Aku hanya pandai bermain kata lewat tulisan, jika kau memendam rasa dan buntu untuk mengekspresikannya, kutunggu kisahmu bersama beragam imaji dengan ditemani desir angin pagi...

Translate

Category

Shoutbox

Popular Posts

Teman

Novelku Nanti

07 March 2013
Tidak ada yang aneh dengan dirinya. Dia perempuan matang, berusia lima puluh tahun, pekerja keras, pengurus rumahtangga yang hebat, sangat sayang pada dua anak laki-lakinya yang berangkat dewasa, selalu memenuhi semua kebutuhan mereka, sangat lembut, santun dalam bertutur kata, dan…cantik. Secara keseluruhan, dia bisa disebut ibu yang sempurna. Kejanggalan hanya akan terlihat bila mendengar dan membaca kisah kelam masa lalunya. Kisah yang secara perlahan terkuak dari sebuah diary kusam hitam yang tanpa sengaja terbaca oleh anak sulung perempuan itu.

Sang anak terkesiap, di ruang benaknya ia tak pernah menduga secuil pun bila kisah itu menjadi sedemikian dahsyat hingga menggetarkan jiwanya. Kisah itu sangat rinci dan lengkap, ditulis dengan  rapi, kalimat rata tanpa cacat. Tiap tanggal, jam, bulan, tahun, bahkan menit, tertera dengan jelas. Ada penuturan mengharu biru, gembira, trenyuh dan…binal. Ya, kata yang terakhir itu seharusnya tidak ditulisnya dengan gamblang dan jelas. Seharusnya perempuan itu mengubur sisi ini. Seharusnya kisah itu hanya kenangan yang disimpan rapat-rapat, cuma dia sendiri yang tahu.

Tapi ini tidak. Sang putera duduk terhenyak tatkala membaca baris demi baris kalimat yang ada di situ. Tiap kalimat bagai ribuan luka yang menganga yang siap menggempur pertahanan emosi siapa saja yang membacanya. Bahkan, ada bagian-bagian tertentu yang tak kuasa untuk dibaca puteranya. Buku diary itu benar-benar menjadi bom waktu, bom yang siap meletus kapan saja dan dibaca oleh siapa saja.

***
Awal  Juni di tahun saat perempuan itu remaja, di jam yang awal, menit yang ke sepuluh, dan bulan ke tiga, perempuan itu menuliskan kisah pilunya. Tulisan yang ditandai basahnya buku diary itu dengan air mata, benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang ia tampilkan pada puteranya. Di sana, di kamar yang sepi, di lorong waktu, tak ia nyana, ia diperkosa oleh sang paman, adik ayahnya. Pemerkosaan itu terjadi berulang-ulang, sehingga beberapakali ia menggugurkan kandungannya. Tatkala sang paman menikah, dan lelaki itu pindah ke kota besar, kisah mereka berlalu tanpa seorang pun tahu. Perempuan itu menyimpannya menjadi kenangan yang pekat dan teramat pahit.
Jakarta kota yang dituju tampaknya semakin dalam menyeruak ke diri perempuan itu. Pergaulan bebas dan narkoba mulai direguk. Merasa diri sudah tak bermakna, perempuan cantik berkulit bersih dengan gurat wajah ayu nan exotic, menggiring dirinya berkenalan dengan seorang pemuda Ambon peranakan China. Mereka memadu kasih, dan sang pemuda yang  ‘junkies’ memperkenalkannya pada heroin. Perkenalan ini pada akhirnya menggiring mereka menjadi ‘junkies’ bersama-sama, sang perempuan pernah over dosis dan menjadi bandar narkoba demi kekasihnya. Ketika si pemuda terdeteksi HIV lalu akhirnya meninggal, perempuan itu termenung dalam luka. Ia frustasi, ia kecewa dan hampir saja melarungkan dirinya dalam nestapa narkoba yang hampir tak tertahankan. Untung, ya masih untung ia selamat, begitu pun virus HIV, penyakit itu tidak bersarang di tubuhnya.
Kisah yang kelam dan pekat entah mengapa kembali dijalaninya. Masih dalam usia remaja, ia telah berpindah dari satu lelaki ke lelaki lain, bahkan ia sempat pula tinggal bersama seorang pria Jerman. Lelaki ini memeliharanya selama tiga tahun, dan selama tiga tahun itu ia telah menghasilkan satu anak laki-laki yang kemudian dibawa ‘suami’ Jermannya. 
Buku diary itu kian bergetar di tangan sang putera. Baris demi baris kalimat yang tertera di tiap halaman, bagai mata pisau yang siap menancap ulu hatinya. Air mata mengambang di mata pemuda itu. Lalu, antara percaya dan tidak, ia terus membuka halaman demi halaman, di ruang sanubarinya ada selaksa rasa ingin tahu yang bersemayam, ia semakin ingin mengikuti kisah yang ada di dalamnya.
Tahun ke lima, menit ke tiga puluh, jam ke dua, hari ke lima, bulan ke tujuh, perempuan itu hamil lagi. Usianya menginjak dua puluh tiga tahun. Entah berapa lelaki yang telah menidurinya, karena ia sendiri tak bisa menjelaskan siapa lelaki terakhir yang telah menanam benih di rahimnya. Kisah cinta singkat ini dijalaninya tatkala ia menjadi pengamen jalanan. Di sana, di lorong gelap stasiun kereta api, tatkala malam menjelang, ia digilir oleh para pengamen itu tanpa waktu yang jelas. Ia menjalani hidupnya di sana karena kabur dari rumah dan tak mau kembali lagi. Anak itu akhirnya diserahkan ke sebuah panti asuhan dan diangkat anak oleh sebuah keluarga yang tak diketahui keberadaannya.

