini untuk membalas dendam jasad ibuku
yang dibunuh ayah secara perlahan melalui psikis maupun jasmani.
“Apakah
kakek tahu semua ini?”
“Ya.
Ia terpuruk dalam derita yang diciptakan Ibumu dan dirinya sendiri.”
“Sekarang,
di mana Kakek?”
“Di
rumah sakit jiwa.”
“Ibu puas?”
“Tak
ada kata puas dalam hidup ini. Dalam usiaku yang setengah abad, hanya
penderitaan yang kurasakan. Aku mahluk yang hina, aku telah tercerabut dari
harkatku sebagai manusia. Aku tahu, ribuan bahkan jutaan dosa telah bersemayam
di tubuhku. Dosa-dosa itu kubuat dengan
dendam dan trauma yang terus membayangi tiap langkah hidupku. Ya dosa yang
sangat menjijikkan untuk kukenang.”
“Tidak
demikian Ibu. Jangan kenang dosa-dosa itu lagi. Tuhan maha pengampun. Sehitam
apapun masa lalu Ibu, kau tetap ibuku.
Ibu yang kukasihi…”
***
Malam
sunyi, dingin menggigit, gemerisik dedaunan terdengar saling bergesek, kelepak kelelawar melayang terbang di hitamnya
cakrawala. Tahun ke lima puluh lima, bulan ke dua belas, hari ke tujuh, jam ke
sepuluh dan menit ke dua puluh, di atas pembaringan perempuan itu menghapus air
matanya. Semua telah berakhir, semua yang yang hitam tak selalu hitam, diary
itu ditaruh sang putera di sebuah kotak kayu tua berwarna coklat muda. Sang
putera kemudian membakarnya hingga menjadi abu yang semuanya juga berwarna
abu-abu…
Depok, Maret 2011
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
Novel yang mengharukan. Tapi ini bagus sekali.
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....