Translate
Tentang Aku
Arsip
-
▼
2013
(21)
-
▼
March
(21)
- Diary Hitam
- Duniaku
- Pak Guru Tarigan
- Cinta Imajiner
- Rumah
- Negeri Para Bandit
- Mimpi
- Dadong Kerti
- Isteri untuk Suamiku
- Luka Erika
- Ketika Ken Marah
- Kisah Tentang Cinta
- Perempuan itu Bernama Dada
- Kain Batik Ibu
- Tara
- Aku dan Cinta
- Juminten
- Aku Tidak Gila
- Rieka Roslan “The Groove” | Musik adalah Tari, Dra...
- Belis
- E-Mail dari Nina
-
▼
March
(21)
Shoutbox
Popular Posts
Blog Teman
Teman
Novelku Nanti
07 March 2013
Rumah
Oleh : Fanny J.Poyk
Seharusnya rumah itu bisa
menjadi ruang publik yang nyaman bagi siapa
saja yang kenal dekat dengan penghuninya. Tapi kali ini tidak. Meski
kesan simple dengan hawa sejuk bersumber
lewat semilir angin yang datangnya dari arah taman, kenyamanan yang dulu pernah
tercipta tetap saja tak terasa.
Kontur tanah bergelombang dan menurun di mana
rumah itu berdiri, sesungguhnya tidak mengurangi kecantikan bangunannya. Dari
kejauhan, rumah yang mirip villa dengan rona putih bercampur biru langit itu,
terlihat begitu natural. Ya, rumah itu meski indah dari kejauhan, dia berdiri
muram, dia sendiri tanpa teman, sendiri dengan beragam kisah yang pernah
terjadi di dalamnya.
“Kau ingin tinggal di
situ lagi?” tanya si anak remaja pada seorang gadis berusia empat belas
tahunan. Mereka menatap rumah itu dari luar pagar.
Yang ditanya menggeleng.
“Kenapa?”
“Terlalu menyakitkan,
Kak. Tiap sudut rumah itu serasa penuh
jiwa yang getir. Jiwa-jiwa yang dulu ada di dalamnya seolah memerhatikan ke
mana langkahku, apa saja yang aku lakukan, dan…”
“Dan apa?”
“Ada rasa sakit yang
tersisa di sana. Sangat sakit, aku terus mengenangnya, sampai kapan pun rasa
sakit itu tidak akan hilang.”
“Ya, aku juga bisa
merasakannya. Tapi sudahlah, masa yang pernah kita rasakan adalah masa yang penuh
dengan cerita. Biarlah itu kita simpan rapat-rapat dan kita jadikan kenangan
pahit yang tak perlu dikenang lagi. Aku harus kembali, hati-hati dan jaga
dirimu, Dik.”
“Kakak juga, kalau ada
apa-apa, telpon atau SMS aku ya!”
***
Dua
mahluk berlainan jenis, bediri di atas tanah berkontur dengan gelombang yang
tidak rata itu. Dua pohon mangga, satu pohon manggis memerhatikan kehadiran
mereka dalam bisu. Tak ada yang aneh di
situ, semua nyaris sempurna. Sepasang kekasih yang saling menyintai, yang satu
tampan dan satunya cantik. Kemesraan yang tercipta sangat alami, sealami cinta
yang telah mereka ikrarkan dalam bentuk pernikahan suci di depan altar. Mereka
saling berpelukan, saling meremas
jemari, sang pria memeluk pinggang wanita yang langsing berlekuk indah.
“Sayang,
kau suka bila kubangun rumah di atas tanah ini?” tanya si pria.
“Tentu
aku suka sayang. Aku percaya, kau pasti akan memberikan yang terbaik untukku.”
Sahut sang wanita.
“Ya,
di sini kelak akan lahir anak-anak yang cantik dan tampan. Di sini kerajaan
kecil kita akan tercipta.”
“Kita
pasti akan mereguk kebahagiaan di rumah ini,” bisik si wanita manja.
Sang lelaki kian
mempererat pelukannya. Semburat jingga di langit yang cerah menyinari wajah
mereka yang penuh rona bahagia. Rumah dengan banyak ruang terbuka dan berlantai
dua itu akhirnya berdiri kokoh.