Kisah kelam dalam diary kemudian berlanjut, ini terjadi di tahun ke tujuh, di waktu dan menit yang berbeda, dan bulan yang ke delapan, di saat perempuan itu berusia dua puluh lima tahun. Kekelaman dalam kisah yang tertera di diary itu tak sepekat dalam kisah-kisah sebelumnya. Perempuan itu berkenalan dengan seorang laki-laki tampan, bertubuh tegap, dengan rambut ikal yang lebat. Perkenalan singkat di sebuah klab malam lalu berlanjut. Laki-laki itu mengajaknya menikah, mengajak ia untuk lepas dari pekerjaannya sebagai penari telanjang dan menggiringnya ke altar untuk dinikahi.
Lima tahun mereguk kasih, hidup tenang dan terhindar dari hingar-bingarnya lampu-lampu spotlight, menjadikan perempuan ini jinak dan akhirnya ia melahirkan dua anak laki-laki yang tampan. Tepat di bulan ke sepuluh, di tanggal sepuluh, jam sepuluh  dan menit yang ke sepuluh, hampir lima tahun lebih pernikahan mereka, sang karma datang menghampiri dan merebut semua kebahagiaan dari tangan perempuan itu. Lelaki tampan yang menjadi suaminya direbut perempuan kelab malam nan elok, segar dan bertubuh bak gitar Spanyol. 
Perempuan itu kembali mengisi diarynya, kali ini bekas titik-titik air mata lebih tajam luruh ke permukaan buku diary itu, tetes air mata membuat beberapa huruf buyar. Dan si perempuan berjanji untuk tidak kembali ke jalan kelam yang dulu pernah ditempuhnya. Di tahun ke lima belas, di jam yang ke sepuluh, di menit yang ke sembilan, di bulan yang ke enam, ia menulis rencana-rencananya setelah sang suami terbang ke pelukan perempuan pesaingnya. Ia alih profesi, ia menjadi kuli cuci pakaian, pembantu rumahtangga jam-jaman, pedagang kue keliling dan pengasuh balita yang juga jam-jaman. Semua dilakukannya demi kedua anaknya. Perempuan ini tak mengeluh. Wajah cantiknya tersimpan dalam tempaan waktu dan masa yang berputar.

“Buku diary itu adalah saksi sejarah mengapa kulakukan semua ini.” Katanya pada anak lelakinya.      
“Bila waktu bisa diputar, aku ingin hidupku tidak begitu skenarionya. Aku ingin  melebur sisi gelap itu bersama rentang waktu yang dulu pernah kujalani.”
“Tapi waktu tak bisa diputar, Ibu.”
 “Ya, waktu tak bisa diputar. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Namun Ibu bahagia…”
“Bahagia?
 “Ya, Ibu bahagia karena memiliki kalian berdua.”

