Aku hanya pandai bermain kata lewat tulisan, jika kau memendam rasa dan buntu untuk mengekspresikannya, kutunggu kisahmu bersama beragam imaji dengan ditemani desir angin pagi...

Translate

Category

Shoutbox

Popular Posts

Teman

Novelku Nanti

07 March 2013

Mimpi

Oleh : Fanny J.Poyk

Entah kenapa, tengah malam, saya terjaga dari mimpi panjang yang menyeramkan. Dalam mimpi itu saya bertemu dengan Ujang, sahabat pengamen yang saya kenal kala bos saya memerintahkan untuk mencarinya. Waktu itu, bos melihat wajahnya terpampang di halaman depan koran ternama ibukota sedang meledek barisan polisi yang tengah berbaris mengamankan para demonstran yang menuntut dihapuskannya sistim outsourching di negeri ini. Ujang menari-nari sambil tertawa membawa bendera merah putih lusuh dengan telanjang dada.
“Cepat, kalian cari anak ini, dia kita jadikan cover depan. Kalau dapat, kalian akan memeroleh bonus sebulan gaji!” begitu perintah bos dengan kening berkernyit.
Saya dan teman-teman saling pandang. Berani benar si bos, pikir saya. Untuk ukuran tabloid hiburan, apalagi buat konsumsi remaja, wajah lusuh, tidak nice looking, tidak keren secara keseluruhan, tak elok untuk dipajang di halaman utama, mana bisa dilirik para teenagers. Bisa-bisa oplag tabloid runtuh. Saat ini merekakan sedang gandrung SMASH, Seven Ikon, atau Terry Bell. Dan ketika opini ini saya sampaikan, bos malah mendelik. “Sudah, jangan banyak argumen, kita harus cepat sebelum didahului majalah Time!”
Hayaa, majalah Time? Saya tertawa dalam hati. Kita mau bersaing dengan majalah internasional yang bertiras jutaan  eksemplar  lebih demi anak pengamen yang tidak dikenal itu? apa nggak salah? Pada akhirnya, seberapa besar rasa khawatir saya, tetap saja suara bos yang berkuasa, saya dan teman-teman harus mencari bocah yang berusia sekitar sembilan tahun  itu untuk dijadikan cover depan. Saya bersama dua orang teman dan satu fotografer, terjun ke lapangan. Sang teman fotografer berbekal kamera Nikon D.300 memori 400 giga dan lensa dengan zoom fokus 200 mili, berniat untuk mengambil sisi terbaik dari sang pengamen. Kami menjelajahi   Jakarta Kota hingga Depok. Pukul Sembilan malam, di lorong bawah tanah stasiun kereta listrik Jabotabek, kami menemukan dia tengah terlelap bersama para pengamen lainnya. Ketika kami bangunkan, anak itu mengusap-ngusap matanya, tubuhnya yang kurus, berbau tak sedap dan hidung yang penuh ingus, memandang saya dengan sorot ketakutan.
“Jangan tangkap saya, Pak. Saya janji, besok saya tidak tidur di sini lagi. Sungguh!” katanya serak.
Saya dan teman-teman menahan senyum. Kata kami, kami tak hendak menangkapnya, kami bukan Trantib, kami akan memotretnya, lalu membawanya ke kantor dan memberinya uang yang cukup banyak. Anak itu ternganga, teman-teman yang tidur di sampingnya spontan bangun.
“Apa? Uang yang banyak? Mauuu!” mereka berseru penuh semangat. Malam yang dingin, dengan hujan yang baru saja usai, memeriahkan lorong bawah tanah stasiun kereta listrik itu.  kami mengangkut anak itu dan teman-temannya ke kantor. Bau tak sedap segera memenuhi mobil operasional kantor yang ber-AC. Beberapa anak bahkan kentut di dalam. Dua teman saya menutup hidung. Seorang bahkan hampir muntah mencium bau busuk dari tubuh mereka.