Secara fungsional rumah
seluas 200 meter itu sangat akrab dengan penghuni dan para tamu. Penghuninya
adalah pribadi-pribadi yang terbuka, sehingga setiap tamu yang datang selalu
merasa betah berada di situ. Dua daun jendela berukuran lebar di pasang di
atas, udara yang masuk melalui daun jendela itu merayap perlahan menelisik ke
segenap ruang yang ada di bawah. Kesan hommy
begitu terasa, tiga pilar yang menyangga beranda diberi cat putih, dari
kejauhan, kesan rumah dengan gaya Spanyol begitu kuat. Rumah mungil itu, selalu menyedot perhatian bagi siapa saja
yang melewatinya. Di sana, di dalamnya bersemayam suami isteri yang bahagia, dua
anak yang tampan dan cantik. Rerimbunan pohon mangga dan manggis, tebaran bunga
mawar dan gantungan anggrek catleya serta anggrek bulan, kian menambah elok
penampilan rumah itu. Semua serba damai, semua serba sejuk, semua serba
harmonis, semua serba…
Keindahan
yang seharusnya terus terucap di penghujung waktu, berubah kelu. Dan rumah itu
akhirnya berbalut luka. Sepuluh tahun
menjalin mahligai rumahtangga yang bahagia, tercampakkan di bara api yang
meletup-letup. Bara api itu kian membesar. Menjilat-jilat tiap nafas yang ada
di dalamnya. Derai air mata, tangisan menyedihkan, tatapan mata anak-anak yang
ketakutan, dan lontaran-lontaran piring terbang serta bunyi gelas yang
dibanting, semuanya berpadu cepat bersama deru kata-kata makian yang terucap
dari sepasang suami isteri yang dulunya sangat saling menyinta.
Rumah
itu, ya rumah itu berdiri bisu, tiap sapuan cat yang menempel di dinding tak
lagi berwarna ceria. Semua tiba-tiba menjadi kusam, sekusam derai air mata dua
anak mereka yang setiap saat selalu menyaksikan pergolakan panas dua mahluk
yang dulu pernah bersatu, pernah berikrar bahwa di rumah itu akan tercipta
harmonisasi kehidupan dalam cinta dan kebersamaan.
“Kau
yang memulai semuanya, Mas. Perempuan itu ternyata berhasil mengalihkan
perhatianmu. Aku tidak bisa bertahan di sini, tak ada lagi cinta di sini.
Pergilah kau dengannya. Aku juga akan pergi dari sini!” tangis sang isteri
membasahi lantai dingin rumah itu.
“Kau
yang harusnya disalahkan. Sudah kubilang berkali-kali, jangan terlalu sibuk,
perhatikan aku dan anak-anak, tapi kau lebih asyik dengan organisasimu,
kumpulan teman-teman penulismu, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan
aktivitasmu. Kau lupa, kalau kau seorang ibu, ibu yang seharusnya memerhatikan
perkembangan anak-anak, memerhatikan suami. Mungkin ini sudah jalannya, perempuan itu
lebih segalanya darimu!”
“Kau
pandai berdalih, sejak dulu aku tahu kau memang mata keranjang. Seharusnya aku
tidak mudah tertipu oleh rayuan gombalmu. Kau tak lebih dari pecundang jantan
yang menebarkan benih di sembarang tempat. Kau sampah!”
“Kau
yang sampah. Aku tertipu olehmu. Setelah menikah baru kutahu beberapa lelaki pernah
mengecap tubuhmu. Kau tak perawan lagi. Kau perempuan murahan!”
“Kurangajar
kau, yang murahan itu kau! Kau penjahat kelamin!”
Lalu
adu jotos terjadi. Keesokkan harinya di wajah si isteri penuh tanda biru dan
lebam. Perpisahan, ya
perpisahan itu kemudian tercipta. Mereka membagi anak-anak yang lahir dari
sepuluh tahun pernikahan, yang perempuan
ikut sang isteri, yang laki-laki ikut si suami. Pembagian yang menurut mereka
adil, telah terjadi. Mereka tak pernah mendeteksi luka dalam yang tersimpan
pada sepasang anak yang mereka ciptakan. Mereka tak pernah peduli bahwa suatu
saat kelak, luka itu akan terus menganga dan berubah menjadi bumerang dendam
yang sungguh memilukan.
Begitulah, setelah
perceraian, sang mantan suami membawa anak laki-lakinya keluar dari rumah.