Namun anak lelaki perempuan itu masih penasaran. Ia belum terpuaskan, ia belum menemukan apa yang dicarinya. Pada bab terakhir, di tahun ke dua puluh lima, tepat di jam dua belas malam, pada bulan yang sama, di situlah jantung lelaki yang mulai tampil dewasa ini berpacu lebih cepat lagi.  Di situ tertera apa yang dicarinya. Di buku diary itu tertulis kisah luar biasa yang menjadi penyebab jalan hitam seluruh kisah hidup perempuan itu, perempuan yang dipanggilnya ibu…
***
 Tahun ke sembilan, tanggal lima, bulan ke lima, jam dua pagi, menit ke sepuluh. Aku melihat ayah memukuli Ibu habis-habisan, ibu berteriak minta tolong. Dari kamar yang tertutup, aku tidak tahu apa yang terjadi, suara lolongan permintaan tolong ibu terdengar hingga ke kamarku dan adik-adikku. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang. Ayah yang ringan tangan, pemabuk, suka main perempuan, dan memiliki beberapa perempuan simpanan, menjadikan ibu bagai sansak tinju pelampiasan rasa kesalnya. Kami menutup telinga, penyiksaan itu terus berlangsung selama bertahun-tahun. 

 Aku kesal. Ibu yang lemah semakin tak berdaya, ia sama sekali tak memiliki kekuatan untuk melawan ayah. Ia takut bila suatu saat ayah menceraikannya. Ya, aku tahu ibu sangat mencintainya. Ayahku yang tampan, pengusaha kaya dan memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja, adalah kekuatan yang sangat dahsyat dan tak bisa dilawan ibu. Aku geram, aku meradang. Kulihat ada ketidakadilan di sini. Ibu yang lemah, memberikan seluruh tubuh dan jiwanya untuk ditindas oleh laki-laki yang kupanggil ayah. Laki-laki yang menanamkan benih di rahim ibuku adalah manusia bertopeng yang sesungguhnya di dalam topeng itu tersimpan sesosok raut yang kejam dan sangat biadab.
Jiwaku terobek, batinku meronta. Aku berjanji untuk membalas semua derita ibuku dengan pukulan telak yang mencoreng-moreng  harga dirinya, martabatnya dan reputasinya. Seperti tulisan dalam diary-diary sebelumnya, di sana kulakukan semuanya, ya semuanya tanpa sisa. Kubuat malu ayahku, kujerat pamanku sendiri dengan rayuan nakalku hingga ia memerkosaku. Kubuat ayah tak berani menampakkan diri di muka umum, kubuat namanya tercemar sehingga ia menarik diri dari kehidupan masyarakat. Aku, puteri tertuanya, melakukan semua itu untuk membalaskan sakit hati ibu selama berpuluh-puluh tahun, kulakukan semua ini untuk membalas dendam jasad ibuku yang dibunuh ayah secara perlahan melalui psikis maupun jasmani.

 “Apakah kakek tahu semua ini?”
 “Ya. Ia terpuruk dalam derita yang diciptakan Ibumu dan dirinya sendiri.”
 “Sekarang, di mana Kakek?”
 “Di rumah sakit jiwa.”
 “Ibu puas?”
“Tak ada kata puas dalam hidup ini. Dalam usiaku yang setengah abad, hanya penderitaan yang kurasakan. Aku mahluk yang hina, aku telah tercerabut dari harkatku sebagai manusia. Aku tahu, ribuan bahkan jutaan dosa telah bersemayam di tubuhku.  Dosa-dosa itu kubuat dengan dendam dan trauma yang terus membayangi tiap langkah hidupku. Ya dosa yang sangat menjijikkan untuk kukenang.”
“Tidak demikian Ibu. Jangan kenang dosa-dosa itu lagi. Tuhan maha pengampun. Sehitam apapun  masa lalu Ibu, kau tetap ibuku. Ibu yang kukasihi…”
***
Malam sunyi, dingin menggigit, gemerisik dedaunan terdengar saling bergesek,  kelepak kelelawar melayang terbang di hitamnya cakrawala. Tahun ke lima puluh lima, bulan ke dua belas, hari ke tujuh, jam ke sepuluh dan menit ke dua puluh, di atas pembaringan perempuan itu menghapus air matanya. Semua telah berakhir, semua yang yang hitam tak selalu hitam, diary itu ditaruh sang putera di sebuah kotak kayu tua berwarna coklat muda. Sang putera kemudian membakarnya hingga menjadi abu yang semuanya juga berwarna abu-abu…


Depok, Maret 2011
           

1 comments:

Anonymous said...

Novel yang mengharukan. Tapi ini bagus sekali.