“Namamu siapa?” tanya saya pada anak yang kami sedang cari-cari itu.
“Ujang.”
“Tinggal?”
“Nggak punya rumah. Tidur, ya di lorong stasiun itu.”
“Orangtuamu kemana?”
“Bapak dipenjara, bunuh orang, Emak nyabo, jarang pulang.”
“Kamu punya saudara?”
“Ada, adik udah dijual Ibu, Abang jadi preman di Tanah Abang.”
Teman-teman yang mendengar jawabannya tertawa cekikikan. Sedang saya dan teman-teman terkesiap, kami mencoba untuk memerhatikan bocah itu lebih jelas lagi. Kata-kata yang mereka ucapkan, sungguh membuat kami terkaget-kaget.
“Kamu nggak sekolah?”
“Udah tamat, cukup sampai kelas tiga SD aja. Nggak ada duit buat bayar uang sekolah. Yang penting udah bisa baca, Om.”
Teman-temannya kembali cekikilan.
“Kalian nggak pada mandi?” tanya teman saya.
            “Nggak, nggak ada duit. Di stasiun, mandi dua ribu, berak dua ribu, kencing seribu. Daripada bayar, mending buang air di pinggir rel, cepet kelindas kereta dan ancur hehe…”  sahut temannya yang disapa Dul.
            “Kita sudah sebulan nggak mandi. Biasanya, seminggu sekali berenang di kali Ciliwung. Tapi, minggu lalu kali banjir, kita takut tenggelam.” Sambung rekannya berkepala plontos,  penuh dengan bisul.
            “Mana sempat mandi, Om. Bos marahin melulu. Kemarin karena setoran kurang, kita disuruh nyabo.” Tambah Ujang.
            “Nyabo?”
            “Iya Om, jadi ayamlah, istilah kerennya PSK atau perek.”
            “Hah? Bagaimana bisa, kamu kan masih anak-anak. Lagian kamu laki-laki!” sambar rekan saya.
            Saya membisu. Mendengar para pengamen cilik itu terkekeh, hati saya bagai disayat sembilu. Imajinasi saya langsung mengembara ke berbagai arah. Usia anak-anak ini baru sembilan sampai sepuluh tahun. Mereka masih begitu kecil. Mereka pasti tak tahu bahaya yang ada di depan mata.
            “Semalem katanya elu dipake bang Joni. Berape elu dibayar?” tanya seorang anak yang disapa Jack.
            “Nggak gede, gue cuman disuruh ngisep doang. Dia ngasih gue dua ribu. Elo kagak diboolin?” sahut si kepala bisul.
            “Gue bilang, lagi nggak enak badan. Seminggu lalu pantat gue berdarah-darah pas disodok ama Bang Togar. Sakit.”
            “Gue juga udah nggak mau diboolin lagi, sakit banget Bro. Tapi bos kemarin marah-marah, gue cuman bisa ngasih lima ribu. Kemarin gue teler Bro. si Jun bagi gue PT, tapi gue tolak. Gue takut sakawnya parah. Gue lebih enak ngelem aja. Telernya gak parah-parah amat!”
            “Gue juga enakan ngelem. Eh, lu tahu nggak si Nani yang anak punk itu?”
            “Iye, kenape die?”
            “Kemarin mati di taman deket Menteng. Isi perutnya ilang.”
            “Ususnya maksud elo?”
            “Bukan, ginjal ama hatinya. Kata anak-akan punk yang gue kenal, dia diciduk sama orang nggak dikenal di deket taman. Trus dibawa masuk ke mobil sedan warna hitam. Besoknya, dia ditemukan dalam kardus dekat taman, perutnya terbuka dan ususnya keluar.”