Bekas isterinya juga membawa anak perempuannya pergi. Ia ikut suami barunya
yang memberikannya sebuah rumah mewah di daerah elit dan mahal. Kakak beradik
itu berpisah. Rumah bercat putih nan sejuk itu, kian dingin dan sepi, tak ada
lagi penghuni yang mendiaminya. Perlahan-lahan, rumah itu kusam, sekusam warna
tembok yang mulai mengelupas.
***
“Seandainya
kita bisa bicara, betapa sedihnya hidup kita. Kau lihat, warna tembokku tak
lagi cerah seperti dulu.”
“Dulu
mereka membangunnya penuh cinta, tapi mengapa sekarang mereka
menghancurkannya?”
“Sia-sia
semua yang telah mereka bangun. Ego yang tercipta sekilas, berhasil menghapus
semua bahagia yang telah mereka bangun bersama-sama.”
“Coba
perhatikan, di tepian rel, di perkampungan kumuh, di etalase pertokoan, di
sudut-sudut terminal, manusia menyesaki tempat itu dengan lelap dan tanpa
beban. Tapi di sini, semuanya dibangun dengan sia-sia. Kita yang dibangun
berdasarkan fondasi yang kuat pun tak memberikan kenyamanan bagi mereka.”
“Yah…aku
rindu masa-masa bahagia itu. Aku rindu akan celoteh dua anak mereka yang
lucu-lucu. Sayang, semuanya terhapus oleh badai pagi yang muncul mendadak.
Kebahagiaan itu sirna bersama derai air mata.”
Tiga
pilar yang dibagun kokoh itu saling bertatapan. Dinginnya udara malam membuat
mereka ingin bertautan, ingin saling memeluk, namun mereka
tak bisa melakukannya. Mereka hanya dapat membisu, menyaksikan malam-malam sepi
yang setiap saat datang menyelimuti.
***
Mereka berjanji untuk bertemu di rumah itu lagi. Mereka berjanji untuk mengecat dan membersihkan seluruh ruangan yang
ada di rumah itu. Meski cinta telah pergi, mereka ingin membangkitkan kenangan
indah yang dulu pernah tercipta. Tiap jengkal langkah yang mereka lalui, dulu
pernah memberikan mereka sebuah rasa dan asa. Asa itu memang masih tetap ada,
mereka ingin menciptakannya di dalam rumah yang meninggalkan banyak kenangan
masa kecil.
“Kak, apakah mungkin Ayah dan Ibu bisa bersatu kembali menempati rumah
ini?”
“Kurasa
tidak. Mereka telah menjelma menjadi musuh yang saling membenci, mencengkeram
dan menjatuhkan.”
“Mengapa
cinta yang dulu menggebu begitu cepat sirna?”
“Entahlah,
barangkali dulu mereka tidak benar-benar saling menyintai.”
“Jika
benar demikian, mengapa mereka membuat kita ada?”
“Itulah
misteri cinta adikku, sampai sekarang aku pun tidak mengerti.”
“Kak, aku rindu masa kanak-kanak kita dulu.”
“Aku
juga.”
“Kalau
begitu, kita tinggalkan mereka, kita kembali ke rumah ini.”
“Suatu
saat mungkin bisa. Sekarang belum. Kita masih berada di bawah pengawasan
mereka. Nanti…ya nanti…setelah kita dewasa, kita tinggal bersama lagi di rumah
ini.”
“Kakak
janji, ya, kita tidak akan berpisah. Kita akan kembali ke rumah ini!” “Iya adikku, kita akan bersatu kembali.”
Rumah itu tersenyum. Pilar-pilarnya kian kokoh berdiri. Sepanjang cinta masih tersisa di sana, rumah akan selalu
hangat, sehangat sepasang remaja yang rindu tinggal kembali di sana. “Sampai jumpa, Dik. Minggu depan
kita bertemu di sini lagi. Kita kumpulkan mainan masa kecil yang masih
terserak!”
“Ya,
kita kumpulkan mainan-mainan kita agar benda-benda itu tidak tercerai-berai.”
Lalu,
di tikungan jalan keduanya berpisah, si remaja perempuan kembali ke rumah ibunya
dan sang kakak pulang ke tempat tinggal ayahnya. Rumah bergaya Spanyol itu
memerhatikan mereka dalam bisu.
***
Depok, April 2011
Labels:
Cerpen
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment
Terima kasih Commentmu kawan.Salam hangat berkawan....