            “Tapi yang lebih seru si Broni anak punk Kampung Mangga Bro. Dia nyolong pistol polisi tetangganya, trus anak-anak punk yang lain pada ngumpul nontonin dia main Rollet Rusia, itu yang pelurunya cuman satu trus pistol dikokang lalu ditempelin ke jidat. Kalau beruntung pelornya gak keluar, tapi kalau lagi apes, pelor yang ada di dalam pistol langsung menembus pelipis, si Broni kayaknya lagi apes, pelornya langsung nyamber jidatnya, ya bolonglah tuh jidat, dia koit mendadak, game oper!” anak-anak lain yang mendengar ocehan Jack tertawa terbahak-bahak.
            Saya tertegun, begitu juga dengan teman-teman saya. Ruang dalam mobil kian berbau tak sedap. Anak-anak itu mulai mengeluh sakit perut beberapa jam setelah kami mentraktir mereka makan fried chicken.
***
            Setahun berlalu, saya kembali ke lorong bawah tanah stasiun kereta listrik Jabotabek untuk menemui Ujang dan teman-temannya. Apakah mereka masih tidur di sana? Tanya saya dalam hati. Saya terus menelusuri lorong yang berbau pesing dan pengap itu. Ada rasa sesal di hati, mengapa baru sekarang saya menemuinya. Dulu usai dimandikan, diberi pakaian dan sepatu baru yang bagus, di bawa ke salon dan difoto, bos memberi mereka uang yang lumayan banyak. Karena tak punya tempat tinggal tetap, kami mengantar mereka kembali ke lorong stasiun, bos berpesan agar mereka datang lagi ke kantor, ia tengah membangun rumah singgah untuk mereka. Tapi setelah ditunggu-tunggu mereka tak pernah datang lagi.
Kini saya berdiri di ruang hampa, sendiri dan membisu. Anak-anak itu tak tampak.
            “Di mana anak-anak pengamen yang dulu suka tidur di sini, Bu?” Tanya saya pada seorang ibu-ibu pengemis yang duduk di situ.
            “Mereka udah pada mati.” Sahutnya ringan.
            “Mati?”
            “Iya, ada yang sakit panas dan bisul-bisul, ada yang pendarahan di pantat, ada yang isi perutnya diambil, ada yang…sakit ape tuh yang kagak bisa disembuhin? Oh itu, AIDS, ya AIDS!”
            “Siapa yang terkena AIDS?”
            “Si itu, aduh siapa tuh yang tampangnya pernah di tabloit…Ibu udah lupa namanya.”
            Kaki yang menjadi tumpuan saya berdiri hampir saja lemas dan tak berdaya. Dengan langkah limbung saya berjalan keluar dari terowongan. Sore itu langit berwarna jingga bercampur dengan sedikit dadu. Air mata membasahi pipi saya dan entah mengapa, dada saya tiba-tiba sakit, saya mengepal tangan sambil berkata geram, “Mengapa saya tak menemuinya sejak dulu, mengapa?” pertanyaan saya tak kan pernah terjawabkan. Dan itulah kisah tentang Ujang serta teman-temannya.
Mimpi saya yang menyeramkan itu masih samar-samar, di sana saya melihat puluhan anak jalanan menggelepar tak berdaya, beberapa orang mengangkut dan melempar mereka ke dalam truk. Lalu, mereka dimasukan ke sebuah kamar gas, di sana mereka menjerit, melolong dan akhirnya lamat-lamat suara mereka hilang.  Saya gemetar, duduk di tepi pembaringan, keringat dingin memenuhi tengkuk saya. Dan akibat mimpi itu, sampai pagi saya tak bisa tidur…

Catatan :
Bool : Anus
Sakaw : Teler akibat kehabisan narkoba
PT : Putaw
Nyabo/Perek/Ayam : Menjadi Perempuan Seks Komersial
Ngelem : Menghirup lem Aica Aibon yang dapat membuat seseorang teler, fungsinya seperti narkoba
Ngisep : seks oral melalui mulut
Sodok : Disodomi

Untuk para sahabat pengamenku di stasiun dan terminal Depok

0 comments: